jurnalistik.co.id – Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDIP, Harris Turino, membagikan pandangannya soal kebiasaan menabung dan langkah awal investasi kepada anak-anak muda dalam Lampung Financial Festival 2026 di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).
Dalam kesempatan itu, ia mendorong para peserta untuk memulai dari ukuran yang realistis, yakni menyisihkan 20% uang saku. Bila dihitung kira-kira setara dengan Rp 300 ribu per bulan, menurutnya jumlah tersebut bisa dijadikan rutinitas untuk menabung maupun masuk ke instrumen investasi.
Ia menekankan pentingnya konsistensi, bukan besarnya modal di awal. “Anda setiap bulan bisa investasi Rp300 ribu saja, tiga ratus ribu saja, beli saham terus diam, beli lagi bulan depan terus diam, beli lagi bulan depan terus diam, saya jamin umur empat puluh tahun Anda akan jadi orang yang kekayaannya setara dengan Pak CT, ya kan?” paparnya.
Menurut Harris, horizon waktu juga memengaruhi ekspektasi hasil. “(Usia) 40 tahun, yakni 20 tahun dari sekarang, kekayaan Anda pasti jauh lebih besar dari apa yang saya bilang saat ini. Ini kata OJK,” tambahnya.
Mulai dari kebiasaan, lalu perhatikan pilihan instrumen
Di sisi lain, ia tidak ingin anak muda hanya berpatokan pada jumlah setoran. Ia mengingatkan agar sebelum membeli produk investasi, calon investor memahami latar belakang perusahaan yang dipilih.
Harris menyarankan para pemula untuk menelusuri informasi perusahaan secara mandiri. “anak muda bisa mencari tahu di Google terkait dengan profil saham perusahaan yang dituju,” ujarnya, seraya mengingatkan agar tidak mengambil keputusan tanpa pemahaman.
Ia juga menegaskan batasan praktis dalam memilih saham. “Jangan beli saham yang angel-angel, yang bisnisnya tdk kita mengerti,” katanya. Pesan tersebut ia sampaikan dengan tujuan agar langkah investasi tetap berada dalam kendali pengetahuan investor itu sendiri.
Berita Terkait
Untuk mempermudah pemula, ia meminta investor muda mempertimbangkan saham-saham LQ45. Harris menjelaskan, “saham-saham di LQ45 sudah dikurasi dengan baik sesuai dengan performa perusahaan.” Dengan cara itu, menurutnya, pencarian referensi investasi tidak perlu dimulai dari pilihan yang terlalu spekulatif.
Waspadai iming-iming keuntungan besar dan praktik investasi bodong
Harris turut mengingatkan agar anak muda tidak mudah tergoda oleh imbal hasil yang terlihat terlalu menarik dalam waktu singkat. Ia menyampaikan bahwa pola mengejar bunga atau keuntungan besar berisiko menyeret seseorang pada jenis investasi yang tidak jelas.
“Jangan mau invest di tempat yang beri bunga besar, jangan seperti itu, itu (bisa jadi) bodong,” ujarnya. Ia menyebut risiko tersebut sebagai kategori “investasi bodong”, yang bisa menjerumuskan peserta yang belum memiliki dasar penilaian yang memadai.
Selain itu, ia juga menyoroti tren investasi yang sedang ramai diperbincangkan. Pada bagian terkait investasi kripto, Harris mengingatkan agar pemula benar-benar memahami karakter investasi tersebut sebelum memutuskan untuk terjun.
Ia menilai banyak kasus berawal dari keinginan ikut arus tanpa pengetahuan yang cukup. “Kita sering sekali terjadi yang lagi ngetren investasi kripto, kita nggak ngerti sama sekali tentang kripto maka kita ikutan beli kripto, ya. Investasi yang seperti itu dijamin, dijamin Anda akan rugi,” ujarnya.
Dari keseluruhan pesannya, Harris menempatkan investasi saham sebagai opsi yang relatif lebih aman bagi anak muda, selama dilakukan dengan literasi dasar dan pilihan yang tidak dilakukan secara asal-asalan. Menurutnya, kedisiplinan menabung melalui setoran rutin, disertai pemahaman terhadap perusahaan, menjadi landasan penting sebelum seseorang mengejar tujuan finansialnya.
Dengan konteks tersebut, Harris mengajak peserta untuk memulai langkah kecil yang bisa dijalankan terus-menerus. Ia meletakkan konsistensi sebagai kunci awal, lalu menekankan pengenalan profil instrumen serta kewaspadaan terhadap iming-iming berlebihan yang berpotensi mengarah pada praktik merugikan.












