jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan, pengeluaran saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak dimaksudkan untuk memicu lonjakan pergerakan indeks.
BEI mengaitkan rencana perubahan metodologi ini dengan jadwal mulai berlaku pada 2 November 2026. Setelah tanggal tersebut, saham-saham yang berada dalam daftar HSC tidak lagi diperhitungkan sebagai bagian dari konstituen yang digunakan dalam penghitungan IHSG.
Dalam penjelasannya, bursa menegaskan kebijakan tersebut mengikuti hasil pengujian historis atau backtest yang telah dilakukan. Backtest digunakan untuk melihat bagaimana IHSG bergerak ketika komposisi konstituen mengalami perubahan, termasuk pada skenario penghapusan saham-saham HSC.
Pengujian historis menjadi pijakan kebijakan
BEI menyampaikan bahwa dari uji coba yang dilakukan, pengeluaran HSC tidak menghasilkan lonjakan pergerakan indeks secara signifikan. Bursa memposisikan temuan ini sebagai dasar bahwa perubahan konstituen dapat diterapkan tanpa menimbulkan gejolak yang tidak diharapkan.
Lebih jauh, BEI menegaskan bahwa penghapusan HSC juga diarahkan untuk memperbaiki transparansi struktur kepemilikan saham. Bursa menilai, semakin jelasnya struktur kepemilikan yang tercermin dalam metodologi indeks akan membantu meningkatkan keterbacaan informasi bagi pelaku pasar.
Sejalan dengan itu, BEI menempatkan penguatan kredibilitas free float sebagai tujuan lain. Pengukuran free float disebut menjadi komponen penting dalam perhitungan indeks, sehingga bursa ingin memperkuat keandalannya melalui penyesuaian daftar konstituen.
Berita Terkait
Dalam kaitan perhitungan IHSG, HSC dipahami sebagai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Dengan mengeluarkan saham seperti itu dari perhitungan indeks, BEI menyatakan bahwa metodologi diarahkan agar indikator indeks lebih mencerminkan karakter kepemilikan yang menjadi perhatian dalam pengukuran free float.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan penghapusan saham-saham HSC berpotensi meningkatkan kredibilitas IHSG sebagai acuan investasi bagi investor. Menurut BEI, perubahan tersebut berkaitan dengan bagaimana bobot saham di dalam indeks diperlakukan setelah saham HSC tidak lagi menjadi konstituen.
BEI menjelaskan bahwa bobot saham HSC yang dikeluarkan dari perhitungan indeks akan didistribusikan kembali ke saham-saham lain yang masih menjadi konstituen IHSG. Dengan mekanisme ini, pengaruh yang semula berasal dari saham HSC dialihkan ke komponen indeks yang tetap dihitung.
Karena bobot dialihkan ke saham yang masih masuk perhitungan indeks, BEI menilai pengeluaran HSC tidak serta-merta membuat IHSG mengalami penurunan tajam secara langsung. Bursa memandang perubahan lebih sebagai penyesuaian distribusi bobot, bukan pemutusan total terhadap kontribusi yang dibawa oleh saham-saham yang semula tergolong HSC.
BEI juga menegaskan bahwa melalui desain perhitungan tersebut, perubahan konstituen tidak seharusnya menimbulkan reaksi indeks yang ekstrem. Dengan dukungan temuan backtest dan mekanisme redistribusi bobot, bursa menyampaikan dampaknya tidak menyebabkan lonjakan yang berlebihan maupun penurunan yang tajam secara otomatis.
Mulai 2 November 2026, pelaku pasar perlu memahami bahwa perubahan komposisi IHSG mencakup pengeluaran saham HSC dari daftar konstituen. Namun, BEI menekankan bahwa pengujian historis serta distribusi bobot ke saham lain yang tetap menjadi konstituen menjadi alasan utama mengapa indeks tidak diproyeksikan berubah secara drastis.
Secara keseluruhan, BEI menempatkan kebijakan ini sebagai upaya menjaga kualitas pengukuran indeks di pasar modal Indonesia. Perbaikan transparansi struktur kepemilikan dan peningkatan kredibilitas pengukuran free float menjadi dua pilar yang disebut bursa dalam mendukung penyempurnaan metodologi IHSG.
Dengan demikian, BEI menegaskan bahwa penghapusan HSC dari perhitungan IHSG bukan langkah yang dirancang untuk memicu lonjakan pergerakan indeks, melainkan penyesuaian yang terukur. Bursa juga menyampaikan perubahan tersebut diharapkan berlangsung dengan dampak yang dapat diantisipasi melalui hasil pengujian historis.












