Otomotif

Bio Solar untuk Diesel Modern: Lebih Murah, Tapi Berisiko untuk Mesin

×

Bio Solar untuk Diesel Modern: Lebih Murah, Tapi Berisiko untuk Mesin

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mobil Diesel Modern Sebaiknya Hindari Pakai Bio Solar, Ini Alasannya

jurnalistik.co.id – Penggunaan bio solar pada mobil diesel modern kian menarik karena harganya sering dianggap lebih ramah di kantong dibanding diesel nonsubsidi. Namun, sejumlah bengkel spesialis mengingatkan bahwa bahan bakar berbasis bio ini dapat membawa konsekuensi teknis bila dipakai terus-menerus.

Berdasarkan penjelasan Muchlis, pemilik Garasi Auto Service Sukoharjo yang menangani beragam merek termasuk Toyota dan Mitsubishi, perhatian utama ada pada kandungan sulfur dalam bio solar. Ia menilai, pada kondisi tertentu, sulfur yang tinggi berpotensi menimbulkan masalah pada sistem bahan bakar dan juga sistem emisi kendaraan.

“Kandungan sulfur tinggi bisa sampai 2.500 ppm. Sulfur dapat mengotori injektor mesin diesel modern dan sistem penyaringan emisi (catalytic), yang dapat menurunkan kemampuan mesin dan berpotensi menimbulkan kerusakan,” kata Muchlis kepada Kompas.com, belum lama ini.

Menurut Muchlis, mesin diesel modern dirancang dengan komponen presisi yang sangat bergantung pada kebersihan aliran bahan bakar. Ketika bio solar dipilih sebagai konsumsi harian, kotoran yang berawal dari efek sulfur dapat mempercepat proses pengotoran pada bagian-bagian sensitif.

Akibatnya tidak selalu langsung terasa pada awal pemakaian. Tetapi, dalam jangka pemakaian yang berkelanjutan, performa yang menurun dan risiko kerusakan pada komponen terkait emisi menjadi perhatian yang tidak bisa diabaikan.

Sulfur tinggi: injektor dan catalytic menjadi titik yang rentan

Dalam penuturan Muchlis, efek sulfur tidak berhenti pada injektor semata. Ia menegaskan bahwa sulfur juga berkaitan dengan sistem penyaringan emisi yang menggunakan catalytic, sehingga pengotoran dapat terjadi pada jalur yang sama-sama penting untuk menjaga performa dan kepatuhan emisi kendaraan.

Ketika proses penyaringan emisi terganggu, mesin berpotensi tidak bekerja pada kondisi optimal. Pada situasi yang lebih buruk, ini dapat berkembang menjadi kebutuhan perawatan lebih sering, bahkan pada kondisi tertentu berujung pada kerusakan.

Muchlis menggambarkan bahwa peringatan ini relevan terutama bagi mobil diesel modern yang memakai sistem bahan bakar dan emisi dengan standar kerja lebih ketat. Dengan kata lain, semakin modern perangkatnya, semakin besar pula dampak bila kualitas bahan bakar tidak sesuai.

Jika terpaksa: jadikan sementara dan perkaya perhatian pada filter solar

Meski demikian, Muchlis tidak menutup kemungkinan bio solar dipakai. Ia menyebut bio solar masih bisa digunakan apabila situasinya benar-benar darurat, ketika pilihan bahan bakar lain tidak tersedia.

Dengan skenario seperti itu, yang harus lebih dijaga adalah perawatan komponen pendukung, terutama filter solar. Filter solar berfungsi menyaring kotoran dari bahan bakar sebelum masuk ke sistem yang lebih sensitif di dalam mesin.

Muchlis menekankan pentingnya penjadwalan penggantian filter sesuai kualitas bahan bakar yang digunakan. Jika mobil menggunakan BBM kualitas rendah dan terpaksa memakai bio solar, ia menyarankan agar filter solar diganti lebih sering, bukan menunggu jeda normal seperti untuk BBM yang lebih baik.

“Bila terpaksa pakai BBM kualitas rendah, sebisa mungkin rajin ganti filter solar, bila anjuran dari bengkel tiap 30.000 Km untuk BBM bagus, maka untuk kualitas rendah bisa tiap 5.000 – 10.000 Km,” ucap Muchlis.

Dari kalimat itu, terlihat bahwa pendekatan yang disarankan bukan sekadar “boleh atau tidak boleh”, melainkan bagaimana kendaraan diperlakukan saat kualitas bahan bakar tidak ideal. Dalam kerangka tersebut, penggantian filter menjadi langkah preventif agar injektor dan bagian lain tidak menerima beban pengotoran lebih cepat.

Dengan demikian, bio solar sebaiknya diposisikan sebagai alternatif sementara, bukan pengganti permanen bahan bakar diesel yang spesifikasinya sesuai untuk mobil diesel modern. Ketika kendaraan dipakai sebagai kebutuhan harian, keberlangsungan performa mesin dan umur komponen menjadi pertimbangan yang harus ditempatkan di atas faktor harga semata.

Prinsip paling aman, menurut Muchlis, tetap memakai bahan bakar dengan spesifikasi yang sesuai. Namun apabila keadaan memaksa, penggantian filter solar secara lebih rapat menjadi kunci agar dampak yang berkaitan dengan sulfur dan pengotoran bisa diminimalkan.

Bagi pemilik mobil diesel modern, pesan utamanya adalah memahami bahwa biaya yang terlihat lebih murah di awal dapat berhadapan dengan konsekuensi perawatan yang lebih sering. Karena itu, keputusan menggunakan bio solar sebaiknya dibuat dengan pertimbangan kondisi nyata di lapangan, sambil tetap menjaga langkah perawatan yang tepat.