jurnalistik.co.id – Sebagian analis sedang menakar kapan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat kembali menuju level puncaknya setelah mengalami koreksi lebar sepanjang tahun ini. Pengukuran itu dilakukan dengan mempertimbangkan tekanan dari MSCI serta dinamika ekonomi dan politik di dalam negeri.
Menurut catatan Danareksa Investment Management Indonesia (DIMI) yang dikutip Bloomberg Technoz, IHSG telah melemah 43% dari posisi puncaknya pada tahun ini. Pelemahan tersebut dikaitkan dengan risiko reklasifikasi indeks MSCI, yang memengaruhi arus investasi dan sentimen pasar.
Dalam penilaiannya, DIMI menempatkan kedalaman koreksi saat ini dalam konteks beberapa episode besar sebelumnya. Koreksi indeks komposit pada periode kali ini disebut lebih dalam dibanding perang dagang 2018 yang mencatat penurunan sekitar 14%, taper tantrum 2013 yang susut sekitar 24%, serta pergeseran kebijakan sepanjang 2015 yang berakhir dengan penurunan sekitar 25%.
Meski demikian, catatan tersebut juga menekankan batas pembanding yang lebih berat. “Namun, koreksi tersebut masih di bawah krisis global 2008 (-61%) dan krisis Asia 1997–1998 (-65%),” dikutip dari catatan DIMI pada Selasa (27/10/2026).
Rentang waktu pemulihan: dari 12 hingga 79 bulan
Selain membandingkan besaran penurunan, DIMI turut mengulas waktu yang dibutuhkan IHSG untuk pulih hingga kembali ke puncak sebelumnya pada sejumlah episode krisis. Dalam catatan itu, waktu pemulihan menuju puncak sebelumnya disebut bervariasi, berada pada kisaran 12 sampai 79 bulan.
Berita Terkait
Rentang yang lebar ini menggambarkan bahwa pemulihan pasar tidak berlangsung dalam satu pola yang sama untuk setiap periode tekanan. Perbedaan kondisi di masing-masing episode—termasuk pemicu awal dan perputaran sentimen—membuat durasi pemulihan bisa bergerak dari skenario yang relatif lebih cepat hingga yang membutuhkan waktu lebih panjang.
Dengan kerangka tersebut, perhatian pasar pada IHSG tahun ini tidak hanya tertuju pada kedalaman koreksi, tetapi juga pada dinamika lanjutan yang menentukan fase berikutnya. Tekanan yang terkait MSCI, ditambah perubahan dalam peta ekonomi dan politik domestik, menjadi bagian dari variabel yang ikut membentuk kecepatan pemulihan.
Pelajaran dari episode-episode terdahulu juga bisa dibaca dari perbedaan angka koreksi yang disebut DIMI. Saat penurunan pada 2018 sekitar 14%, pada 2013 sekitar 24%, dan pada 2015 sekitar 25%, masing-masing tetap berakhir pada pola pemulihan yang berbeda-beda. Pada saat yang sama, koreksi yang terjadi selama krisis 2008 sebesar -61% dan krisis Asia 1997–1998 sebesar -65% menunjukkan bahwa tekanan ekstrem historis dapat memaksa pasar melewati fase pemulihan yang lebih panjang.
Dengan mengacu pada catatan DIMI, analis dapat menyusun ekspektasi berbasis rentang waktu, bukan sekadar menunggu pemulihan dalam kerangka yang seragam. Namun, kisaran 12 hingga 79 bulan juga berarti bahwa setiap upaya “menerka waktu” perlu ditempatkan dalam probabilitas yang berbeda sesuai konteks episode yang sedang dialami.
Pada akhirnya, penaksiran waktu pemulihan IHSG pascakoreksi lebar menjadi bagian dari proses membaca siklus pasar. Ketika koreksi tahun ini tercatat 43% dari puncaknya serta dipengaruhi risiko reklasifikasi indeks MSCI, peta perjalanan menuju level puncak kembali sebagaimana dirangkum DIMI mengarah pada pemahaman bahwa pemulihan dapat berlangsung cepat atau lambat, tergantung fase dan kombinasi faktor yang bekerja.
Dalam praktiknya, rentang 12 hingga 79 bulan dapat dipakai sebagai batas pemantauan yang lebih realistis bagi pelaku pasar. Alih-alih menunggu pemulihan segera, pendekatan berbasis episode membantu menempatkan IHSG dalam fase transisi yang berbeda-beda, mulai dari tahap tekanan hingga mulai terbentuknya perbaikan sentimen.
Karena pemulihan tidak berjalan seragam, perhatian pasar umumnya akan bergerak mengikuti perubahan di faktor pengungkitnya. Ketika tekanan yang terkait MSCI dan dinamika ekonomi-politik domestik bergeser, respons pasar terhadap laju pemulihan juga ikut berubah, sehingga perkiraan waktu kembali ke puncak sebelumnya perlu selalu disesuaikan dengan konteks episode yang sedang berlangsung.












