jurnalistik.co.id – Sejumlah pertanyaan dalam Sensus Ekonomi 2026 dinilai menyentuh informasi yang selama ini dianggap pribadi oleh masyarakat. Salah satu yang paling disorot adalah pertanyaan mengenai jumlah kendaraan yang dimiliki rumah tangga.
Kekhawatiran tersebut muncul dalam diskusi Kompas.com Talks bertema “Pentingnya Setiap Usaha Terdata pada Sensus Ekonomi 2026” di Jakarta pada Jumat (7/8/2026). Dalam kesempatan itu, Ketua Asosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Akumandiri Indonesia, Hermawati Setyorinny, menilai ada pelaku usaha yang mempertanyakan relevansi pertanyaan tentang kendaraan jika rujukannya adalah pendataan kegiatan ekonomi.
Menurut Hermawati, sebagian pelaku usaha khawatir pertanyaan yang diajukan akan memotret kendaraan seolah menjadi bagian dari aset usaha. Ia menilai kekhawatiran tersebut membuat masyarakat merasa pertanyaan sensus kurang nyambung dengan maksud pendataan.
“Misalnya ketakutan dari masyarakat bahwa klasifikasi usaha itu adalah aset sama omzet. Jadi kadang pertanyaan mereka ini kan tidak ada korelasinya, misalnya punya kendaraan berapa, padahal kan yang ditanya itu adalah aset untuk usaha,” ujar Hermawati.
Ia juga mengaitkan isu ini dengan kebutuhan agar tujuan sensus bisa dipahami dengan lebih mudah. Kejelasan alasan pertanyaan, menurutnya, penting supaya masyarakat tidak langsung membaca pertanyaan sebagai bentuk penilaian terhadap aset atau omzet semata.
“Baca juga: BPS Kebut Sensus Ekonomi 2026, Capaian Sudah 86 Persen” tidak perlu dipakai dalam penjelasan ini, karena fokus diskusi yang disampaikan Hermawati adalah pada cara penyampaian tujuan pendataan. Dalam pandangannya, sosialisasi perlu ditata agar alasan BPS meminta informasi mengenai kendaraan dan aset lain dapat diterima oleh masyarakat.
Lebih lanjut, penjelasan atas pertimbangan penggunaan pertanyaan tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS RI, Moh. Edy Mahmud. Edy menegaskan bahwa Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya mengumpulkan data dari badan usaha yang berdiri secara terpisah.
BPS, kata Edy, juga mendata kegiatan ekonomi yang berlangsung di dalam rumah tangga. Ia menilai karakter kegiatan ekonomi rumah tangga berbeda dengan kegiatan ekonomi yang telah berdiri sendiri, sehingga pertanyaan sensus ikut menyesuaikan kebutuhan melihat keseluruhan aktivitas.
Berita Terkait
“Memang di sensus ini, selain dari kegiatan ekonomi yang betul-betul kegiatan ekonomi, kita juga tadi makanya menanyakan kegiatan ekonomi yang di dalam rumah tangga,” kata Edy.
Menurut Edy, dalam sejumlah kasus aktivitas usaha masih bercampur dengan kegiatan rumah tangga. Kondisi seperti inilah yang membuat BPS perlu melihat kegiatan ekonomi secara lebih menyeluruh, bukan hanya memisahkan mana yang murni usaha dan mana yang hanya kebutuhan rumah tangga.
Dalam konteks itulah, ia menjawab pertanyaan yang sempat muncul di publik terkait mengapa sensus menanyakan hal yang dianggap dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti sepeda motor. Edy menggarisbawahi bahwa pertanyaan tersebut dipakai untuk menangkap gambaran aktivitas ekonomi yang berlangsung di dalam rumah tangga.
“Makanya tadi Ibu katanya kenapa ada nanya sepeda motor dan sebagainya, itu memang kita menanyakan overall yang dalam rumah tangga,” ujarnya.
Edy juga menekankan bahwa pertanyaan mengenai kendaraan tidak serta-merta berarti BPS menganggap kendaraan tersebut sebagai aset usaha. Yang ingin diperoleh, menurutnya, adalah gambaran mengenai kegiatan ekonomi di rumah tangga, termasuk pada situasi ketika batas antara kebutuhan rumah tangga dan aktivitas usaha belum sepenuhnya terpisah.
Dengan demikian, keberadaan pertanyaan tentang kendaraan diposisikan sebagai bagian dari upaya mengumpulkan data kegiatan ekonomi yang lebih menyeluruh. Bukan sekadar mencatat kepemilikan, melainkan untuk membantu memetakan bagaimana aktivitas ekonomi berlangsung di ruang domestik, terutama ketika pemisahan antara urusan rumah tangga dan usaha masih sulit dibedakan.
Penjelasan ini sekaligus menjadi jawaban atas kekhawatiran awal yang disampaikan Hermawati. Jika sebagian pihak melihat pertanyaan kendaraan sebagai sesuatu yang berpeluang ditafsirkan keliru, BPS melalui Edy menegaskan bahwa yang didorong adalah pendataan kegiatan ekonomi rumah tangga secara utuh, termasuk ketika pelaku masih menjalankan aktivitas yang bercampur dengan kebutuhan sehari-hari.
Dalam diskusi tersebut, isu komunikasi kepada masyarakat juga tetap menjadi bagian penting. Hermawati menilai tujuan pertanyaan sensus perlu disosialisasikan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, agar masyarakat mengerti alasan BPS meminta informasi mengenai kendaraan dan aset lainnya.
Di sisi lain, Edy memberi kerangka penjelasan bahwa pencatatan semacam itu berkaitan dengan kebutuhan memahami keseluruhan kegiatan ekonomi rumah tangga. Dengan pendekatan tersebut, pertanyaan terkait kendaraan diposisikan untuk membaca dinamika aktivitas ekonomi di rumah tangga, bukan untuk menyederhanakan kendaraan menjadi langsung sebagai ukuran aset usaha.












