Bisnis & Ekonomi

Pekan Ini, Harga Perak Melemah di Tengah Tekanan The Fed

×

Pekan Ini, Harga Perak Melemah di Tengah Tekanan The Fed

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Perak Anjlok Pekan Ini, Tertekan The Fed

jurnalistik.co.id – Harga perak menutup pekan dengan penurunan tipis setelah pergerakannya sepanjang sesi berjalan cukup bergejolak. Sepanjang perdagangan, sentimen bergantian menguat dan melemah seiring perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Refinitiv, harga perak spot berakhir di level US$66,19 per troy ons pada Jumat (4/9/2026). Jika dibandingkan penutupan Jumat pekan sebelumnya, harga perak turun sekitar 0,3% secara mingguan.

Perjalanan harga sepanjang pekan memang tidak stabil. Harga sempat menguat pada pertengahan pekan, tetapi kemudian berbalik dan tertekan tajam pada hari Jumat.

Tenaga kerja AS mengubah ekspektasi suku bunga

Tekanan pada perak meningkat setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) kembali menggeser perkiraan pasar mengenai arah suku bunga The Fed. Reuters melaporkan pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat tajam pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%.

Dari sisi probabilitas, Reuters mencatat peluang kenaikan suku bunga naik menjadi sekitar 65%, dari sebelumnya 55% sebelum data tenaga kerja tersebut rilis. Dengan ekspektasi yang makin condong pada pengetatan, harga perak turut merespons dengan pelemahan cepat.

Akibatnya, perak sempat anjlok 3% ke US$64,92 per troy ons pada perdagangan Jumat. Namun, penurunannya tidak bertahan lama, karena tekanan kemudian melandai seiring penyesuaian posisi pelaku pasar.

Pada akhirnya, perak mampu memangkas sebagian pelemahannya dan kembali berakhir di US$66,19 per troy ons. Kenaikan ekspektasi suku bunga menjadi hambatan karena logam mulia cenderung kurang menarik ketika suku bunga serta yield obligasi meningkat, sebab perak tidak menawarkan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Data inflasi pekan depan jadi penentu

Setelah volatilitas Jumat mereda, fokus pasar mulai bergeser ke rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pada pekan berikutnya. Reuters menyebut laporan tersebut akan memberikan petunjuk lanjutan mengenai kebijakan The Fed.

Menurut jadwal resmi Bureau of Labor Statistics (BLS), Producer Price Index (PPI) Agustus akan dirilis pada 10 September. Selanjutnya, Consumer Price Index (CPI) akan diumumkan pada 11 September 2026.

Jika inflasi yang keluar lebih tinggi dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga dapat makin menguat dan berpotensi kembali menekan harga perak. Sebaliknya, apabila inflasi lebih rendah dari ekspektasi, ekspektasi pengetatan bisa mereda sehingga ruang bagi penguatan perak terbuka.

Fundamental pasar perak tetap ketat

Di tengah tekanan jangka pendek dari faktor makro, kondisi fundamental pasar perak disebut masih relatif ketat. Silver Institute memperkirakan pasar perak global mengalami defisit untuk tahun keenam berturut-turut pada 2026, dengan besaran sekitar 67 juta ons.

Di sisi lain, investasi fisik diperkirakan naik 20% menjadi 227 juta ons. Meski demikian, permintaan industri diproyeksikan turun sekitar 2% menjadi 650 juta ons, yang menunjukkan adanya pergeseran komposisi kebutuhan di pasar.

Dengan kombinasi tersebut, risiko jangka pendek perak tetap terkait dengan dinamika The Fed, perkembangan inflasi AS, dan pergerakan yield. Namun, defisit pasokan dapat menjadi penopang bila tekanan makro mulai mereda.

Bagi Indonesia, penguatan harga perak dapat menjadi kabar baik bagi produsen tambang. Di saat yang sama, kenaikan harga juga bisa menimbulkan tekanan biaya bagi industri pengguna perak.

Secara keseluruhan, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia disebut terbatas. Meski begitu, untuk emiten tambang yang memiliki eksposur terhadap perak, pergerakan komoditas ini berpotensi memengaruhi pendapatan dan margin.

Setelah tekanan jual pada Jumat, pasar kemudian bergerak lebih hati-hati karena pelaku mulai menyeimbangkan penilaian ulang terhadap prospek kebijakan suku bunga. Pergerakan harga yang tidak langsung membalik sepenuhnya menunjukkan masih adanya kehati-hatian, meski penurunan sempat terjadi cukup dalam.

Di sisi lain, gambaran fundamental yang relatif ketat tetap menjadi bantalan psikologis. Defisit pasokan yang diproyeksikan berlanjut serta kenaikan investasi fisik yang disebut meningkat dapat membantu menopang minat terhadap komoditas, namun dorongan utama jangka pendek tetap datang dari dinamika suku bunga, yield, dan pembacaan pasar terhadap data inflasi yang akan dirilis pekan berikutnya.