Bisnis & Ekonomi

Airlangga: Aset Keuangan Syariah RI Rp3.131 Triliun, Peringkat Ke-4 Global pada 2025

×

Airlangga: Aset Keuangan Syariah RI Rp3.131 Triliun, Peringkat Ke-4 Global pada 2025

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Airlangga: Aset Keuangan Syariah RI Rp3.131 T, Peringkat 4 Dunia - Market

jurnalistik.co.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa aset keuangan syariah Indonesia telah mencapai Rp3.131 triliun pada 2025.

Menurut Airlangga, capaian itu menempatkan ekonomi syariah Indonesia pada posisi peringkat ke-4 dalam lanskap ekonomi syariah global.

Ia menjelaskan, “Aset keuangan syariah sudah mencapai Rp3.131 Triliun dan berada di posisi empat besar bersama Malaysia, UAE, Arab Saudi, dan Bahrain,” kata Airlangga di Kompleks Kemenko Perekonomian pada Selasa (8/9/2026).

Airlangga menekankan bahwa kondisi tersebut menunjukkan posisi Indonesia yang berada di kelompok negara dengan aset keuangan syariah terbesar di dunia.

Ruang penguatan dari ZISWAF

Selain aset keuangan syariah, Airlangga juga mengangkat potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) di Indonesia.

Ia menyebut potensi ZISWAF mencapai Rp343 triliun per tahun, sebagai sumber daya besar yang dapat dimaksimalkan.

Airlangga menyatakan bahwa angka tersebut menghadirkan ruang yang luas untuk optimalisasi, sejalan dengan kebutuhan pengembangan ekosistem ekonomi syariah.

Dengan demikian, ia memandang bahwa potensi ZISWAF dapat menjadi bagian dari daya dorong dalam penguatan sektor keuangan dan ekonomi syariah.

Industri fesyen dan belanja konsumen Muslim

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga menyampaikan rujukan dari State Global Islamic Economic Report terkait posisi industri fesyen Indonesia.

Ia menyebut bahwa industri fesyen Indonesia menempati peringkat pertama di dunia berdasarkan laporan tersebut.

Airlangga juga menyampaikan data mengenai belanja konsumen Muslim di tingkat global.

Ia mengatakan belanja konsumen Muslim dunia mencapai Rp2,6 triliun pada tahun 2024, dan angka itu diproyeksikan naik pada tahun 2029 menjadi Rp3,56 triliun.

Airlangga menilai tren tersebut menunjukkan besarnya potensi yang tersedia, terutama bagi sektor-sektor yang terhubung dengan kebutuhan konsumen Muslim.

Ia menegaskan, “Dan belanja konsumen muslim dunia mencapai Rp2,6 triliun di tahun 2024. Dan ini akan naik di tahun 2029 sebesar Rp3,56 triliun. Jadi ini potensinya besar,” katanya.

Dengan sejumlah indikator yang ia sebutkan—mulai dari aset keuangan syariah, potensi ZISWAF, hingga posisi industri fesyen dan proyeksi belanja konsumen Muslim—Airlangga menggambarkan adanya momentum yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi syariah.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa Indonesia berada dalam posisi strategis di ekonomi syariah global, baik dari sisi besaran aset maupun ruang pertumbuhan dari sektor-sektor terkait.

Dalam paparan tersebut, Airlangga menyoroti bahwa capaian aset keuangan syariah yang sudah mencapai Rp3.131 triliun pada 2025 bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan sinyal bahwa Indonesia berada di barisan negara dengan skala ekonomi syariah paling menonjol. Posisi ini juga ditunjukkan melalui pengelompokan Indonesia pada jajaran empat besar bersama Malaysia, UAE, Arab Saudi, dan Bahrain.

Di sisi lain, Airlangga juga mengaitkan kekuatan ekonomi syariah dengan potensi ZISWAF yang disebutnya mencapai Rp343 triliun per tahun. Menurutnya, besaran potensi tersebut membuka ruang untuk optimalisasi agar ZISWAF dapat bekerja sebagai dukungan yang selaras dengan upaya penguatan ekosistem ekonomi syariah.

Lebih lanjut, Airlangga memaparkan bahwa rujukan State Global Islamic Economic Report menempatkan industri fesyen Indonesia di posisi teratas secara global. Ia juga menggarisbawahi dinamika pasar dengan menyebut belanja konsumen Muslim dunia sebesar Rp2,6 triliun pada 2024 yang diproyeksikan meningkat menjadi Rp3,56 triliun pada 2029, sehingga memberi gambaran ruang peluang bagi sektor-sektor yang dekat dengan kebutuhan konsumen Muslim.

Dengan menggabungkan beberapa indikator yang telah disampaikan—mulai dari capaian aset keuangan syariah, ruang pengembangan dari potensi ZISWAF, hingga daya dorong pasar melalui industri fesyen dan proyeksi belanja konsumen Muslim—Airlangga pada intinya menekankan adanya momentum yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah. Kerangka ini memperlihatkan bahwa penguatan dapat datang dari sisi sumber daya sekaligus dari sisi permintaan yang diperkirakan terus meningkat.