Bisnis & Ekonomi

IHSG Melorot, Saham Grup Prajogo Pangestu Jadi Beban Indeks

×

IHSG Melorot, Saham Grup Prajogo Pangestu Jadi Beban Indeks

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Tertekan, Saham Prajogo Pangestu Jadi Pemberat - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada sesi I Jumat (30/10/2026). Pada penutupan perdagangan tahap awal hari ini, indeks berada di level 5.032 atau turun 1,29% dibanding posisi sebelumnya.

Sebelum berakhir di 5.032, IHSG sempat tergelincir dan menyentuh titik terendah di 4.979. Sepanjang pergerakan sesi I, tekanan jual terlihat membuat indeks sulit beranjak dari area pelemahan.

Penurunan tajam pada sesi awal tersebut tercermin dari rentang pergerakan IHSG yang bergerak di kisaran 5.116 hingga 4.979. Pola pergerakan ini disebut sejalan dengan kondisi pada masa pandemi Covid-19 pada tahun 2020, ketika indeks juga berada pada rentang serupa.

Aktivitas perdagangan hingga siang hari menunjukkan animo yang tetap ramai meski harga tertekan. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp5,99 triliun, dengan volume 25,45 miliar saham yang diperdagangkan dari frekuensi sekitar 718 ribu kali transaksi.

Pada kelanjutan sesi, IHSG melanjutkan penurunan dan bertahan di zona merah. Penurunan terdalam kembali mengarah pada level 4.979 yang menjadi rujukan titik terendah hari itu.

Saham Grup Prajogo jadi pemberat utama

Tekanan pada IHSG banyak bersumber dari pelemahan saham-saham yang tergabung dalam Grup Prajogo Pangestu. Salah satu yang paling memengaruhi pergerakan indeks adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), yang anjlok hingga masuk zona Auto Reject Bawah (ARB).

BRPT turun sebesar 6,95% dan diperdagangkan di kisaran Rp1.070 per saham. Di tengah kondisi tersebut, arus jual pada saham BRPT menjadi salah satu faktor yang membuat IHSG tetap berada di bawah tekanan.

Beban indeks tidak berhenti pada BRPT. Artikel mencatat, saham lain dari Grup Prajogo juga ikut terpuruk, yaitu PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA).

Keempat saham tersebut disebut sama-sama melemah hingga berada pada level ARB. Pada saat yang sama, transaksi menunjukkan antrean jual dalam jumlah besar, bahkan dengan anomali antrian yang mencapai ratusan ribu lot untuk saham-saham terkait.

Kombinasi penurunan beberapa emiten sekaligus inilah yang menjaga IHSG tetap tertekan sepanjang sesi I. Dengan IHSG ditutup di 5.032 setelah sempat menyentuh 4.979, sentimen pasar pada tahap awal perdagangan Jumat terlihat cenderung didorong oleh tekanan dari saham-saham tersebut.

Meski sempat berusaha bergerak lebih tinggi, pergerakan IHSG pada sesi I justru menunjukkan kecenderungan turun yang dominan. Setelah turun dari area sekitar 5.116 dan sempat menyinggung 4.979, indeks tidak mampu bertahan di atas level psikologis yang lebih tinggi, lalu pada tahap akhir sesi I berakhir di 5.032.

Aktivitas perdagangan yang terlihat tetap aktif menjadi salah satu gambaran bahwa bursa tidak sepi dari transaksi, meskipun arah harga melemah. Dengan total nilai transaksi mencapai Rp5,99 triliun dan volume 25,45 miliar saham pada frekuensi sekitar 718 ribu kali, dinamika di pasar lebih menyerupai pertarungan antrean jual-beli, namun tekanan jual lebih sering memenangkan arah.

Lebar rentang pergerakan pada hari itu juga memperkuat kesan volatilitas yang besar. Jarak antara kisaran 5.116 hingga 4.979 menempatkan pergerakan IHSG dalam pola yang disebut sejalan dengan kondisi pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, ketika indeks pun bergerak dalam rentang yang relatif serupa dan sulit keluar dari zona tekanan.

Dalam fase penurunan, beban indeks disebut paling menonjol berasal dari saham-saham dalam Grup Prajogo Pangestu. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi salah satu pemicu karena pelemahannya membawa indeks tetap berada di bawah tekanan, terlebih ketika BRPT sudah mengalami penurunan hingga masuk area Auto Reject Bawah (ARB) dan diperdagangkan di kisaran Rp1.070.

Pola pelemahan tidak berhenti pada BRPT saja, melainkan menjalar pada beberapa emiten lain dari grup yang sama, yakni PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). Keempat saham tersebut disebut sama-sama berada pada level ARB, sementara pada saat yang sama transaksi menunjukkan antrean jual dalam jumlah besar, termasuk adanya anomali antrian yang mencapai ratusan ribu lot, sehingga sentimen tahap awal perdagangan tetap condong ke fase penjualan.