Bisnis & Ekonomi

BPS: Nilai Impor RI Agustus 2026 Capai US$23,06 Miliar, Naik 19,09% YoY

×

BPS: Nilai Impor RI Agustus 2026 Capai US$23,06 Miliar, Naik 19,09% YoY

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$23,06 miliar. Angka tersebut naik 19,09% dibanding periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Namun, pertumbuhan yang tercermin dalam rilis BPS pada Kamis (1/10/2026) itu masih berada di bawah proyeksi konsensus yang dihimpun Bloomberg. Konsensus memproyeksikan impor Agustus tumbuh 30,47% secara tahunan.

Dalam rilis tersebut, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan rincian kenaikan yang terjadi pada komponen impor. Ia menyoroti perbedaan kinerja antara impor migas dan impor non-migas selama periode Agustus 2026.

“Adapun nilai impor migas [Agustus 2026] sebesar US$3,53 miliar atau meningkat sebesar 30,73% secara tahunannya,” kata Ateng Hartono dalam rilis BPS.

Selain komponen migas, BPS juga mencatat pergerakan pada impor non-migas. Sepanjang Agustus 2026, nilai impor non-migas berada di angka US$19,53 miliar, dengan kenaikan tahunan sebesar 17,20%.

Peningkatan yang terjadi pada impor non-migas menjadi faktor yang berperan dalam perubahan total nilai impor. Ateng menyebut dorongan utama datang dari kelompok non-migas, yang secara kontribusi turut mengangkat laju kenaikan tahunan.

“Peningkatan nilai impor secara tahunan terutama didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andil peningkatannya sebesar 14,57%,” kata Ateng.

Dengan total nilai impor US$23,06 miliar pada Agustus 2026, BPS memperlihatkan bahwa komposisi impor tetap terbagi ke dalam migas dan non-migas. Nilai impor migas dilaporkan US$3,53 miliar, sedangkan impor non-migas mencapai US$19,53 miliar.

Secara year-on-year, pertumbuhan impor migas tercatat 30,73%, sementara impor non-migas tumbuh 17,20%. Meski demikian, laju kenaikan total impor yang mencapai 19,09% menggambarkan bahwa kinerja tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan ekspektasi konsensus yang berada pada level 30,47% yoy.

Ateng menempatkan peningkatan impor non-migas sebagai penopang utama. Menurutnya, kontribusi peningkatan tahunan dari kelompok non-migas tercermin melalui andil peningkatan sebesar 14,57%.

Rilis statistik BPS ini juga memperlihatkan bahwa dinamika perdagangan luar negeri pada periode Agustus 2026 tidak hanya ditentukan oleh satu komponen. Perubahan pada impor migas dan non-migas sama-sama berpengaruh, namun pendorong yang disebut Ateng adalah peningkatan impor non-migas.

Di sisi lain, perbandingan dengan proyeksi konsensus Bloomberg menunjukkan adanya selisih antara capaian aktual dan estimasi pertumbuhan yang dihimpun. Dengan pertumbuhan aktual 19,09% yoy, impor Agustus 2026 tercatat lebih rendah dibanding proyeksi 30,47% yoy.

Data BPS tersebut menjadi rujukan untuk membaca arah aktivitas impor pada semester berjalan. Dalam laporan yang sama, BPS menegaskan bahwa nilai impor pada bulan yang dimaksud adalah US$23,06 miliar, dengan rincian migas sebesar US$3,53 miliar dan non-migas sebesar US$19,53 miliar.

Kesimpulannya, Agustus 2026 mencatat kenaikan nilai impor Indonesia secara tahunan, dengan total US$23,06 miliar. Pertumbuhan 19,09% yoy dibentuk oleh peningkatan impor migas dan non-migas, dengan penekanan khusus pada peran impor non-migas yang andil peningkatannya disebut sebesar 14,57%.

Jika dibandingkan dengan ekspektasi pasar yang dihimpun Bloomberg, angka impor aktual pada Agustus 2026 menunjukkan pola kenaikan yang lebih moderat. Dengan yoy 19,09%, realisasi tersebut berada di bawah estimasi yang menempatkan pertumbuhan di 30,47%.

Dalam penjelasan BPS, Ateng Hartono menempatkan pergerakan komponen sebagai kunci untuk memahami totalnya. Nilai impor migas tercatat US$3,53 miliar dan tumbuh 30,73% secara tahunan, sementara impor non-migas bernilai US$19,53 miliar dengan kenaikan 17,20% yoy.

Lebih lanjut, dorongan terbesar terhadap total kenaikan berasal dari non-migas. Kontribusi peningkatan kelompok ini disebut memiliki andil peningkatannya sebesar 14,57%, sehingga perubahan pada non-migas memberi pengaruh dominan terhadap laju pertumbuhan total impor.

Dengan struktur yang tetap terbagi antara migas dan non-migas, laporan BPS memperlihatkan bahwa dinamika perdagangan luar negeri tidak bergantung pada satu pos saja. Perubahan di kedua komponen sama-sama tercermin dalam total US$23,06 miliar, namun momentum kenaikan tahunan lebih banyak ditopang oleh non-migas.