Bisnis & Ekonomi

Tekanan pada DCII dan BREN, IHSG Turun ke Zona Merah

×

Tekanan pada DCII dan BREN, IHSG Turun ke Zona Merah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Diperberat Saham DCII dan BREN, IHSG Terpeleset ke Zona Merah - Market

jurnalistik.co.id – Pada penutupan perdagangan Sesi I hari Selasa (27/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah dan berakhir di zona merah.

Indeks turun 0,32% ke level 5.355, setelah sempat bergerak dalam rentang 5.418 hingga mencapai 5.338 selama sesi berlangsung.

Pergerakan dan aktivitas transaksi

Performa IHSG pada tahap awal perdagangan menunjukkan tekanan jual yang masih cukup terasa.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi mencapai Rp5,68 triliun dengan volume 15,92 miliar saham yang diperdagangkan.

Frekuensi perdagangan tercatat 947 ribu kali, mengindikasikan aktivitas pasar yang tetap ramai meski indeks bergerak menurun.

Penurunan IHSG juga dikaitkan dengan melemahnya saham-saham tertentu, termasuk DCII dan BREN yang mengalami tekanan.

Di tengah kondisi tersebut, investor tampak lebih berhati-hati dalam merespons pergerakan harga di berbagai emiten.

Rupiah melemah dan sentimen regional

Arah pergerakan IHSG turut sejalan dengan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Rupiah berada di kisaran Rp18.141/US$, sehingga menambah ketidakpastian bagi pasar yang sensitif terhadap pergerakan kurs.

Selain faktor mata uang, tensi antara Indonesia dan Singapura disebut masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Harga minyak, arus dana asing, dan sikap menunggu

Masalah lain yang ikut memberatkan sentimen berasal dari kondisi global, termasuk harga minyak yang berada di level US$114 per barel.

Di sisi lain, arus dana asing (outflow) juga dilaporkan meningkat, yang dapat memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran saham di bursa.

Menjelang rilis laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar, pelaku pasar cenderung menerapkan strategi wait-and-see.

Langkah menunggu ini umumnya membuat pasar lebih selektif, sehingga pergerakan indeks menjadi lebih rentan mengikuti perubahan sentimen harian.

Dengan kombinasi tekanan dari saham-saham yang terpantau tertekan serta latar sentimen eksternal dan finansial yang belum mereda, IHSG pada Sesi I belum mampu beralih ke fase penguatan.

Investor kini menantikan perkembangan lanjutan hingga penghujung sesi, termasuk respons pasar terhadap informasi baru yang biasanya muncul seiring mendekatnya agenda pelaporan emiten.

Meski sempat bergerak bolak-balik di sepanjang sesi, tekanan jual terlihat lebih dominan dibanding upaya penguatan. Pergerakan yang terkurung di rentang yang sempit menunjukkan pasar masih kesulitan mencari pijakan arah, sehingga setiap percobaan naik relatif cepat mendapat respons jual. Kondisi ini membuat IHSG cenderung mengikuti perubahan sentimen secara harian, tanpa mampu membalikkan tren melemah.

Aktivitas perdagangan yang tergolong tinggi juga terlihat dari besarnya nilai transaksi dan volume saham yang berpindah tangan. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp5,68 triliun dengan volume mencapai 15,92 miliar saham, sementara frekuensi perdagangan berada di kisaran 947 ribu kali. Angka-angka tersebut mencerminkan pasar tetap likuid, namun likuiditas yang ramai tidak otomatis berujung pada pembalikan arah indeks karena pelaku pasar masih memilih bertahan dan menahan keputusan.

Di sisi eksternal, pelemahan rupiah terhadap dolar AS turut menambah kehati-hatian pelaku bursa. Rupiah disebut berada di level sekitar Rp18.141/US$, sehingga sentimen pasar menjadi lebih sensitif terhadap perkembangan kurs. Selain itu, perhatian juga diarahkan pada dinamika hubungan antara Indonesia dan Singapura, yang membuat investor mempertimbangkan ulang faktor risiko sebelum mengambil posisi agresif.

Dari faktor global, harga minyak yang berada di kisaran US$114 per barel disebut menjadi salah satu beban sentimen. Ditambah laporan arus dana asing (outflow) yang meningkat, keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar berpotensi bergeser. Menjelang rilis laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar, banyak investor menerapkan strategi menunggu, sehingga perdagangan berlangsung lebih selektif. Dengan pola tersebut, IHSG berpeluang tetap mengikuti sentimen sampai ada sinyal baru di penghujung sesi.