Bisnis & Ekonomi

Reli Global Angkat Obligasi, Yield Turun & Rupiah Menguat

×

Reli Global Angkat Obligasi, Yield Turun & Rupiah Menguat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Aksi Beli Topang Pasar Obligasi, Yield Turun & Rupiah Menguat - Market

jurnalistik.co.id – Pasar obligasi domestik memperoleh dorongan dari suasana yang lebih positif di pasar global, yang tercermin dari penurunan imbal hasil pada berbagai tenor. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah ikut menguat sejalan dengan membaiknya sentimen.

Pada Kamis (5/11/2026), pergerakan obligasi dalam negeri bergerak mengikuti arah pasar obligasi global. Imbal hasil (yield) untuk sebagian besar tenor terlihat mulai terkoreksi ke bawah, menandakan minat beli yang lebih baik.

Menurut data Bloomberg yang dicatat pada 09:16 WIB, penurunan yield paling tajam terjadi pada tenor 4 tahun. Yield tenor tersebut turun 3,1 basis poin (bps) menjadi 7,51%.

Tenor 1 tahun juga mencatat penurunan, dengan yield turun 2,8 bps menjadi 7,02%. Pola yang sama terlihat pada tenor 5 tahun, yang turun 2,7 bps menjadi 7,53%, sementara tenor acuan 10 tahun terkoreksi lebih tipis sebesar 0,7 bps menjadi 7,72%.

Perubahan level yield ini memperlihatkan bahwa pergeseran harga obligasi terjadi secara merata, meski besaran pergerakannya berbeda antar tenor. Dengan kata lain, dorongan pembelian tidak hanya terkonsentrasi pada satu segmen waktu.

Penguatan obligasi berdenominasi dolar AS

Tak hanya pasar surat utang dalam mata uang domestik, obligasi berdenominasi dolar AS (INDON) juga mendapatkan dukungan dari aksi beli pada berbagai tenor. Yield pada sejumlah tenor kembali turun, mengindikasikan sentimen yang lebih suportif terhadap instrumen-instrumen berdenominasi valas.

Pada tenor 10 tahun, yield tercatat turun 4,1 bps menjadi 5,9%. Penurunan juga terlihat pada tenor 7 tahun yang turun 3,5 bps menjadi 5,73%.

Selanjutnya, tenor 3 tahun turun 2,7 bps menjadi 4,98%, sedangkan tenor 5 tahun melandai 2,2 bps menjadi 5,44%. Kombinasi penurunan pada beberapa tenor ini menggambarkan pergerakan yang konsisten dari sisi harga.

CDS dan rupiah ikut menguatkan narasi

Pergerakan yield di pasar INDON dan SUN juga berjalan beriringan dengan melandainya Credit Default Swap (CDS) 5 tahun. Nilai CDS tersebut turun ke level 100, setelah sempat bertengger di angka 104.

Ketika indikator seperti CDS bergerak turun, biasanya muncul ekspektasi yang lebih positif terkait persepsi risiko. Dalam konteks sesi ini, penurunan CDS sejalan dengan penurunan yield yang terjadi pada berbagai tenor surat utang.

Di pasar valuta, rupiah tercatat menguat 0,41% menjadi Rp18.090/US$. Penguatan mata uang ini menjadi tambahan penopang suasana yang lebih kondusif bagi aktivitas investasi di aset-aset finansial.

Kombinasi antara yield yang menurun, CDS 5 tahun yang membaik, serta rupiah yang menguat memperlihatkan keterkaitan antar segmen pasar. Meski mekanismenya berbeda, arah pergerakan yang sejalan membantu memperkuat sentimen secara keseluruhan.

Dengan kondisi global yang menguat, investor cenderung lebih nyaman menempatkan dana pada instrumen pendapatan tetap, yang tercermin dari yield yang terpangkas pada tenor pendek hingga panjang. Sentimen ini sekaligus menjadi faktor yang mempengaruhi harga obligasi baik dalam rupiah maupun dalam denominasi dolar AS.

Secara keseluruhan, sesi Kamis (5/11/2026) menunjukkan bahwa dukungan dari pasar global memberi ruang perbaikan pada imbal hasil obligasi domestik. Di tengah pergerakan yang lebih positif, rupiah ikut menguat dan CDS 5 tahun bergerak lebih rendah dibanding level sebelumnya.

Perubahan tersebut memberi sinyal bahwa pasar sedang merespons faktor eksternal secara lebih konstruktif. Ke depan, arah yang sama akan tetap menjadi perhatian, terutama untuk melihat apakah tren penurunan yield dan penguatan rupiah berlanjut di sesi-sesi berikutnya.