Peristiwa

Berusia 98 Tahun, Bill Kober Masih Lakukan 40 Push-Up Setiap Hari

×

Berusia 98 Tahun, Bill Kober Masih Lakukan 40 Push-Up Setiap Hari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'I'm 98 but I still do my 40 press-ups every day'

jurnalistik.co.id – Bill Kober, warga Woodbridge, Suffolk, membuktikan usia bukan penghalang untuk tetap aktif. Di usia 98 tahun, ia mengaku rutin melakukan 40 press-up setiap hari tanpa gagal.

Ia memulai dengan 20 kali pada pagi hari, lalu melanjutkan 20 kali lagi pada sore atau malam. Baginya, yang penting adalah konsistensi, bukan sekadar mengejar angka dalam satu kesempatan.

Rutinitas dan alasan Bill mempertahankan latihan

Dalam percakapannya, Bill mengatakan bahwa selama bertahun-tahun belakangan ia baru menyadari kemampuan yang ia miliki. “Only in my later years have I realised that I’ve got this ability, and so I do it because I’m able to and, as they say, use it or lose it, and I don’t want to lose it,” ujarnya.

Ia menegaskan tujuannya sederhana, agar tubuhnya tetap siap beraktivitas. “I want to be as fit as I can be,” katanya, sambil menempatkan latihan sebagai cara untuk menjaga kebugaran.

Bill juga menyebut ia menyukai Pilates dan baru-baru ini menguasai pose “crow”. Menurutnya, aktivitas fisik yang ia lakukan bukan sekadar olahraga sesekali, melainkan bagian dari rutinitas yang terus ia rawat.

Kunci teknik push-up versi Bill

Pada saat ditanya mengenai hal utama agar push-up bisa dilakukan dengan baik, Bill menyoroti detail yang ia anggap menentukan. “A good straight back which gives you a nice tight buttock,” katanya.

Ia kemudian memberikan ilustrasi yang spesifik: “If I stuck £20 note in between your buttocks, you’ve got to grip over it so that no-one can take it.” Pernyataan itu menggambarkan penekanan pada punggung yang lurus dan pengencangan area bokong agar gerakan lebih terkontrol.

Dengan cara pandang demikian, Bill menempatkan kualitas gerakan sebagai fondasi latihan. Ia tidak hanya menghitung repetisi, tetapi juga mengutamakan bentuk tubuh saat menekan dan mengangkat badan.

Pedoman aktivitas fisik juga menekankan bahwa kebiasaan bergerak memiliki manfaat besar bagi kesehatan. Menurut NHS, orang dewasa usia 65 tahun ke atas seharusnya aktif setiap hari dan melakukan aktivitas yang meningkatkan kekuatan, keseimbangan, serta kelenturan setidaknya dua hari dalam seminggu.

NHS juga menyebut kebutuhan waktu aktivitas minimal: setidaknya 150 menit aktivitas dengan intensitas sedang per minggu, atau 75 menit aktivitas intensitas tinggi per minggu, misalnya berenang, terutama bila seseorang sudah terbiasa aktif. Dalam konteks pencegahan, latihan teratur dapat menurunkan risiko penyakit serius seperti coronary heart disease, stroke, dan cancer, serta mengurangi risiko kematian dini hingga 30%.

Meski begitu, Bill tidak menempatkan olahraga sebagai prioritas yang dipilih secara akademis. Ia justru melihat aktivitas fisik sebagai sesuatu yang sudah mengalir dari latar hidupnya.

Aktif sejak muda, dipengaruhi pekerjaan bertahun-tahun

Bill mengakui bahwa latihan fisik “never been important as such” baginya, namun ia tetap bergerak karena kebiasaan yang terbentuk dari pekerjaan. Ia merinci perjalanan hidupnya mulai dari masa awal: ia menghabiskan dua tahun di Angkatan Darat.

Setelah itu, ia bekerja di bidang pembangunan, mengembangkan rumah-rumah dalam pekerjaannya. Kemudian, ia menjalani 28 tahun—sebagian besar kariernya—di sebuah pabrik.

Di sepuluh tahun terakhir masa kerja, pekerjaannya berubah menjadi lebih santai namun tetap melibatkan aktivitas harian. Ia menjadi pengemudi bus yang mengantar siswa ke dan dari sekolah di Ilford.

Bill tidak mengaku mengikuti program olahraga secara disiplin, tetapi ada usaha mencoba beberapa jenis latihan. Ia menyebut, “I’ve never followed it religiously, but I dabbled in a little bit of weight training and I tried running, although I didn’t like that very much.”

Ia lalu kembali pada pilihannya sendiri yang paling sesuai dengan tubuh dan kenyamanannya. “But doing press-ups is what is keeping me breathing well,” katanya.

Ia menjalankan latihan hingga batas kemampuan. “I do it until I can’t do any more. And then I get up and relax, and that’s it,” ujar Bill, menggambarkan akhir latihan yang memberi ruang pemulihan.

Perjalanan hidup Bill Kober dari Mile End hingga Woodbridge

Di balik rutinitas latihan, ada cerita panjang yang membentuk cara Bill memandang hidup. Ia menikah dengan istrinya lebih dari 75 tahun, dan ia lahir di Mile End, London timur.

Selama Perang Dunia II, ia dan keluarganya dievakuasi ke Cotswolds bersama saudara-saudaranya. Bill memandang masa itu sebagai bagian penting dalam hidupnya. “In hindsight, it was the best two and a half years of my life,” katanya.

Ia menambahkan bahwa ia merasa nyaman tinggal di pedesaan. “I really took to the place and I became a country boy,” ujarnya, karena ia berada jauh dari situasi perang dan tidak menyukai London.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa berada di lingkungan pertanian bersama hewan menjadi daya tarik tersendiri: “I was away from the war as such, and I disliked London, so going away into the country and being on a farm and handling animals appealed to me.”

Saat ini Bill menikmati kehidupan yang tenang di Woodbridge. Ia berpartisipasi sebagai relawan di pusat komunitas Long Shed dan membuat benda-benda kerajinan, termasuk penanda buku marquetry serta papan catur Viking.

Ia baru merayakan ulang tahun ke-98 dan menyatakan harapannya bisa terus melakukan press-up saat mencapai usia 100. “The key to long life is getting good genes,” katanya, lalu menegaskan bahwa ia merasa faktor keturunan yang baik bekerja bersamanya. “I’ve had good genes passed down to me, and obviously they’re working well,” tuturnya.