Bisnis & Ekonomi

IHSG Tertekan Saham, Parkir di Zona Merah: Turun 0,27% ke 6.423 pada Sesi I

×

IHSG Tertekan Saham, Parkir di Zona Merah: Turun 0,27% ke 6.423 pada Sesi I

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Parkir di Zona Merah, IHSG Terbeban Saham-saham Ini - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Sesi I Senin (21/9/2026) melemah 0,27% ke level 6.423. Sejak pagi, tekanan jual membuat laju pergerakan berada dalam tren menurun.

Di awal aktivitas bursa, IHSG sempat tergelincir dan mencatat level terendah di 6.388. Pada momen tersebut, indeks komposit turun hingga 0,78%.

Pada saat yang sama, pergerakan masih menunjukkan upaya penahanan di tengah arus jual. IHSG sempat bergerak ke posisi tertinggi 6.451 sebelum kembali melemah.

Data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi pada Sesi I mencapai Rp5,74 triliun. Sepanjang rentang pagi hingga siang, tercatat 14,28 miliar saham diperdagangkan, dengan dominasi tekanan jual.

Dari sisi pergerakan saham, hanya 329 saham yang mengalami penguatan. Sebanyak 291 saham lainnya mengalami pelemahan, sedangkan 168 saham stagnan.

Dengan komposisi tersebut, sentimen pasar lebih banyak terserap sebagai koreksi. IHSG pun tetap berada di wilayah merah sampai jeda perdagangan Sesi I berakhir.

Sejumlah sektor dinilai menjadi penekan utama laju indeks. Sektor infrastruktur koreksi 0,41%, disusul sektor konsumen primer yang turun 0,37% dan sektor keuangan yang melemah 0,19%.

Dalam praktiknya, pelemahan di sektor-sektor tersebut tercermin dari kontribusi saham-saham berkapitalisasi besar. Pergerakan beberapa emiten berperan sebagai pemberat yang mendorong indeks bergerak lebih rendah.

Pada daftar saham yang menjadi penekan IHSG, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) terkoreksi hingga mengurangi 8,19 poin. Koreksi yang cukup besar ini ikut menambah tekanan pada posisi indeks.

Diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mengurangi 4,43 poin. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga turun dengan mengurangi 3,71 poin pada pergerakan Sesi I.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah dengan mengurangi 2,93 poin. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turut menurun dengan mengurangi 2,46 poin.

Selain sektor perbankan dan telekomunikasi, tekanan juga terlihat pada saham-saham lain di papan utama. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 1,94 poin, sedangkan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 1,49 poin.

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengurangi 1,02 poin pada Sesi I. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga turun dengan mengurangi 0,99 poin, dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengurangi 0,96 poin.

Sepanjang sesi, kombinasi transaksi yang bernilai besar dengan mayoritas saham melemah ikut memperkuat karakter pelemahan. Kondisi ini membuat indeks lebih sulit untuk berbalik arah secara konsisten.

Meski sempat tertahan di area lebih tinggi, IHSG pada akhirnya kembali mengikuti arah tekanan jual. Penurunan hingga mendekati level 6.388 menunjukkan bahwa arus jual masih kuat pada fase awal perdagangan.

Dengan demikian, pergerakan IHSG pada Sesi I Senin (21/9/2026) mencerminkan dominasi penjualan yang memengaruhi beberapa sektor, sekaligus dipengaruhi koreksi dari sejumlah saham berkontribusi besar terhadap indeks.

Komposisi pergerakan yang lebih banyak mengarah ke pelemahan juga terlihat dari perbandingan jumlah saham. Dari total 329 saham yang menguat, pelaku pasar tampak lebih selektif, namun jumlah saham yang melemah mencapai 291. Sementara itu, 168 saham bergerak stagnan sehingga ruang konsolidasi cenderung terbatas, dan sentimen koreksi tetap menjadi benang merah sepanjang Sesi I.

Tekanan yang menahan laju indeks semakin terasa ketika IHSG harus “membayar” penurunan dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. Koreksi pada BYAN hingga mengurangi 8,19 poin, disusul BBCA yang turun 4,43 poin serta TLKM yang mengurangi 3,71 poin, menjadi contoh bagaimana pergerakan beberapa emiten berpengaruh langsung terhadap posisi indeks. Ditambah pelemahan di sektor infrastruktur, konsumen primer, hingga keuangan—masing-masing koreksi 0,41%, 0,37%, dan 0,19%—mendorong indeks tetap berada di wilayah merah dan membuat upaya menguat tidak bertahan lama.