Peristiwa

Guncangan Gempa M 5,0 Melanda Waikabubak, NTT; Getar Terasa sampai Labuan Bajo

×

Guncangan Gempa M 5,0 Melanda Waikabubak, NTT; Getar Terasa sampai Labuan Bajo

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gempa M 5,0 Guncang Waikabubak NTT Malam Ini, Getaran Terasa hingga Labuan Bajo

jurnalistik.co.id – Gempa berkekuatan magnitudo 5,0 mengguncang wilayah Waikabubak, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu malam, 12 Juli 2026.

BMKG menyampaikan bahwa getaran tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Lokasi dan waktu kejadian

Peristiwa terjadi pada pukul 20.20 WIB dengan statusnya sebagai gempa tektonik.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyebutkan episenter berada di darat sekitar 2 kilometer tenggara Wanokaka, NTT.

Secara koordinat, Wijayanto menyatakan, “Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 9,79° LS ; 119,39° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 2 km Tenggara Wanokaka, Nusa Tenggara Timur,”.

BMKG juga mencatat hiposenter berada pada kedalaman 36 kilometer.

Intensitas getaran yang dirasakan warga

Menurut analisis BMKG, guncangan terasa dengan intensitas IV MMI di Kota Waibakul dan Kota Tambolaka.

Pada skala tersebut, getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah, sementara sebagian lainnya merasakan guncangan dari luar.

Intensitas IV MMI juga dapat menimbulkan dampak seperti gerabah yang pecah, pintu dan jendela berderik, hingga dinding berbunyi.

Sementara itu, intensitas III MMI tercatat di Kota Waingapu dan Kota Labuan Bajo.

Pada kondisi ini, getaran terasa nyata di dalam rumah dan dinilai menyerupai truk yang sedang melintas.

Karakter gempa dan mekanisme penyebab

BMKG menyebut gempa yang mengguncang Waikabubak merupakan gempa dangkal berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya.

Hasil analisis lanjutan menunjukkan gempa dipicu oleh aktivitas subduksi dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust.

Dengan karakter tersebut, BMKG menilai peristiwa berlangsung tanpa indikasi awal yang mengarah pada ancaman tsunami.

Potensi gempa susulan dan respons awal

Hingga pukul 20.45 WIB, BMKG menyebut belum mendeteksi adanya gempa susulan (aftershock) setelah kejadian utama.

Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar tidak langsung terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

Imbauan BMKG

BMKG meminta warga tetap tenang dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa untuk mengurangi risiko bahaya.

Untuk informasi resmi, BMKG menyarankan masyarakat mengikuti kanal komunikasi terverifikasi, termasuk akun resmi BMKG dan kanal resmi lainnya yang disediakan melalui aplikasi InfoBMKG serta WRS-BMKG.

Hingga informasi tersebut disampaikan, fokus perhatian berada pada evaluasi dampak guncangan di beberapa wilayah NTT sekaligus pemantauan kemungkinan gempa susulan.

BMKG terus melakukan pembaruan berdasarkan hasil analisis seismik untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat.

Sejak gempa utama dilaporkan mengguncang Waikabubak pada Minggu malam, BMKG menempatkan peristiwa ini dalam kategori gempa tektonik dengan magnitudo 5,0. Dengan mempertimbangkan posisi episenter serta kedalaman hiposenter, otoritas cuaca dan kebumian menilai situasi tetap berada pada level yang tidak mengarah pada ancaman tsunami.

Perbedaan tingkat guncangan tercermin dari sebaran intensitas yang dicatat BMKG. Di Kota Waibakul dan Kota Tambolaka, getaran mencapai intensitas IV MMI sehingga getaran bukan hanya terasa, tetapi juga meninggalkan sejumlah indikasi fisik seperti gerabah yang pecah, pintu dan jendela yang berderik, hingga dinding yang ikut berbunyi. Sementara itu, di Kota Waingapu dan Kota Labuan Bajo, intensitas III MMI membuat getaran tetap terasa namun dengan efek yang lebih terbatas.

Berdasarkan hasil analisis lanjutan, BMKG menyebut gempa berkaitan dengan aktivitas subduksi. Mekanisme yang dimaksud adalah pergerakan naik atau thrust yang menjelaskan bagaimana guncangan dapat dirasakan dari jarak tertentu. Karakter gempa yang termasuk dangkal turut menjadi pertimbangan utama mengapa tidak ada indikasi awal yang mengarah pada potensi tsunami.

Di bagian pemantauan, BMKG menyampaikan bahwa hingga pukul 20.45 WIB belum terdeteksi adanya gempa susulan setelah kejadian utama. Meski demikian, perhatian publik tetap diarahkan pada perkembangan pemantauan seismik, termasuk kemungkinan aftershock, sambil menunggu pembaruan informasi resmi.

Untuk mitigasi risiko, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi. Warga juga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa agar mengurangi potensi bahaya. Sebagai rujukan, BMKG menyarankan pemantauan melalui kanal resmi, termasuk akun resmi BMKG serta aplikasi InfoBMKG dan WRS-BMKG, sementara BMKG terus melakukan pembaruan berbasis hasil analisis seismik.