Bisnis & Ekonomi

Argos Akan Berbenah: Bisakah Pemilik Baru Menggairahkan Belanja Pelanggan Baru?

×

Argos Akan Berbenah: Bisakah Pemilik Baru Menggairahkan Belanja Pelanggan Baru?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Argos is getting a makeover - but can it attract new shoppers?

jurnalistik.co.id – Argos, pengecer yang selama lebih dari 50 tahun menjadi bagian dari ritme belanja di Inggris, tengah menjalani “makeover”. Di tengah persaingan ketat ritel online, pertanyaan besarnya adalah apakah langkah perombakan itu mampu menarik pembeli baru dan menghidupkan kembali minat masyarakat.

Perusahaan yang berdiri sejak lama ini masih dipakai oleh sekitar setengah rumah tangga di Inggris. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penjualan Argos disebut stagnan karena gempuran platform digital seperti Amazon, yang menawarkan pilihan luas dan kenyamanan pengantaran.

Perubahan kepemilikan ikut menjadi penanda fase baru bagi bisnis tersebut. Sainsbury’s, yang sebelumnya memegang Argos, mengumumkan penjualan rantai peritel itu dengan nilai jauh lebih kecil dibanding harga yang dibayarkan sekitar 10 tahun silam.

Meski begitu, para pemilik baru menyatakan mereka melihat “real opportunities” untuk pertumbuhan. Salah satu gagasan yang disebut muncul adalah membuka gerai mandiri baru, selain merancang model kolaborasi lain.

Pada kesempatan ketika BBC berbicara kepada sejumlah pembeli di London tengah, respon terhadap Argos tampak terbelah. Sebagian orang mengaitkan merek ini dengan kenangan keluarga dan pengalaman belanja yang dianggap praktis.

Enrico, 28 tahun, mengaku menyukai kemudahan pengambilan pada hari yang sama. Ia juga menyebut rasa nostalgia yang datang dari katalog cetak Argos yang kini sudah tidak tersedia.

“It was a great way of doing your Christmas shopping,” kata Enrico, sambil menambahkan, “We’d go into our local Argos and we’d get the massive print catalogue.”

Sementara itu, bagi pembeli lain, Argos dinilai kurang bergerak mengikuti pilihan yang makin dominan berbasis aplikasi. Emily, 22 tahun, menyebut Amazon terasa lebih mudah karena barang bisa langsung diantar ke rumah, termasuk lewat Prime.

“I feel Amazon is a lot easier because it gets delivered straight to your door with Prime,” ujar Emily. Ia menambahkan bahwa dirinya hanya memakai Argos untuk membeli perangkat, bukan untuk kebutuhan “day to day”.

Jack Cunningham, 26 tahun, menggambarkan Argos sebagai solusi saat ia tidak bisa menunggu pengiriman. Ia mengatakan bahwa saat membutuhkan sesuatu dalam waktu singkat, Argos kerap jadi pilihan karena ketersediaan di toko dan opsi pengambilan.

“If I need something in the moment and can’t wait for delivery, normally I’ll get it in Argos.” Jack juga menekankan bahwa harga murah di Amazon bisa menarik, meski ada risiko ukuran yang tidak sesuai.

“You can order something really cheap on Amazon, and it might come and be the wrong size,” tuturnya.

Di sisi kinerja bisnis, Argos disebut telah berupaya berinvestasi di ranah digital selama bertahun-tahun, tetapi upayanya tidak benar-benar berbuah menjadi perubahan besar. Argos mencatat penjualan sebesar £4,1 miliar pada tahun lalu, sementara Amazon di Inggris disebut mencapai £32 miliar.

Meski demikian, Argos memiliki diferensiasi yang tidak sepenuhnya ditawarkan pesaing online: jaringan toko yang luas, konsesi di toko Sainsbury’s, serta titik pengambilan yang memungkinkan pelanggan melakukan click and collect pada hari yang sama tanpa biaya. Nilai itu dipandang bisa menjadi “kunci” untuk menguatkan posisi merek.

Namun, agar relevan di mata pelanggan yang “digital-first”, Argos juga disarankan melakukan pembaruan pada aplikasi. Catherine Shuttleworth, analis ritel, menilai Argos perlu menyesuaikan diri agar bisa bersaing dengan pemain seperti Amazon, Shein, dan Temu.

“I think if you asked people to name five High Street retailers, they wouldn’t name Argos,” kata Catherine. Ia menambahkan, “It’s almost about reminding people it exists.”

Pandangan tentang perlunya penguatan merek juga muncul dari pengalaman pembeli lain. Georgia, 27 tahun, menyatakan Argos tidak lagi hadir dalam pikirannya sejak lama, serta merasa merek tersebut ketinggalan zaman.

“It’s very old school isn’t it? I’m more of an Amazon shopper,” ujarnya.

Selain soal persepsi, aspek layanan pelanggan juga menjadi perhatian. Argos disebut memperoleh skor 1,4 dari lima di Trustpilot, berada di bawah pesaing ritel papan atas seperti Curry’s dan Tesco.

Hugh Radojev, editor Retail Week, menilai suasana belanja Argos tidak lagi terasa menarik seperti masa lalu. Ia menyebut tantangan utamanya agar merek tersebut kembali “hidup” di tengah perhatian konsumen.

“It’s not an exciting place to shop, or what it used to be for kids around Christmas,” kata Hugh. “Under a new ownership you’d hope they could get it back into the zeitgeist.”

Di lapangan, perubahan bentuk jaringan juga sudah berlangsung lama. Sejak 2012, jumlah gerai mandiri Argos turun dari 845 menjadi sekitar 200. Di saat yang sama, Argos membuka kira-kira 450 gerai “shop-within-shops” di toko Sainsbury’s.

Langkah itu dinilai sempat dianggap cerdas karena memanfaatkan basis pelanggan besar milik Sainsbury’s. Setelah pengambilalihan, semua konsesi tersebut disebut akan tetap dipertahankan, dan pelanggan tetap bisa memperoleh poin kartu loyalitas Nectar untuk setiap pembelian.

Meski begitu, kebutuhan ekspansi masih dibicarakan. Nicole, 40 tahun, seorang penggemar Argos dari London selatan, menginginkan rantai ini memperluas jangkauan lebih jauh.

“It would be nice if they could go in other supermarkets like Tesco,” katanya.

Di sisi strategi pemilik baru, deal dengan supermarket pesaing disebut tidak akan dilakukan. Tetapi mereka berencana membangun “partnerships” lain dan membuka gerai mandiri baru.

Konsorsium itu disebut Swift Partners, berisi sejumlah figur berpengalaman di industri ritel, termasuk seorang mantan pemimpin Co-operative Group. Richard Hyman, analis ritel, memandang struktur kepemilikan baru ini bisa lebih cocok dibanding fokus Sainsbury’s yang sebelumnya banyak tertuju pada penjualan makanan.

Meski begitu, Richard tetap skeptis apakah Argos bisa tumbuh besar di “tough retail market”. Catherine justru lebih optimistis, menilai peluang muncul bila ada “ruthless focus” untuk menjalankan strategi secara tegas.

“Argos completely revolutionised the way we shop when they came out and they have a history of being different,” ujar Catherine. “If I was marketing director I would be thinking about how to bottle that for 2027.”