jurnalistik.co.id – Wuling Darion EV kini menjadi salah satu opsi MPV listrik yang menarik untuk keluarga di pasar Indonesia. Bagi calon pembeli yang ingin merencanakan pembayaran melalui skema pembiayaan atau kredit, tersedia simulasi dengan tenor hingga 60 bulan atau 5 tahun.
Dalam artikel yang terbit 2 Juli 2026 pukul 09.22 WIB itu, skema yang digunakan adalah Angsuran Di Muka (ADDM). ADMM sendiri membuat total pembayaran pertama sudah mencakup beberapa komponen sekaligus, yaitu DP Nett, biaya administrasi, biaya asuransi kendaraan tipe Komprehensif, biaya fidusia, serta pembayaran angsuran untuk bulan pertama.
Simulasi disusun untuk dua varian utama Darion EV, yakni tipe CE dan tipe EX. Perbedaan utamanya terlihat pada pilihan uang muka (DP) dan konsekuensinya pada besaran cicilan bulanan, sehingga konsumen bisa menyesuaikan dengan prioritas keuangan masing-masing.
Untuk Wuling Darion EV tipe CE, harga OTR disebut sebesar Rp 399 juta. Konsumen dapat memilih DP teringan 10 persen yang membuat total pembayaran pertama mencapai Rp 85.252.890, dengan cicilan Rp 7.480.000 per bulan selama 60 kali. Alternatifnya, ada pilihan DP 30 persen yang total awalnya Rp 163.390.890, namun cicilan bulanan menjadi Rp 5.818.000 untuk tenor yang sama, yakni 60 bulan.
Jika diarahkan pada varian yang lebih tinggi, Wuling Darion EV tipe EX dibanderol Rp 459 juta (OTR). Dengan opsi DP teringan 10 persen, total pembayaran pertama yang harus disiapkan sebesar Rp 93.904.290, sedangkan angsuran bulanan ditetapkan Rp 8.604.000 selama 60 kali. Untuk yang ingin beban bulanan lebih ringan, skema DP 30 persen menempatkan total pembayaran pertama di Rp 183.392.290, dengan cicilan Rp 6.692.000 per bulan sepanjang 60 bulan.
Dengan mekanisme ADDM, perencanaan uang muka menjadi kunci karena komponen pembayaran pertama tidak hanya DP saja. Karena di dalamnya juga terdapat biaya administrasi, biaya asuransi Komprehensif, fidusia, dan angsuran bulan pertama, maka jumlah awal yang disiapkan akan memengaruhi tingkat cicilan yang harus dibayar setiap bulan.
Secara praktis, pilihan DP 10 persen cenderung membantu pembeli baru agar modal awal lebih rendah, tetapi cicilannya relatif lebih tinggi. Sebaliknya, opsi DP 30 persen memang menuntut total pembayaran pertama yang lebih besar, namun dapat menurunkan nilai angsuran bulanan dengan durasi yang tetap hingga 60 bulan.
Simulasi tersebut disampaikan oleh Muhammad Fathan Radityasani sebagai penulis dan Agung Kurniawan sebagai editor. Bagi calon konsumen, informasi ini dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menyesuaikan strategi pembiayaan sesuai kemampuan cashflow, baik yang menargetkan DP teringan maupun yang memprioritaskan cicilan paling ringan.
Dalam skema ADDM yang dijelaskan, pembayaran awal bukan hanya menjadi penentu besarnya DP, melainkan juga memuat rincian lain seperti biaya administrasi, asuransi kendaraan tipe Komprehensif, biaya fidusia, serta angsuran untuk bulan pertama. Karena itu, angka total pembayaran pertama perlu dilihat sebagai satu paket.
Untuk varian CE dan EX, pola dampaknya terlihat konsisten pada tenor 60 bulan: ketika uang muka dipilih lebih kecil, total pembayaran pertama memang lebih ringan, tetapi cicilan bulanan cenderung naik. Sebaliknya, pemilihan DP lebih besar membuat beban bulanan menurun, meski jumlah yang disiapkan di awal menjadi lebih tinggi.
Perbandingan antartipe juga memberi gambaran bahwa harga OTR yang lebih tinggi pada EX turut memengaruhi besaran komponen pembayaran pertama. Pada simulasi ini, selisih OTR membuat total yang dibayarkan di awal dan cicilan bulanan pada EX berada di level yang lebih besar dibanding CE untuk opsi DP yang sama.
Karena perencanaan keuangan menggunakan kerangka ADDM, calon pembeli dapat menyesuaikan pilihan sesuai fokus utama, apakah ingin mengoptimalkan kesiapan dana di awal atau lebih memprioritaskan kestabilan angsuran tiap bulan. Dengan durasi hingga 60 kali, konsistensi skema juga membantu konsumen memproyeksikan pengeluaran dalam periode pembiayaan.












