jurnalistik.co.id – September sudah beralih ke Oktober, tetapi potret pergerakan pasar pada periode 1–30 September 2026 masih meninggalkan kontras yang tajam. Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun sekitar 7%, sejumlah saham pilihan justru mampu mencetak imbal hasil sampai ratusan persen.
Berdasarkan data Bloomberg, IHSG tergelincir minus 6,96% sepanjang perdagangan September 2026 dan ditutup di level 6.071. Pergerakan indeks yang melemah itu terjadi saat banyak pelaku pasar menunggu arah baru, sementara performa saham individu bergerak dengan ritme yang berbeda.
Di periode yang sama, tercatat bahwa ada saham-saham yang tetap mampu membukukan keuntungan jauh lebih tinggi dibanding arah indeks. Terdapat satu saham yang disebut mencapai cuan hingga sekitar 300%, bahkan ketika IHSG melaju amat lesu.
IHSG melemah, tetapi tidak semua saham ikut terseret
Sepanjang bulan September 2026, indeks tidak hanya bergerak turun, tetapi juga menegaskan tekanan jual yang membuat sentimen cenderung defensif. IHSG mencatat penurunan minus 6,96% selama rentang 1–30 September 2026 dan berakhir di 6.071 pada akhir periode tersebut.
Namun, besaran pelemahan indeks tidak selalu berarti seluruh saham mengalami nasib yang sama. Bloomberg mencatat, di saat IHSG terbenam di zona merah, masih ada saham yang justru menghasilkan return yang sangat menonjol.
Dari informasi yang dihimpun, setidaknya empat saham tercatat mampu mencatat kenaikan di atas 100% selama periode September 2026. Angka itu menggambarkan bahwa sebagian emiten berhasil menjaga daya tariknya di tengah kondisi indeks yang melemah.
Saham tercuan mencatat lonjakan hingga ratusan persen
Berita Terkait
Kontras paling mencolok terlihat pada kelompok saham tercuan. Sejumlah saham disebut memberikan imbal hasil hingga ratusan persen selama perdagangan September 2026. Dalam narasi yang sama, disebut pula adanya saham yang mencetak cuan hingga sekitar 300% saat IHSG berada dalam kondisi yang sangat lesu.
Di antara contoh yang disebut dalam ringkasan tersebut adalah saham SEMA. Disebutkan bahwa SEMA masuk dalam daftar saham tercuan pada bulan September 2026, yang menunjukkan bahwa tidak semua pergerakan bergantung pada arah indeks.
Selain SEMA, Bloomberg juga menekankan bahwa ada momen ketika pasar menyaksikan lebih dari satu saham mencetak lonjakan berkelanjutan dalam konteks periode yang sama. Keuntungan yang jauh di atas rata-rata menjadi ciri yang menonjol pada sebagian emiten pilihan pada September 2026.
Di sisi lain, ada juga saham yang terpuruk tajam
Meski kelompok saham tercuan berhasil menampilkan kinerja yang kuat, periode September 2026 juga diwarnai oleh saham-saham yang justru mengalami kemerosotan. Bloomberg menyebut bahwa terdapat pula saham yang mencatat kinerja paling “boncos” dalam satu bulan perdagangan dan menempati jajaran top losers.
Dengan kata lain, bulan September tidak hanya menghadirkan cerita kenaikan pada sejumlah emiten, tetapi juga memperlihatkan adanya perbedaan tingkat ketahanan antar saham ketika IHSG melemah. Situasi ini membuat peta performa pasar pada periode 1–30 September 2026 menjadi lebih berlapis: ada yang melaju, ada yang tertinggal, dan keduanya muncul dalam waktu yang sama.
Perbedaan itu semakin terasa jika dikaitkan dengan penurunan IHSG sebesar minus 6,96% dan penutupan di level 6.071 pada akhir September. Di tengah indeks yang turun, saham-saham tertentu tetap mampu menghasilkan return signifikan, termasuk keberadaan saham yang disebut mendekati kisaran cuan sekitar 300%.
Secara keseluruhan, laporan tersebut menyoroti bahwa rotasi perhatian pasar pada September 2026 tidak berhenti pada ukuran indeks saja. Walaupun IHSG merosot sekitar 7%, para pelaku pasar tetap melihat adanya jejak kinerja positif pada saham-saham tertentu, termasuk empat saham yang tercatat mampu naik di atas 100%, serta penyebutan SEMA sebagai bagian dari saham tercuan.
Adapun pada saat yang bersamaan, gambaran risiko tetap terlihat dari adanya saham-saham yang masuk jajaran top losers sepanjang September 2026. Kontras antara tercuan dan terboncos inilah yang menandai dinamika pasar ketika kalender berubah dari September menuju Oktober.



