Pendidikan

Refugia: Bunga Pendamping untuk Pengendalian Hama Secara Alami bagi Petani

×

Refugia: Bunga Pendamping untuk Pengendalian Hama Secara Alami bagi Petani

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Cantik Tapi Mematikan, Bunga-Bunga Ini Jadi Senjata Petani Basmi Hama

jurnalistik.co.id – Pertanian tidak hanya dituntut meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menjaga produktivitas tanpa terus menambah ketergantungan pada pestisida dan bahan kimia. Saat lingkungan ikut terdampak, praktik pertanian berkelanjutan menjadi semakin penting.

Dalam kerangka sustainable agriculture, salah satu cara yang mulai banyak dibahas adalah diversifikasi tanaman di lahan budidaya. Lahan tidak selalu perlu ditutup tanaman utama saja, melainkan bisa diberi tanaman pendamping untuk membantu menyeimbangkan ekosistem. Langkah ini diharapkan mendukung intensifikasi pertanian sekaligus merawat biodiversitas.

Di antara pendekatan tersebut, refugia muncul sebagai konsep yang menarik perhatian petani dan peneliti. Refugia merujuk pada tanaman yang sengaja ditanam di sekitar lahan pertanian agar menyediakan habitat bagi musuh alami hama. Dengan begitu, pengendalian tidak semata-mata bergantung pada pestisida.

Refugia: rekayasa ekologi di tengah lahan budidaya

Prinsip refugia bekerja melalui desain agroekosistem. Petani merancang kondisi agar predator dan parasitoid yang memangsa hama dapat bertahan di sekitar tanaman budidaya. Kehadiran tanaman refugia membuat lingkungan pertanian lebih “ramah” bagi serangga menguntungkan tersebut.

Di praktiknya, refugia dapat ditempatkan sebagai bagian dari diversifikasi tanaman, termasuk di tepi atau sela area produksi. Dalam konsep yang lebih luas, refugia bahkan dapat diintegrasikan dalam pertanian presisi. Artinya, penempatan dan pilihan tanaman disesuaikan dengan jenis hama, komoditas yang ditanam, serta kondisi lahan yang dihadapi.

Manfaat refugia tidak berhenti pada pengendalian hama. Tanaman pendamping juga dapat berkontribusi pada konservasi biodiversitas dan memperkuat ketahanan sistem produksi pangan. Karena itu, penerapannya sering dipandang sebagai strategi multi-objektif.

Tanaman refugia: bunga berwarna dan penyedia makanan alami

Secara umum, tanaman refugia memiliki bunga yang menonjol dan mampu menyediakan nektar maupun serbuk sari bagi serangga. Dengan makanan dan tempat berlindung, serangga yang menjadi musuh alami hama memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Pada akhirnya, tekanan hama dapat ditekan melalui mekanisme hayati.

Penelitian di Desa Molamahu, Gorontalo, menunjukkan penggunaan tiga jenis refugia pada pertanian jagung. Tanaman tersebut terdiri atas bunga matahari (Helianthus annuus), kenikir (Cosmos caudatus), dan Tagetes erecta. Ketiganya ditanam di sekitar atau pada bagian tepi lahan jagung.

Penempatan refugia seperti itu membentuk semacam mikrohabitat di tengah kawasan pertanian. Pola ini tidak hanya memberi ruang bagi serangga menguntungkan, tetapi juga membantu mereka berinteraksi lebih dekat dengan tanaman utama. Refugia juga tidak terbatas pada tiga tanaman tersebut, selama prinsip dasarnya terpenuhi.

Intinya, tanaman yang dipilih harus mampu menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi serangga yang menguntungkan, sekaligus tetap serasi dengan tanaman utama dan hama yang ingin dikendalikan.

Bagaimana refugia “melawan” hama tanpa harus memusnahkan langsung

Refugia tidak bekerja dengan cara memakan hama secara langsung. Kuncinya ada pada penciptaan lingkungan yang memungkinkan predator dan parasitoid alami aktif di sekitar lahan. Dengan kata lain, tanaman pendamping menjadi pemicu ekosistem untuk berjalan dengan mekanisme hayati.

