Bisnis & Ekonomi

Ketegangan Selat Hormuz Menekan Bursa Saham Asia – Market

×

Ketegangan Selat Hormuz Menekan Bursa Saham Asia – Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Isu Selat Hormuz Bayangi Pergerakan Bursa Saham Asia - Market

jurnalistik.co.id – Ketegangan yang berpusat di Selat Hormuz kembali menjadi pemicu volatilitas di pasar keuangan global. Sentimen Timur Tengah itu mendorong kenaikan harga minyak, sementara bursa-bursa Asia justru cenderung melemah.

Di Amerika Serikat, penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz disebut meningkatkan tensi menjelang perkembangan berikutnya. Pasar kemudian merespons melalui penyesuaian harga pada aset berisiko maupun instrumen pendapatan tetap.

Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS menunjukkan kehati-hatian investor. Obligasi tenor pendek memimpin pelemahan, dengan imbal hasil obligasi dua tahun naik hingga lima basis poin menjadi 4,90%.

Pola serupa juga terlihat pada obligasi acuan bertenor lebih panjang. Imbal hasil obligasi 10 tahun naik empat basis poin, setelah pekan lalu sempat melonjak 16 basis poin.

Sentimen yang sama turut menekan obligasi dari negara lain. Obligasi pemerintah Jepang dan Australia juga tercatat melemah, mengindikasikan bahwa dorongan dari faktor suku bunga dan ekspektasi risiko menyebar lintas pasar.

Di sisi komoditas, minyak mentah bergerak lebih menguat. Harga Brent naik 1,3% menjadi sekitar US$105,70 per barel, mengikuti respons pasar atas perkembangan terkait Selat Hormuz.

Dalam pemberitaan, Iran disebut mempertahankan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Kondisi ini membuat premi risiko pada energi tetap terasa, sehingga harga minyak mendapatkan dukungan.

Namun, penguatan minyak tidak diiringi perbaikan pada aset lain yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter. Emas justru terkoreksi, seiring kebuntuan yang memengaruhi persepsi biaya energi dan tekanan terhadap otoritas moneter AS.

Harga emas merosot 1,2% menjadi sekitar US$4.233 per ons. Pembacaan pasar mengaitkan pelemahan ini dengan jalur pelayaran yang disebut masih mengalami kemacetan, sehingga biaya energi diperkirakan tetap tinggi dan mendorong kekhawatiran tekanan inflasi.

Konsekuensinya, ekspektasi terhadap Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga disebut bertahan. Dalam kondisi seperti ini, logam mulia sering menghadapi tantangan karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan daya tarik aset non-imbal hasil.

Dampak ke bursa Asia dan indeks utama

Di pasar saham kawasan, indeks Asia bergerak melemah meski pergerakannya relatif terbatas. Indeks saham Asia MSCI tercatat bergeser turun tipis, mencerminkan adanya penyesuaian sentimen.

Pergerakan di Korea Selatan menunjukkan koreksi yang lebih jelas. Indeks Kospi turun 1,4% setelah pasar kembali dibuka seusai libur, sehingga arus transaksi awal pekan menjadi penentu arah pergerakan.

Berbeda dengan itu, saham-saham Jepang bergerak menguat. Kontras antarnegara ini menggambarkan bahwa respons investor terhadap faktor eksternal tidak seragam, meski dorongan dari Timur Tengah memengaruhi lanskap risiko secara umum.

Di luar bursa Asia, kontrak berjangka indeks S&P 500 juga melemah tipis. Kontrak tersebut turun 0,2% setelah sempat menguat pada Jumat, menandakan pasar global masih menimbang risiko dari perkembangan Selat Hormuz.

Secara keseluruhan, kombinasi kenaikan minyak, pelemahan obligasi pemerintah AS dan kawasan, serta koreksi pada emas menunjukkan pasar sedang mengunci narasi yang sama: ketegangan Timur Tengah berpengaruh ke jalur energi sekaligus ekspektasi kebijakan moneter. Di tengah kondisi tersebut, investor tampak memilih posisi lebih defensif dalam aset berbasis risiko, khususnya di sejumlah bursa Asia.

Dengan latar tersebut, pergerakan hariannya menjadi lebih sensitif terhadap setiap informasi terkait arah negosiasi maupun tenggat waktu yang disebut dalam proposal. Apabila ketidakpastian berlanjut, tekanan terhadap suku bunga dan biaya energi diperkirakan tetap menjadi bahan pertimbangan utama bagi pelaku pasar.