jurnalistik.co.id – Pencarian kerja yang tak kunjung berujung sering terasa seperti permainan yang aturan mainnya berubah setiap hari. Di beberapa negara, persoalannya bahkan tidak berhenti pada “sulit mendapat pekerjaan”, melainkan sudah menyeret pengangguran dalam durasi yang panjang.
Dalam perbandingan 42 negara pada 2025, Afrika Selatan, Slovakia, Yunani, dan Italia tercatat memiliki median durasi pengangguran terpanjang. Pada kelompok negara ini, pencari kerja menghabiskan waktu lebih dari 12 bulan untuk mencari pekerjaan.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa setidaknya separuh dari kelompok penganggur di masing-masing negara mengalami masa tanpa pekerjaan lebih dari satu tahun, dengan ukuran median yang digunakan dalam analisis tersebut. Sementara itu, Meksiko menjadi pengecualian dengan durasi terpendek, yaitu 1,2 bulan.
Amerika Serikat mencatat 2,2 bulan, sedangkan Kanada berada di angka 2,4 bulan. Dari total 42 negara yang dibandingkan, median durasi pencarian kerja berada di sekitar 4,7 bulan, sehingga jarak antara negara teratas dan negara dengan durasi terpendek terlihat sangat lebar.
Pengangguran lama bisa mengurangi peluang balik bekerja
Lama menganggur tidak hanya mengganggu pendapatan, tetapi juga dapat memengaruhi peluang seseorang untuk kembali masuk ke pasar tenaga kerja. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan Institute of Labor Economics (IZA) pada 2024 menemukan bahwa pemberi kerja cenderung menilai lebih rendah pelamar yang sedang menganggur dibandingkan mereka yang masih bekerja.
Penelitian lintas negara itu juga menyebut dampak negatif mulai terlihat setelah sekitar 12 bulan. Dalam periode pengangguran yang lebih singkat, ketersediaan pelamar untuk segera mulai bekerja bisa menjadi nilai tambah. Namun ketika durasinya semakin panjang, sebagian pemberi kerja dapat menganggapnya sebagai sinyal bahwa produktivitas atau kemampuan pelamar menurun.
Ketika persepsi seperti ini terbentuk, masa tanpa pekerjaan bisa berubah menjadi hambatan tambahan bagi pencari kerja yang menghadapi proses rekrutmen dalam waktu lebih lama. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu kawasan, karena gambaran serupa juga terlihat di Eropa.
Berita Terkait
Di Uni Eropa, porsi pengangguran 24 bulan ke atas cukup tinggi
Eurostat mencatat bahwa pada 2025, sebanyak 16,5% penganggur di Uni Eropa telah menganggur selama sedikitnya 24 bulan. Angkanya jauh lebih tinggi di Slovakia, yakni 42,5%, lalu diikuti Yunani dengan 36,7%.
Italia juga tercatat mengalami angka yang tinggi, yaitu 30,1%. Data Eurostat menggunakan ukuran yang berbeda dari peringkat berdasarkan median durasi pencarian kerja, tetapi hasilnya tetap memperkuat gambaran bahwa pengangguran jangka panjang menjadi isu yang menonjol di sejumlah negara Eropa, terutama Slovakia, Yunani, dan Italia.
Dampaknya merembet ke kesehatan mental dan proses seleksi
Pengangguran berkepanjangan dapat membawa tekanan psikologis karena ketidakpastian pendapatan, penolakan lamaran, hingga kurangnya kepastian dari perusahaan. Kondisi ini membuat seseorang tidak hanya menghadapi tantangan ekonomi, melainkan juga beban mental yang menumpuk seiring waktu.
Institute of Labor Economics (IZA) pada 2024—melalui penggabungan sejumlah penelitian eksperimental lintas negara—juga menemukan bahwa pelamar yang sedang menganggur cenderung memiliki peluang lebih rendah dalam proses perekrutan dibandingkan mereka yang masih bekerja. Dampak negatif tersebut semakin terlihat ketika masa menganggur mencapai sekitar 12 bulan.
Dalam penjelasan riset, fenomena ini dikenal sebagai unemployment scarring effect, yakni dampak pengangguran yang dapat membekas pada prospek karier seseorang. Lamanya tidak bekerja berpotensi membuat keterampilan tertinggal, sementara sebagian perusahaan dapat memandang periode menganggur yang panjang sebagai sinyal negatif ketika menyeleksi kandidat.
Akibatnya, mereka yang sudah lama kehilangan pekerjaan justru dapat menghadapi hambatan lebih besar untuk kembali masuk ke pasar kerja. Meski demikian, para peneliti menekankan tingkat kepastian bukti masih rendah, sehingga hubungan sebab-akibatnya perlu diteliti lebih lanjut.
Tekanan yang terjadi berpotensi membentuk lingkaran yang sulit diputus. Pengangguran berkepanjangan dapat memperburuk kondisi psikologis, sementara stigma terhadap pelamar yang sudah lama tidak bekerja menambah hambatan untuk memperoleh pekerjaan baru. Semakin lama seseorang berada di luar pasar kerja, semakin besar pula risiko kehilangan pendapatan, menghadapi tekanan mental, dan mengalami kesulitan untuk kembali bekerja.