Bunga refugia menyediakan nektar yang kaya karbohidrat. Sumber energi ini mendukung musuh alami agar tetap mempertahankan aktivitas dan metabolisme. Nektar juga disebut membantu memperpanjang umur sejumlah parasitoid sehingga peran pengendalian biologis bisa lebih bertahan.

Sementara itu, serbuk sari berperan menyediakan protein, mineral, dan vitamin. Nutrisi tersebut berkaitan dengan umur, kesuburan, hingga fungsi fisiologis serangga yang menjadi musuh alami hama. Ketika kualitas nutrisi terpenuhi, potensi serangga menguntungkan untuk menjalankan siklus hidupnya juga meningkat.

Karena tersedia makanan dan tempat berlindung, predator serta parasitoid memiliki peluang lebih besar untuk bertahan di sekitar lahan. Mereka kemudian dapat memangsa telur, larva, maupun serangga hama yang menyerang tanaman budidaya. Dengan proses ini, mekanisme pengendalian berlangsung dari rantai makanan alami, bukan dari bahan kimia.

Dalam sistem refugia, sebagian hama juga dapat tertarik ke vegetasi pendamping. Saat hama berkumpul, pengelolaan menjadi lebih terarah melalui predator alami, pestisida nabati yang lebih terarah, maupun pengelolaan fisik terkait tanaman refugia. Pendekatan ini tetap menempatkan proses hayati sebagai fondasi, sementara intervensi lain digunakan secara lebih spesifik.

Tidak bisa asal tanam: presisi menentukan hasil

Meskipun terdengar sederhana, penerapan refugia perlu dilakukan secara tepat. Jenis tanaman, lokasi penanaman, jarak antartanaman, serta waktu berbunga harus disesuaikan dengan hama dan tanaman utama. Jika penempatan tidak sesuai kebutuhan ekologi, manfaat yang diharapkan bisa tidak optimal.

Dalam penelitian pada lahan jagung di Desa Molamahu, Gorontalo, Tagetes erecta ditanam mengelilingi tanaman jagung. Sementara itu, bunga matahari dan kenikir ditempatkan di tepi lahan serta sekitar saluran air. Susunan seperti ini menunjukkan bahwa refugia diperlakukan sebagai rekayasa ekosistem, bukan sekadar penghijauan.

Ketika diterapkan dengan presisi, refugia dapat membantu menjaga populasi musuh alami hama dan menekan kebutuhan perlindungan kimia. Pengendalian yang lebih berbasis ekologi diharapkan mengurangi ketergantungan pada pestisida. Pada praktiknya, hal tersebut dapat berpengaruh pada efisiensi pengelolaan lahan.

Dampak ekonomi: potensi hasil panen lebih baik

Selain menekan hama, refugia juga berpotensi memberi manfaat ekonomi bagi petani. Penggunaan tanaman pendamping membantu menekan kebutuhan pestisida sekaligus menjaga produksi. Dalam gambaran penelitian petani jagung di Desa Molamahu, Gorontalo, produksi jagung dengan refugia tercatat 10,51 ton per hektare.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan metode konvensional yang menghasilkan 6,67 ton per hektare. Perbedaan tidak hanya tampak pada produksi, tetapi juga pada pendapatan petani pengguna refugia, yang mencapai sekitar Rp33,52 juta per hektare. Metode konvensional tercatat sekitar Rp21,17 juta per hektare.

Biaya produksi juga disebut lebih rendah, seiring berkurangnya kebutuhan pestisida dan pupuk kimia. Meski hasil pada setiap lahan bisa berbeda, temuan tersebut memperlihatkan bahwa rekayasa ekologi melalui refugia relevan dari sisi lingkungan sekaligus ekonomi.

Pada akhirnya, refugia menawarkan cara untuk membuat lahan lebih seimbang. Petani tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga membangun sistem produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan desain yang tepat dan pemilihan tanaman pendamping yang sesuai, pengendalian hama dapat berjalan lebih alami tanpa menambah beban lingkungan.