jurnalistik.co.id – Sejumlah pengunjung Jakarta Fair 2026 di kawasan JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, mengeluhkan sulitnya mendapatkan tempat parkir. Mereka menilai antrean dan kepadatan membuat proses masuk hingga menemukan ruang parkir memakan waktu panjang.
Dalam pengamatan di lokasi pada Minggu (12/7/2026), keluhan itu muncul saat kendaraan mencoba mengakses area parkir dan loket pembayaran. Banyak pengunjung memilih untuk terus berkeliling di sekitar titik parkir karena tidak segera menemukan ruang kosong.
Akmaludin (43) menceritakan bahwa ia sudah lebih dulu masuk ke area parkir melalui Gate 6B sekitar pukul 15.00 WIB. Namun, untuk mencapai loket pembayaran parkir saja ia harus menghadapi antrean kendaraan yang mengular hingga menghabiskan waktu sekitar 40 menit.
“Dari awal datang menuju tempat tap in atau loket karcis parkir saja sudah antre kendaraan. Mobil semua yang masuk dari awal ngantre ke petugas loketnya aja 40 menit,” kata Akmal kepada Kompas.com.
Setelah berhasil melewati tahap awal, Akmal kembali menghadapi masalah lain. Menurutnya, seluruh area parkir yang ia datangi sudah penuh, sehingga ia harus berputar berulang kali sebelum akhirnya menemui kebuntuan.
Ia mengaku sudah tiga kali memutar kembali untuk mencari ruang kosong, tetapi tidak juga menemukan tempat parkir. Kondisi itu membuat gerak kendaraan cenderung tidak efektif karena harus sering berhenti.
“Sudah tiga kali balik, itu juga jalannya gas rem, gas rem, enggak ada yang kosong,” ujarnya.
Karena tidak kunjung menemukan lokasi yang bisa digunakan, Akmal kemudian meminta bantuan petugas parkir. Ia mengatakan pintu akses dibukakan dan diarahkan ke Gate 1, tetapi setelah diarahkan ke titik itu situasinya tetap sama.
“Saya bilang ke petugas parkirnya enggak bisa parkir. Dibukain pintu dan disuruh ke Gate 1. Tapi sama saja. Nyerah deh,” katanya.
Kepadatan juga disampaikan Charles (45). Menurut dia, arus kendaraan yang padat membuat mobil hanya bisa bergerak perlahan, sehingga waktu untuk mencari tempat parkir menjadi jauh lebih lama dibanding yang diperkirakan.
“Padet. Semua orang tumpah pada ke sini. Mobil bener-bener ngerem terus kaga jalan-jalan,” kata Charles.
Berita Terkait
Keluhan yang sama pada akhirnya mendorong sebagian pengunjung untuk mengubah rencana. Salah satunya adalah Sam (31) yang memilih keluar dari area parkir resmi JIExpo setelah gagal mendapatkan tempat.
Sam menceritakan bahwa ia tetap mencari solusi meski sudah membayar tarif parkir di JIExpo sebelumnya. Ia akhirnya memarkirkan kendaraannya di area K-Mall, meski tiket atau pembayaran awal telah dilakukan di lingkungan JIExpo.
“Saya akhirnya memarkirkan kendaraannya di area K-Mall meski sebelumnya sudah membayar tarif parkir di JIExpo,” demikian yang disampaikan Sam dalam penjelasannya.
Situasi tersebut, menurut para pengunjung, menunjukkan bahwa proses parkir tidak berhenti pada tahap antrean masuk. Ketika kendaraan sudah berada di area parkir, ruang yang tersedia tetap terbatas, sehingga kendaraan sulit memperoleh posisi dan terus bergerak dalam lingkar pencarian.
Dalam kondisi seperti itu, waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan awal—menonton, berkunjung ke stan, atau mengikuti kegiatan di pameran—berpotensi terpotong oleh kebutuhan mengantre dan berputar. Pengunjung juga harus menanggung ketidakpastian karena meski berpindah titik, peluang menemukan ruang kosong belum tentu ada.
Selain antrean di loket, keluhan lain yang menonjol adalah pola pergerakan kendaraan yang berulang. Dari cerita Akmal, misalnya, kendaraan sempat mengalami proses “gas rem” karena tidak ada kepastian tempat yang dapat dipakai. Charles menambahkan bahwa kepadatan membuat mobil terus berhenti dan sulit melaju dengan lancar.
Di sisi lain, pilihan keluar dari area resmi menjadi jalan keluar bagi sebagian orang ketika pencarian tidak membuahkan hasil. Pengalaman Sam menggambarkan bahwa pengunjung dapat menghadapi dilema: melanjutkan putaran pencarian di area parkir yang penuh, atau mencari alternatif lokasi di luar.
Secara keseluruhan, keluhan pengunjung pada Jakarta Fair 2026 menyoroti tantangan aksesibilitas di jam kunjungan ramai. Mereka berharap proses parkir bisa berjalan lebih jelas dan tidak memaksa kendaraan berpindah-pindah gate atau berputar berkali-kali sebelum akhirnya memperoleh tempat.
Upaya pengunjung mencari solusi di lapangan
Di tengah kepadatan, upaya yang dilakukan pengunjung beragam. Sebagian bertahan hingga menemukan titik yang memungkinkan, sementara yang lain meminta arahan petugas. Akmal memilih meminta bantuan petugas dan diarahkan ke Gate 1, tetapi tetap menemui kondisi penuh, sehingga ia akhirnya menyerah.
Charles menilai kepadatan membuat pergerakan kendaraan makin terhambat, sedangkan Sam memilih langkah lebih tegas dengan keluar dari area parkir resmi setelah gagal mendapatkan tempat. Cerita-cerita tersebut memperlihatkan bahwa masalah parkir tidak hanya terkait antrean masuk, tetapi juga ketersediaan ruang di area yang dituju.
Bagi pengunjung, situasi seperti ini bisa memengaruhi kenyamanan kunjungan sejak awal. Ketika antrean dan kepadatan terjadi berlapis, mereka harus mengatur ulang waktu, tenaga, dan rute menuju lokasi pameran. Pada akhirnya, pengalaman menemukan parkir—atau tidak—menjadi penentu kelancaran hari kunjungan di Jakarta Fair.












