Bisnis & Ekonomi

Ekonom Nilai Kemenangan Demokrat Pemilu AS Dorong Sentimen Pasar Obligasi RI

×

Ekonom Nilai Kemenangan Demokrat Pemilu AS Dorong Sentimen Pasar Obligasi RI

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ekonom: Hasil Pemilu AS Berdampak ke Pasar Obligasi RI - Market

jurnalistik.co.id – Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela (midterm elections) Amerika Serikat dinilai akan membawa sentimen positif bagi perekonomian global, yang pada gilirannya ikut memengaruhi pasar keuangan Indonesia. Para ekonom melihat perubahan konfigurasi politik di Washington berpotensi mengurangi tekanan yang selama ini berdampak pada inflasi dan sejumlah asumsi pasar.

Dalam pandangan Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz, kemenangan itu membuka peluang meredanya tekanan inflasi melalui deeskalasi publik. Jalur tersebut, menurutnya, pada akhirnya dapat membantu menekan harga minyak dunia serta mempersempit ruang gerak Presiden AS Donald Trump saat menjalankan kebijakan tarif perdagangan.

Irman menekankan bahwa pengaruh politik tidak berhenti pada level narasi, tetapi merembet ke indikator pasar yang sensitif terhadap risiko. Ia menyebut setidaknya terdapat dua jalur transmisi yang dinilai positif bagi ekonomi global, sebelum kemudian berpotensi diteruskan ke Indonesia.

Jalur pertama: meredanya tensi geopolitik

Jalur pertama datang dari potensi deeskalasi geopolitik yang diyakini dapat mendorong penurunan harga minyak dunia. Dengan harga energi yang lebih terkendali, tekanan inflasi juga cenderung lebih mudah diredam, sehingga kondisi ekonomi global menjadi lebih suportif.

Irman menyampaikan keterkaitan tersebut melalui respons pasar atas kondisi geopolitik. Ia mengatakan, “Kalau Trump sulit bergerak, berarti perangnya akan deesklasi, harga minyaknya akan turun sehingga membuat US treasury yield itu juga turun. Dan kita udah lihat di beberapa hari terakhir ini, US treasury yield itu turun dari 5% ke 4,8%,” kata Irman dalam FGD BI di Sabang, Aceh, dikutip Jumat (6/11/2026).

Dalam kutipan itu, ia menghubungkan perubahan ekspektasi kebijakan luar negeri dengan pergerakan imbal hasil surat utang AS. Ketika imbal hasil bergerak turun, Irman memandang kondisi tersebut dapat menciptakan ruang yang lebih baik bagi pasar, termasuk bagi arus dana yang terhubung dengan aset berbasis imbal hasil.

Jalur kedua: pengawasan politik yang lebih ketat

Jalur lainnya, menurut Irman, muncul dari potensi pembatasan kebijakan tarif perdagangan AS. Baginya, kemenangan Demokrat yang menguasai Senat dan House of Representatives membuat langkah Trump berhadapan dengan pengawasan politik yang lebih kuat, sehingga kebijakan tarif tidak bergerak tanpa hambatan.

Dengan kontrol Demokrat pada dua kamar legislatif, risiko eskalasi kebijakan tarif dipandang lebih terukur oleh pasar. Implikasi praktisnya, ketidakpastian terkait arah kebijakan perdagangan dapat menurun, yang pada akhirnya turut memengaruhi proyeksi pelaku pasar terhadap inflasi dan biaya kebutuhan impor di berbagai kawasan.

Irman memposisikan kombinasi kedua jalur itu sebagai faktor yang dapat membentuk ulang ekspektasi pasar ke depan. Jika tensi geopolitik mereda dan ruang kebijakan tarif dipersempit, maka tekanan inflasi global berpeluang turun, sementara ketidakpastian kebijakan juga dapat terkendali.

Dalam konteks Indonesia, sentimen semacam ini dinilai relevan karena pergerakan imbal hasil dan ekspektasi inflasi global sering ikut tercermin pada instrumen pendapatan tetap di dalam negeri. Karena itu, perubahan dinamika politik di AS—khususnya setelah midterm elections—dipandang bisa menjadi penggerak sentimen yang berdampak pada pasar obligasi RI.

Secara keseluruhan, Irman melihat hasil pemilu sela tersebut sebagai pemicu potensial bagi perbaikan kondisi makro yang lebih ramah. Ia menilai kombinasi deeskalasi yang berpengaruh pada harga minyak dan pengawasan politik yang menekan ruang kebijakan tarif akan memperkuat arah sentimen positif di ekonomi global, sebelum akhirnya merembet ke pasar keuangan Indonesia.

Dalam prosesnya, mekanisme yang disorot Irman juga menitikberatkan bagaimana ekspektasi kian cepat tercermin dalam harga aset. Saat pelaku pasar menilai arah kebijakan luar negeri berpotensi berubah, imbal hasil surat utang AS ikut menyesuaikan, yang kemudian berpengaruh pada persepsi terhadap biaya pendanaan. Dari sudut pandang ekonomi, perubahan seperti ini bisa memperlancar transmisi penurunan tekanan inflasi tanpa harus menunggu dampak kebijakan bekerja lebih lama.

Selanjutnya, pengawasan politik yang lebih ketat terhadap tarif perdagangan dipahami sebagai faktor yang menekan risiko keputusan mendadak. Ketika ruang untuk langkah tarif dinilai terbatas, ketidakpastian mengenai arus perdagangan dan biaya impor ikut berkurang. Kondisi ini membuat proyeksi inflasi di tingkat global menjadi lebih stabil, sehingga pasar memiliki dasar yang lebih kuat untuk menyusun strategi investasi. Pada tahap berikutnya, pola stabilitas tersebut berpotensi ikut membentuk arah sentimen pasar keuangan Indonesia, terutama pada instrumen berdenominasi rupiah yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi makro.