Bisnis & Ekonomi

Bursa Asia Melemah, IHSG Turun 72,08 Poin Dipicu Ketegangan AS–Iran

×

Bursa Asia Melemah, IHSG Turun 72,08 Poin Dipicu Ketegangan AS–Iran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bursa Asia Berubah Merah Ikut IHSG, Konflik Timur Tengah Jadi Isu - Market

jurnalistik.co.id – Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (13/8/2026), dengan tekanan terutama terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sentimen pasar cenderung kurang positif setelah konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak menunjukkan tanda mereda.

Pada sesi tersebut, IHSG ditutup di level 6.301. Indeks kehilangan 72,08 poin atau setara 1,13% dibanding penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Pelemahan juga turut mewarnai sejumlah indeks utama di kawasan Asia. Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) memimpin pelemahan dengan koreksi terdalam sebesar 1,54%.

Diikuti PSEi (Filipina) yang turun 1,23%. IHSG sendiri melemah 1,13%, sementara Shenzhen Comp. (China) turun 0,97% dan CSI 300 (China) terkoreksi 0,57%.

Langkah serupa terlihat pada Shanghai Composite (China) yang turun 0,5%, KLCI (Malaysia) melemah 0,5%. Hang Seng (Hong Kong) juga melemah sebesar 0,17%, sedangkan Straits Time (Singapura) turun tipis 0,01%.

Meski mayoritas bursa Asia berada dalam tekanan, tidak semua indeks bergerak searah. Beberapa indeks lain justru mampu mempertahankan tren penguatan pada hari yang sama.

KOSPI (Korea Selatan) tercatat menguat paling menonjol dengan kenaikan 3,56%. NIKKEI 225 (Jepang) naik 1,16%, TW Weighted Index (Taiwan) menguat 1,11%, dan TOPIX (Jepang) naik 0,89%.

Selain itu, KOSDAQ (Korea) naik 0,29%, SENSEX (India) bertambah 0,15%, dan SETI (Thailand) menguat 0,11%. Pola ini menunjukkan adanya perbedaan respons pasar antarwilayah meskipun sentimen regional sama-sama terpapar ketidakpastian.

Faktor yang disebut menjadi penekan datang dari eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Konflik AS–Iran dinilai tidak kunjung mereda, sehingga perhatian pelaku pasar bergeser pada perkembangan geopolitik.

Presiden AS Donald Trump disebut tetap mempertahankan sanksi. Kondisi tersebut melengkapi sentimen negatif di tengah pula adanya blokade di Selat Hormuz, yang turut menambah kekhawatiran di rantai pasokan dan aktivitas perdagangan.

Dalam laporan yang dikutip Bloomberg News, pengawalan terhadap kapal juga disebut berlangsung bersamaan dengan serangan terbatas. Ancaman-ancaman yang terus disampaikan kemudian menjadi faktor lain yang membuat pasar kesulitan membangun kepercayaan.

Dengan latar tersebut, bursa-bursa di Asia bergerak lebih berhati-hati. Di Indonesia, pelemahan IHSG tercermin dari penurunan 72,08 poin menjadi 6.301 pada penutupan perdagangan Kamis.

Secara keseluruhan, pergerakan yang terjadi pada hari itu menunjukkan bahwa ketegangan Timur Tengah masih menjadi isu dominan yang memengaruhi arah perdagangan. Di tengah kombinasi konflik yang berlarut, sanksi yang tetap dijalankan, serta blokade di kawasan yang disebut terkait, sentimen pasar cenderung tetap kurang positif.

Perbedaan arah pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pelaku pasar tidak sepenuhnya menutup peluang pada skenario tertentu, namun tetap menahan diri menghadapi ketidakpastian. Sementara sejumlah indeks utama tertekan dan kehilangan momentum, kenaikan yang terjadi di beberapa bursa menunjukkan ada penyesuaian posisi yang tidak seragam di tengah sentimen yang sama-sama dipengaruhi isu geopolitik.

Bagi investor, faktor kunci yang membuat suasana pasar tetap berat berasal dari belum adanya tanda-tanda pelonggaran pada konflik antara AS dan Iran. Dalam narasi yang disebutkan, upaya menjaga tekanan melalui sanksi juga dikatakan tetap dipertahankan, sehingga pelaku pasar cenderung menunda keputusan berisiko dan memilih respons yang lebih hati-hati terhadap perkembangan harian di kawasan konflik.

Di sisi lain, kekhawatiran juga mengarah pada aktivitas perdagangan dan pergerakan logistik, terutama setelah disebut adanya blokade di Selat Hormuz. Kondisi semacam ini berpotensi menambah ketidaknyamanan terkait kelancaran rantai pasokan, sehingga sentimen yang semula bisa saja mengarah pada stabilisasi berubah kembali menjadi lebih defensif pada jam-jam perdagangan.

Laporan yang mengulas situasi itu juga menyebut adanya pengawalan kapal yang berlangsung bersamaan dengan serangan terbatas, serta ancaman yang terus disampaikan yang kemudian ikut menekan keyakinan pasar. Dalam konteks tersebut, pelemahan di kawasan termasuk Indonesia lebih mudah dipahami sebagai cerminan kehati-hatian, bukan semata-mata refleksi pergerakan harga harian. IHSG yang turun 72,08 poin menjadi 6.301 pun sejalan dengan pola “risk-off” yang masih terasa di tengah isu dominan Timur Tengah.