jurnalistik.co.id – Implementasi mandatori biodiesel B50 menempatkan produktivitas kebun rakyat sebagai penopang penting pasokan minyak sawit secara berkelanjutan. Peningkatan kapasitas petani, termasuk melalui pelatihan dan pendampingan, dinilai menjadi jalan untuk menjaga suplai tanpa harus membuka lahan baru.
PT Trieka Agro Nusantara (TAN), anak usaha PT Triputra Agro Persada Tbk, menjalankan Program Petani Berkualitas dan Sejahtera (PERKASA) lewat inisiatif TAP Untuk Negeri. Program ini ditujukan untuk memperkuat kemampuan petani sawit di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Di tingkat kebijakan, implementasi B50 disebut sebagai langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit Indonesia. Seiring kebutuhan bahan baku minyak sawit yang terus meningkat, produktivitas perkebunan rakyat dipandang sebagai aspek yang menentukan keberlanjutan pasokan.
Kunci pasokan B50 dari kebun rakyat
Kepala Bidang Perbenihan dan Budidaya Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Jayan Wahyudi, menilai penguatan kapasitas petani adalah upaya penting untuk mendorong pengembangan perkebunan sawit rakyat. Menurut dia, pelatihan diharapkan mampu meningkatkan keterampilan sekaligus hasil produksi.
“Dengan mengikuti pelatihan, kami berharap petani dapat meningkatkan keterampilan serta hasil produksi sawit,” ujar Jayan, dikutip dari keterangan pers, Jumat (3/7/2026). Pernyataan itu menegaskan bahwa peningkatan praktik budidaya dapat berpengaruh langsung pada output kebun rakyat.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, lebih dari 40 persen luas perkebunan kelapa sawit nasional dikelola oleh petani rakyat. Karena komposisinya besar, peningkatan kapasitas melalui penerapan praktik budidaya yang baik dipandang sebagai bagian dari penguatan daya saing industri sawit.
Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Statistik Tanaman Perkebunan Tahunan Indonesia 2024 yang dirilis pada 2025 juga menempatkan kelapa sawit sebagai komoditas perkebunan strategis. Cakupan arealnya luas dan melibatkan berbagai pelaku usaha, termasuk perkebunan rakyat.
Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman menegaskan produktivitas menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan sawit nasional tanpa membuka lahan baru. Ia menyebut ruang peningkatan produktivitas masih terbuka melalui penggunaan bibit unggul, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani.
Berita Terkait
Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan implementasi B50 yang membutuhkan pasokan bahan baku minyak sawit secara berkelanjutan. Dengan demikian, penguatan produktivitas kebun rakyat diposisikan sebagai strategi untuk menjaga suplai sekaligus mendorong efisiensi pemanfaatan lahan yang ada.
Pelatihan dan pendampingan PERKASA
Melalui Program PERKASA, TAP Untuk Negeri memberikan pelatihan teori, praktik lapangan, serta pendampingan penerapan teknik budidaya kelapa sawit yang berkelanjutan bagi petani di sekitar wilayah operasional perusahaan. Materi tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga penguatan pemahaman dalam proses budidaya yang lebih terukur.
Pelatihan mencakup pemilihan bibit unggul, pemupukan yang tepat, perawatan tanaman, pengendalian gulma, hingga pengelolaan kebun yang lebih efisien. Dengan pendekatan itu, produktivitas diharapkan meningkat secara konsisten dan tetap berada pada koridor praktik yang berkelanjutan.
Program PERKASA juga dilengkapi pendampingan berkelanjutan melalui layanan konsultasi agronomi yang dapat diakses lewat WhatsApp. Petani dapat mengajukan persoalan budidaya yang mereka temui di kebun, sehingga proses pembelajaran tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
Seorang peserta pelatihan, Wardino (45), mengaku mulai merasakan perubahan setelah mengikuti Program PERKASA. Baginya, kebun sawit bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga aset yang perlu dirawat dengan pengetahuan dan praktik yang tepat.
“Setelah mengikuti pelatihan, hasil panen meningkat dan saya semakin memahami cara mengelola kebun dengan lebih baik,” ujar Wardino. “Banyak hal baru yang saya pelajari, mulai dari perawatan tanaman, pemupukan, hingga bagaimana menerapkan praktik kebun yang lebih tepat,” lanjutnya.
Melalui rangkaian pelatihan dan konsultasi, perusahaan menilai petani semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi budidaya. Pada saat yang sama, petani diharapkan mampu mengelola kebunnya secara lebih produktif dan berkelanjutan, sejalan dengan tujuan penguatan praktik pertanian yang ramah lingkungan.
Upaya tersebut ditargetkan memberi dampak pada kesejahteraan keluarga, pembangunan daerah, serta keberlanjutan industri sawit Indonesia. Dalam konteks implementasi B50, penguatan di tingkat kebun rakyat dipandang menjadi faktor nyata yang menopang pasokan bahan baku secara berkesinambungan.












