jurnalistik.co.id – Jakarta memuat penegasan soal tahapan merger BUMN Karya. Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa proses konsolidasi belum bisa langsung dimulai karena masih diperlukan pembenahan mendasar.
Menurut Dony, lembaganya menilai ada kebutuhan waktu untuk memperkuat fondasi perusahaan karya milik negara tersebut sebelum masuk ke fase konsolidasi. Pembenahan itu tidak semata-mata bertujuan menyatukan entitas, melainkan juga menyasar kondisi internal dan tata kelola.
“Karena kalau dimergerkan kondisinya belum betul-betul baik, nanti jadi debat. Jadi kita perbaiki dulu,” kata Dony di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Dia menekankan bahwa penggabungan perusahaan yang kondisinya belum sehat berpotensi memunculkan persoalan baru. Karena itu, perbaikan perlu dilakukan terlebih dahulu agar proses berikutnya tidak kembali memunculkan isu yang sama dengan pola sebelumnya.
Dalam pandangannya, konsolidasi adalah tahap lanjutan yang harus ditopang oleh kinerja dan pengaturan yang lebih rapi. Tanpa itu, tujuan merger justru berisiko berubah menjadi perdebatan yang menyita energi dan perhatian.
Lebih jauh, Dony menyebut bahwa agenda pembenahan mencakup perbaikan kondisi perusahaan serta tata kelola, bukan hanya langkah teknis konsolidasi. Ia menggarisbawahi perlunya memastikan tata kelola berjalan lebih baik supaya persoalan yang sama tidak kembali terjadi setelah penggabungan dilakukan.
Dony juga menempatkan urgensi pembenahan pada aspek kesiapan. Dengan kata lain, sebelum konsolidasi dijalankan, pihak terkait perlu memastikan dasar-dasar operasional dan tata kelola berada dalam kondisi yang lebih matang.
Baginya, manajemen perubahan pada skala perusahaan BUMN menuntut kehati-hatian. Proses merger bukan sekadar penyatuan struktur, melainkan rangkaian penyesuaian yang menuntut kepastian pengelolaan agar stabilitas tetap terjaga.
Berita Terkait
Ia menilai bahwa jika merger dipaksakan ketika kondisi belum betul-betul baik, kemungkinan munculnya permasalahan akan meningkat. Risiko tersebut tidak hanya menyangkut operasional, tetapi juga dapat merembet ke dinamika pembahasan antar pihak.
Karena itu, pembenahan diposisikan sebagai prasyarat. Proses penguatan fundamental diarahkan agar tahapan konsolidasi berjalan dengan dasar yang lebih kokoh dan tidak menjadi sumber perdebatan baru.
“Jadi kita perbaiki dulu,” tambah Dony sebagai penekanan atas prioritas perbaikan sebelum konsolidasi dilakukan. Pernyataan tersebut merangkum arah strategi yang menempatkan perbaikan tata kelola dan kondisi perusahaan sebagai langkah awal.
Dengan sikap tersebut, BPI Danantara menegaskan bahwa tahapan restrukturisasi tidak boleh berdiri sendiri. Konsolidasi merger BUMN Karya dipandang harus disertai upaya pembenahan agar masalah tidak berulang, sekaligus memperkuat kesiapan perusahaan untuk memasuki fase integrasi.
Senin (26/10/2026) di Jakarta, Dony menyampaikan bahwa pendekatan tersebut bertujuan meminimalkan potensi ketidakpastian. Harapannya, dengan fondasi yang lebih baik, konsolidasi dapat berjalan lebih terarah dan mengurangi risiko munculnya persoalan baru di tengah proses.
Langkah itu juga dipandang sebagai bentuk penyelarasan agar semua pihak memiliki pegangan yang sama sebelum konsolidasi memasuki tahap lanjutan. Pembenahan yang dilakukan di awal diarahkan supaya perubahan berjalan terukur, bukan muncul lagi silang pendapat di kemudian hari ketika proses sudah berjalan.
Menurut penekanan Dony, penguatan fondasi berhubungan langsung dengan kualitas kesiapan perusahaan. Upaya tersebut menempatkan kondisi internal dan tata kelola sebagai bahan utama, sehingga saat konsolidasi dilakukan, perusahaan tidak mulai dari titik yang masih rawan dan berpotensi memunculkan keluhan atau perdebatan baru.
Ia menambahkan bahwa konsolidasi tidak bisa dipisahkan dari tuntutan pengelolaan yang lebih rapi. Dengan memastikan tata kelola dan kinerja berada pada jalur yang lebih mantap, arah merger diharapkan tetap fokus pada integrasi yang efektif, bukan terseret kembali pada isu yang sama seperti pola sebelumnya.
Dengan demikian, tahapan yang ditempuh lebih menyerupai penyiapan kondisi daripada lompatan langsung ke penggabungan. Harapannya, setelah perbaikan selesai dilakukan, proses berikutnya dapat bergerak dengan kepastian yang lebih tinggi dan risiko ketidakpastian dapat ditekan sedari awal.












