jurnalistik.co.id – Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang Tahun Akademik 2026/2027 menjadi momen emosional ketika seorang mahasiswa asal Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), bercerita langsung kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
Adriano Padama, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, menyampaikan keluhannya tentang sulitnya distribusi pangan di kampung halamannya sekaligus mahalnya harga beras yang harus dihadapi masyarakat setempat.
Dalam kesempatan itu, Adriano menuturkan bahwa akses distribusi pangan ke wilayahnya masih bergantung pada kondisi alam, khususnya lewat jalur laut. Ia menjelaskan bahwa ketika musim hujan datang, perjalanan menjadi sangat menantang dan berdampak pada pasokan pangan.
“Saat musim hujan, mungkin karena kami dekat samudera, hujannya itu betul-betul sangat parah,” ujar Adriano kepada Mentan Amran sebagaimana dikutip dari tayangan di Youtube Undip TV Official.
Menurut Adriano, persoalan tidak hanya berhenti pada proses pengiriman. Kebutuhan beras masyarakat Alor, ia sebut, berada di kisaran sekitar 24.000-27.000 ton per tahun, sementara kemampuan produksi daerah hanya mampu memenuhi sekitar 10 persen dari kebutuhan tersebut.
“Sehingga harga beras sering naik dan mahal,” ucapnya.
Ia juga merinci perbedaan harga beras antara wilayah perkotaan dan pedalaman. Di wilayah perkotaan Alor, harga beras disebut berada di kisaran Rp 13.000-Rp 15.000 per kilogram, sedangkan di wilayah pedalaman harga normal berkisar Rp 17.000-Rp 18.000 per kilogram.
Tetapi saat terjadi kondisi krisis di wilayah pedalaman, Adriano menyebut harga dapat melonjak hingga Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram. “Tapi kalau saat krisis yang di pedalaman itu bisa sampai Rp 25.000 hingga Rp 30.000 (per kilogram),” tandas Adriano.
Berita Terkait
Kekhawatian lain datang dari dampak yang mungkin ditanggung kelompok rentan, terutama anak-anak, ketika pilihan bahan pangan menyempit. Adriano mengatakan bahwa sebagian warga pada akhirnya beralih mengonsumsi umbi-umbian karena beras sulit dijangkau dengan harga yang terjangkau.
“Yang saya tahu kalau mereka makan umbi-umbian sejak kecil, maka perut mereka akan penuh dengan gas, sehingga akan membesar. Dan mohon maaf lubang pembuangan (kotoran) mereka akan mengecil dan itu betul-betul sangat menyakitkan,” katanya.
Mendengar penjelasan tersebut, Mentan Andi Amran langsung menghubungi Direktur Utama Perum Bulog melalui sambungan telepon di hadapan seluruh peserta upacara. Ia memerintahkan Bulog agar segera mengirim beras ke Alor dan juga menyiapkan infrastruktur penyimpanan agar distribusi berjalan lebih terjaga.
“Pak Dirut Bulog, Kabupaten Alor ada gudang Bulog di sana? Kalau belum ada, bangun gudang di sana. Hari ini juga kirim beras ke Alor. Saya minta harga beras sesuai arahan Bapak Presiden, Rp12.500 per kilogram,” ujarnya.
Selain memastikan pengiriman, Mentan juga menegaskan komitmennya untuk memantau tindak lanjut di lapangan. Ia meminta Adriano ikut memantau sekaligus melaporkan perkembangan yang terjadi setelah langkah-langkah tersebut dijalankan.
“Hari ini juga dikirim. Saya akan pantau langsung. Ambil nomor teleponnya, nanti (Adriano) laporkan lagi kepada saya perkembangan di lapangan,” katanya.
Dalam penjelasan yang sama, Mentan Amran turut meminta Bulog memastikan ketersediaan infrastruktur distribusi agar pasokan pangan dapat dipelihara secara berkelanjutan untuk mengurangi risiko lonjakan harga saat kondisi sulit terjadi. Ia juga menyatakan perhatian personal untuk membantu kebutuhan mahasiswa yang menempuh pendidikan di Semarang.
Sebagai bentuk kepedulian, Mentan menyampaikan bantuan biaya tempat tinggal selama Adriano menempuh pendidikan. “Saya selesaikan. Kos-kos kamu dua tahun saya bantu. Yang penting kamu belajar dengan sungguh-sungguh dan sukses,” tukasnya.
Momen tersebut berlangsung pada Kamis (6/8/2026), tepat saat Mentan Amran tampil sebagai pembicara dalam rangkaian PMB UNDIP. Dari paparan Adriano, masalah distribusi yang bergantung pada cuaca serta kesenjangan antara kebutuhan dan produksi lokal menjadi inti persoalan yang memicu harga beras melambung, terutama ketika wilayah pedalaman berada dalam kondisi krisis.












