jurnalistik.co.id – El Nino berdampak pada penyusutan debit air di beberapa sungai besar di Kalimantan, termasuk Sungai Barito dan Sungai Mahakam. Penurunan volume air ini berimbas pada kelancaran operasional tongkang pengangkut batu bara, sekaligus membuka potensi gangguan pada rantai distribusi hingga ekspor.
Dari pantauan Bloomberg Technoz, kondisi hidrologi yang melemah membuat aktivitas yang bergantung pada jalur air berisiko mengalami penyesuaian. Pada praktiknya, perubahan debit dapat mengganggu jadwal pergerakan armada sungai dan proses pemuatan di titik-titik yang terhubung dengan hilir menuju pelabuhan laut lepas.
Sejumlah perusahaan batu bara memang menggunakan Barito dan Mahakam sebagai koridor logistik. Karena itu, ketika debit menyusut, alur distribusi yang bertumpu pada tongkang berpotensi tersendat, baik dari sisi pengiriman dari lokasi tambang menuju fasilitas pemuatan, maupun dari fasilitas tersebut menuju titik transshipment di laut lepas.
Sungai Mahakam: potensi dampak pada rantai bongkar-muat
PT Harum Energy Tbk (HRUM) menempatkan proses awal batu baranya di berbagai lokasi penambangan di Kalimantan Timur. Dalam alur distribusi yang dijelaskan melalui situs resminya, batu bara dialirkan menggunakan truk dari lokasi tambang, yakni MSJ dan SBB, menuju fasilitas pengolahan, penimbunan, serta pemuatan tongkang di Separi.
Perjalanan dari lokasi tambang ke fasilitas tersebut ditempuh sejauh hingga 50 km. Setelah bahan bakar fosil itu diproses dan siap muat, batu bara kemudian dimuat ke kapal-kapal sesuai tujuan pengapalan berikutnya.
HRUM juga menekankan bahwa hampir seluruh batu bara yang dijualnya dimuat ke kapal-kapal pelanggan di laut lepas. Di Pelabuhan Separi, batu bara dibongkar ke tongkang dengan kapasitas sekitar 8.000 ton untuk tiap unit, sebelum akhirnya diangkut menuju tempat penambatan transshipment di perairan laut lepas di Muara Berau.
Bila debit Mahakam menurun, tahap pemuatan dan pergerakan tongkang dari titik pemuatan menuju area transshipment dapat menjadi bagian yang paling terdampak. Hambatan pada salah satu mata rantai tersebut dapat merembet ke tahap berikutnya dalam pengapalan, termasuk kebutuhan penjadwalan ulang.
Berita Terkait
BYAN dan fasilitas pemuatan tongkang di Mahakam
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memiliki tambang Teguh Sinar Abadi (TSA) dan Firman Ketaun Perkasa (FKP) di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dari kedua lokasi tersebut, tambang BYAN memproduksi sekitar 3 juta ton batu bara bituminus per tahun.
Untuk distribusi, batu bara dari area tambang diangkut sejauh 20—25 kilometer menuju fasilitas pemuatan tongkang yang dimiliki serta dioperasikan oleh Bayan Group di Sungai Mahakam. Jarak angkut ke fasilitas pemuatan ini menjadi tahap penghubung yang perlu dijaga alurnya agar tongkang dapat terus beroperasi sesuai kebutuhan logistik.
Fasilitas pemuatan tongkang yang disebut dalam informasi perusahaan memiliki kapasitas penghancuran sebesar 1.000 ton per jam. Fasilitas tersebut juga mempunyai kapasitas tumpukan total 400.000 ton, sekaligus kapasitas pemuatan tongkang hingga 2.000 ton per jam.
Selain itu, fasilitas tersebut menangani tongkang dengan kapasitas sekitar 7.500 ton. Dengan adanya perubahan debit di sungai, operasional tongkang—terutama dari sisi kesiapan muatan dan ritme pemuatan—berpotensi menghadapi kendala yang pada akhirnya memengaruhi kelancaran aliran distribusi.
Dalam konteks efek El Nino, penyusutan debit air yang terjadi di Mahakam dan Barito memperjelas bahwa logistik batu bara yang bergantung pada jalur air tidak sepenuhnya lepas dari risiko cuaca dan kondisi lingkungan. Ketika sungai mengalami penurunan debit, gangguan terhadap pengoperasian tongkang menjadi salah satu faktor yang dapat berujung pada potensi terganggunya ekspor.
Karena itu, perhatian terhadap kondisi hidrologi menjadi relevan bagi emiten yang menjadikan sungai sebagai jalur distribusi utama. HRUM dan BYAN, misalnya, memperlihatkan bagaimana tahapan mulai dari pengangkutan ke fasilitas pemuatan, pemuatan tongkang, hingga transshipment di laut lepas terhubung dalam satu rangkaian yang sensitif terhadap perubahan debit.
Keseluruhan gambaran tersebut menunjukkan bahwa El Nino bukan hanya isu meteorologi, tetapi juga memiliki konsekuensi operasional yang dapat mempengaruhi distribusi batu bara melalui sungai. Ketika debit berkurang, perusahaan dengan ketergantungan tinggi pada jalur air perlu menyiapkan penyesuaian agar arus logistik tetap berjalan dan target pengapalan tidak terganggu secara berkelanjutan.












