Entertainment

Satu Tahun Kenang Ozzy Osbourne, Sharon Minta Fans Putar Musik Setinggi Mungkin

×

Satu Tahun Kenang Ozzy Osbourne, Sharon Minta Fans Putar Musik Setinggi Mungkin

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sharon remembers Ozzy Osbourne one year on from his death

jurnalistik.co.id – Setahun setelah kepergian Ozzy Osbourne, Sharon Osbourne memakai momen itu untuk mengajak para penggemar melakukan hal sederhana namun bermakna: menghidupkan musik dengan volume setinggi mungkin.

Dalam wawancara untuk BBC yang dilakukan tepat pada tanggal anniversary wafat suaminya, Sharon menyampaikan pesan agar ingatan tentang Ozzy terasa lewat suara, bukan sekadar ucapan. Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan yang selalu melekat pada Ozzy—bergerak dan “headbang”—adalah cara untuk merayakan sosok tersebut.

“Play music loud to remember Ozzy,” kata Sharon. Menurutnya, sebagai Ozzy sendiri akan berkata, ketika ingin mengenang, orang cukup menaikkan musik “really loud”, “as loud as you can get it”, lalu “just head bang”.

Sharon menuturkan bahwa ia ingin publik benar-benar mengingat sisi Ozzy yang paling manusiawi. Ia menyebut Ozzy sebagai pribadi yang “funny and charismatic and real”, dan mengajak fans untuk meresapkan karakter itu saat mengenang.

Pada hari Rabu, Sharon berada di Birmingham—kota yang menjadi tempat lahir Ozzy—saat kota tersebut menyiapkan perayaan Ozzy Day yang pertama. Acara itu dihelat sebagai perayaan gratis untuk Black Sabbath frontman yang dibesarkan di kawasan Aston.

Ia mengingat Ozzy sebagai sosok yang apa adanya. “He was authentic,” ujarnya, seraya menekankan bahwa suaminya “never tried to be anything other than what he was”. Sharon menambahkan bahwa Ozzy juga dikenal berterus terang soal banyak hal, sehingga orang selalu tahu posisi dan arah hubungan dengannya.

Dalam benak Sharon, keaslian itu juga terasa dari cara Ozzy bercanda. “He was just genuine, so genuine and funny,” kata Sharon, yang menggambarkan bahwa bahkan bila pertengkaran terjadi, ujungnya tetap tawa karena Ozzy sering melontarkan sesuatu yang sangat konyol.

Ozzy Osbourne, yang akrab disapa—meski dengan julukan yang terdengar gelap—sebagai “The Prince of Darkness”, meninggal pada 22 Juli tahun lalu. Usianya 76 tahun, dan dalam perjalanan kesehatannya ia sempat mengalami sejumlah masalah kesehatan sebelum didiagnosis Parkinson pada 2019.

Sharon mengaitkan kenangannya dengan momen-momen menjelang akhir. Ia menyebut bahwa Ozzy meninggal kurang dari tiga minggu setelah penampilan bandnya di konser perpisahan “Back to the Beginning” yang berlangsung di Villa Park.

Konser tersebut, seperti disampaikan Sharon, juga menjadi wadah dukungan untuk tiga lembaga amal. Dana dari acara itu ditujukan kepada Cure Parkinson’s, Acorns Children’s Hospice, dan charity Birmingham Children’s Hospital.

Sharon menyampaikan bahwa dukungan untuk amal-amal tersebut bukan sesuatu yang berhenti begitu acara selesai. Ia mengatakan kepada BBC bahwa bantuan bagi mereka “something that will go on”, dan mereka berniat melanjutkannya sampai menemukan obat untuk Parkinson, seraya menilai bahwa banyak orang belum sepenuhnya menyadari betapa kondisi tersebut semakin luas.

Di waktu yang berdekatan, Sharon juga memuji pekerjaan Acorns yang ia kunjungi pada hari Selasa. Ia menambahkan detail yang bersifat personal: saat Ozzy masih kecil, rumah sakit menangani Ozzy yang saat itu menderita whooping cough selama enam minggu.

Sharon menyimpulkan gambaran Ozzy sebagai sosok yang “real bloke”, dengan hati yang besar, dan keinginan untuk memberi kembali. Ia menggambarkan bahwa kedekatannya dengan komunitas dan cara Ozzy menolong orang-orang membuat sosok itu terasa dekat, bahkan setelah tidak lagi bersama.

Selain mengenang, Sharon juga menyatakan harapan untuk masa depan perayaan Ozzy Day sebagai bagian dari warisan sang musisi. Ia menyebut Birmingham sebagai rumah bagi metal, menyatakan bahwa itu “Ozzy’s home”—tempat ia dilahirkan, tempat ia mencintai segala sesuatu, dan bahwa Ozzy Day “wouldn’t work anywhere else”.

Dalam pandangan Sharon, Ozzy bukan hanya berasal dari kota itu, melainkan juga mencintainya secara nyata. “He loved this city, he loved its people,” kata Sharon, dan ia menambahkan bahwa Ozzy bangga menjadi seorang Brummie.

Di sela pesan yang dibawanya, Sharon juga menghidupkan kembali ingatan tentang acara setahun sebelumnya. Ia menggambarkan konser “Back to the Beginning” yang kala itu turut menampilkan Metallica, Guns N’ Roses, dan Slayer sebagai “beautiful”.

Menurut Sharon, momen tersebut akan terus melekat pada keluarganya. Ia mengatakan itu sesuatu yang keluarga, termasuk cucu-cucunya, dan anak-anaknya, “will never forget”, terutama karena limpahan cinta dan rasa hormat yang hadir untuk Ozzy terasa sangat berarti baginya.

Ia juga menekankan dampak yang melampaui batas tempat. Sharon menyebut bahwa ungkapan dukungan itu “went all over the world”, dan orang-orang dari berbagai belahan dunia menulis kepadanya serta menyampaikan bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang indah.