Bisnis & Ekonomi

India dan China Dongkrak Harga Batu Bara, Penguatan Kembali Terasa

×

India dan China Dongkrak Harga Batu Bara, Penguatan Kembali Terasa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: India & China Bikin Harga Batu Bara Naik Tinggi Lagi

jurnalistik.co.id – Harga batu bara kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan pekan ini, dengan dorongan utama datang dari India dan China. Kenaikan tersebut terlihat dari pergerakan harga kontrak berjangka sekaligus sinyal ketatnya pasokan di kawasan penghasil dan pengonsumsi batu bara.

Pada perdagangan Jumat (28/8/2026), harga batu bara dunia untuk kontrak yang berakhir Oktober 2026 ditutup naik 0,18% ke level US$139,75/ton, berdasarkan data Refintiv. Dalam hitungan sepekan, harga batu bara global melesat 1,08% secara point-to-point, menandai berlanjutnya sentimen positif di pasar komoditas.

Penguatan harga itu tidak berdiri sendiri karena faktor permintaan saja. Dari sisi pasokan, dinamika di India menjadi salah satu penopang yang menonjol. Melansir kondisi di India, sebanyak 45 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) kini memiliki stok batu bara pada level kritis per 25 Agustus 2026.

Jumlah tersebut meningkat dibanding akhir Juli 2026, ketika hanya ada 31 pembangkit yang berada pada kondisi serupa. Dari total 45 PLTU itu, sebanyak 40 pembangkit menggunakan batu bara domestik, sehingga keterkaitan antara ketersediaan pasokan di dalam negeri dan kelancaran operasi pembangkit menjadi semakin kuat.

Secara ukuran persediaan, ke-45 PLTU tersebut memiliki stok di bawah 25% dari kebutuhan normal. Dengan kondisi tersebut, stok yang tersedia tidak cukup untuk menghasilkan listrik selama tiga hari berturut-turut. Situasi ini muncul saat kebutuhan listrik meningkat, sementara suplai bahan bakar menghadapi gangguan yang berkaitan dengan hujan monsun.

El Nino disebut berperan dalam peningkatan permintaan listrik. Di saat yang sama, hujan monsun deras mengganggu produksi tambang serta distribusi bahan bakar di sejumlah wilayah penghasil batu bara. Kondisi ini terutama terjadi di negara bagian seperti Odisha, Jharkhand, dan Chhattisgarh.

Selain gambaran persentase stok, ada pula data pendukung dari konsultan komoditas BigMint. BigMint mencatat stok batu bara di pembangkit India turun 19% sepanjang Agustus menjadi 30,95 juta ton. Dengan angka itu, persediaan yang tersisa hanya cukup untuk sekitar 10 hari operasi.

Proses penipisan stok berlangsung cepat pada awal Agustus. Pembangkit listrik termal India menguras persediaan batu bara secara tajam dalam 23 hari pertama Agustus, karena konsumsi terus melampaui pasokan. Di bagian cuaca, India juga mencatat curah hujan 12% di bawah normal sepanjang musim monsun.

Dalam konteks ini, seorang pejabat perusahaan listrik terbesar India, NTPC, menyampaikan pernyataan yang dikutip dari Reuters. Ia mengatakan, ā€œPasokan batu bara berjalan pas-pasan, sementara permintaan listrik meningkat, terutama untuk pendingin udara,ā€ kata seorang pejabat perusahaan listrik terbesar India, NTPC, dikutip dari Reuters, Minggu (30/8/2026).

Pemerintah India bahkan meminta sejumlah PLTU menunda pemeliharaan pembangkit hingga kondisi pasokan batu bara lebih jelas. Langkah tersebut menunjukkan bahwa fokus saat ini bukan hanya pada pemenuhan kebutuhan listrik harian, tetapi juga pada menjaga kesinambungan operasi ketika ketersediaan bahan bakar masih belum stabil.

China: harga di pelabuhan transshipment utara bergerak ke level tertinggi lebih dari dua tahun

Dari China, laporan menyebut harga batu bara termal di pelabuhan-pelabuhan transshipment utama China bagian utara naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Kenaikan ini terutama didorong oleh pasokan yang terus ketat serta biaya yang meningkat.

Pengaruh kenaikan tidak berhenti di pasar domestik di pelabuhan. Harga batu bara domestik yang bergerak naik kemudian menular ke pasar batu bara impor China, sehingga harga impor ikut memperoleh dukungan. Dengan kata lain, perubahan di jalur pasokan regional turut menentukan arah harga di pasar yang lebih luas.

Sejalan dengan itu, kenaikan harga disebut bukan semata-mata karena lonjakan permintaan listrik. Sisi pasokan justru menjadi faktor yang sangat dominan. Pernyataan tersebut sejalan dengan informasi dari Sxcoal yang melaporkan produksi batu bara termal China pada Juli 2026 turun 10,1% secara tahunan.

Penurunan produksi itu melanjutkan tren yang berkaitan dengan pembatasan produksi dan inspeksi keselamatan di sejumlah wilayah tambang utama. Menurut laporan tersebut, kombinasi pembatasan serta proses inspeksi keselamatan berkontribusi terhadap berkurangnya pasokan di periode berjalan.

Secara keseluruhan, penguatan harga batu bara pada pekan ini mencerminkan pertemuan beberapa tekanan yang saling menguatkan: di India, stok pembangkit menurun hingga kategori kritis dan konsumsi melampaui pasokan; sementara di China, pasokan yang ketat diikuti penurunan produksi turut mengangkat harga, termasuk pada jalur impor.

Dengan latar tersebut, pasar cenderung merespons pergeseran pasokan dari dua negara besar Asia secara cepat, sehingga pergerakan harga yang semula terbentuk dari kondisi lokal dapat segera terpantau pada perdagangan global kontrak berjangka.