jurnalistik.co.id – Koresponden luar negeri BBC yang selama lebih dari setengah abad menulis dari berbagai belahan dunia, David Willey, meninggal dunia pada usia 93 tahun.
Willey dikenal luas berkat liputannya di Vatikan, tempat ia menjadi koresponden BBC untuk urusan kepausan dan mengikuti perjalanan lima paus sepanjang kariernya. Ia juga pernah melaporkan dari kawasan lain, termasuk Algeria, Vietnam, dan China.
Dalam kenangan kolega sesama jurnalis BBC, Willey digambarkan sebagai figur yang sangat memahami ritme kerja Vatikan sekaligus bersikap hangat. Mark Lowen, koresponden dan presenter BBC, menulis bahwa Willey “adalah otoritas yang luar biasa soal Vatikan, meliput dan bepergian bersama lima Paus, serta begitu baik—memberi saya wawasan dan dorongan saat saya memulai tugas di Roma pada 2019.”
Perjalanan karier Willey dimulai saat ia menjadi trainee di Reuters. Dari masa awal itu, ia turut meliput proses penandatanganan Treaty of Rome pada 1957—dokumen yang menetapkan European Economic Community dan menjadi fondasi bagi apa yang kemudian dikenal sebagai European Union.
Pada peringatan 50 tahun treaty tersebut, Willey menuturkan pengalamannya secara rinci. “Saya benar-benar ada di ruang besar yang dindingnya dipenuhi lukisan dinding adegan pertempuran Romawi kuno, ketika enam pendiri ‘Europe of the Six’ berjas resmi menandatangani Perjanjian Roma,” tulisnya. Ia menambahkan, “Ruang itu penuh sesak dengan anggota parlemen dan otoritas kota, dan—kalau saya tidak salah ingat—ada satu kardinal berkepala merah dari Vatikan.”
Setelah bekerja sebagai freelancer di Algeria, Willey bergabung menjadi koresponden BBC untuk Afrika Timur pada 1964. Ia kemudian melaporkan dari berbagai tempat di Asia, termasuk liputan tentang Perang Vietnam, serta mengikuti perkembangan di China setelah revolusi komunis.
Berita Terkait
Meski demikian, ingatan paling kuat tentang Willey tetap melekat pada puluhan tahun peliputannya di Roma. Ia menjadi rujukan penting dalam liputan kepausan lima paus, dan salah satu tugasnya yang paling menonjol adalah upaya pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II pada 1981.
Pada tahun terakhir sebelum ia wafat, Willey bertemu paus kelimanya, yakni Paus Leo yang baru terpilih. Dari pengalaman panjang itu, ia juga menilai perubahan yang terjadi di Vatikan pada masa Paus Francis, termasuk bagaimana lembaga tersebut berkembang seiring pergantian kepemimpinan.
Dalam refleksinya setelah meninggalnya Paus Francis, Willey menuliskan bahwa ia menyadari usianya dan rentang hidupnya bersentuhan dengan banyak masa kepausan. “Saya baru menyadari, dengan rasa kaget, bahwa saya ternyata sudah tidak hanya empat tahun lebih tua dari Paus Francis yang wafat, tetapi hidup saya kini berlangsung melalui tidak kurang dari delapan masa pemerintahan kepausan yang berurutan,” tulisnya.
Willey juga menulis sebuah buku tentang Paus Francis berjudul The promise of Francis: The man, the Pope, and the challenge of change, yang ia persembahkan kepada Francis pada 2016. Selain itu, ia mendapatkan penghargaan OBE atas jasanya dalam dunia jurnalisme penyiaran.
Dalam tulisan lain pada periode awal kariernya, Willey mengingat bagaimana ia mulai meliput Vatikan untuk Reuters pada dekade 1950-an. Ia menulis bahwa redaksi “bergantung pada seorang pejabat Vatikan yang korup untuk memperoleh teks pidato kepausan penting sebelum pidato itu disampaikan.” Willey juga menceritakan tugasnya pada hari Minggu Paskah: “Pekerjaan saya adalah naik bus menuju kafe di seberang pintu masuk utama para pekerja di Vatikan City pada pukul delapan pagi, untuk diam-diam mengambil dokumen yang telah diselundupkan.”
Menurut laporan, David Willey meninggal karena gagal jantung di Italia, negara yang ia jadikan rumah. Hingga akhir hayatnya, ia tetap tajam dalam analisis, dermawan dalam waktu, dan menjadi sumber berharga bagi para jurnalis yang datang setelahnya.












