Internasional

El Niño Menguat: Risiko Kekeringan di Sungai-Sungai Penting Dunia Meningkat

×

El Niño Menguat: Risiko Kekeringan di Sungai-Sungai Penting Dunia Meningkat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: El Nino Makin Ganas, Dunia Bersiap Hadapi Petaka Besar

jurnalistik.co.id – El Niño yang menguat kini mulai menunjukkan sinyal yang lebih serius bagi pola cuaca global. Dalam pembaruan terbaru tanggal 3 September 2026, World Meteorological Organization (WMO) menyebut fenomena tersebut sudah terbentuk dengan kuat dan diperkirakan terus naik menjadi kategori sangat kuat dalam beberapa bulan ke depan.

WMO juga mengungkapkan probabilitas El Niño bertahan hingga Februari 2027 dan mencapai hampir 100%. Ini menjadi pertama kalinya WMO memberikan proyeksi dengan tingkat keyakinan setinggi itu untuk periode kelanjutan fenomena.

Pemicu utamanya masih terkait suhu permukaan laut di Pasifik tropis yang menjadi pusat El Niño. Anomali mingguan di kawasan Niño 3.4 tercatat sekitar 2,2°C–2,6°C di atas rata-rata pada rentang akhir Juli hingga pertengahan Agustus.

Dengan intensitas yang sangat kuat, WMO memperingatkan El Niño dapat mengubah pola hujan maupun suhu secara nyata di sejumlah wilayah. Namun dampaknya tidak merata: sebagian tempat menghadapi hujan ekstrem dan banjir, sementara wilayah lainnya berisiko mengalami defisit hujan, kekeringan, hingga penurunan debit sungai.

Masalahnya, sungai bukan sekadar sumber air. Di banyak kawasan, sungai menjadi urat nadi perdagangan—jalur untuk mengalirkan komoditas pertanian, energi, hingga barang industri dari sentra produksi menuju pelabuhan.

Probabilitas bertahan hingga mendekati puncak akhir 2026

WMO memperkirakan peluang El Niño bertahan pada periode September–November 2026 hingga Desember 2026–Februari 2027 mendekati 100%. Penguatan diperkirakan terus berlanjut sebelum mencapai puncak menjelang akhir 2026.

Ketika hujan berkurang, debit dan kedalaman sungai ikut turun. Dalam situasi seperti itu, kapal dapat kesulitan membawa muatan penuh karena risiko bagian bawah kapal menyentuh dasar sungai. Akibatnya, pengangkutan bisa harus menurunkan jumlah barang dalam satu perjalanan, membagi kiriman ke lebih banyak kapal, atau mengalihkan pengiriman ke moda lain seperti truk dan kereta yang umumnya lebih mahal.

Pada kondisi paling ekstrem, beberapa ruas sungai bahkan berpotensi tidak dapat dilalui. Firma hukum maritim Hill Dickinson memperingatkan bahwa air rendah bisa membatasi akses kapal dan kapasitas muatan, sekaligus meningkatkan antrean, mendorong perubahan rute, serta menambah biaya logistik dan memperbesar risiko keterlambatan kontrak perdagangan.

El Niño dan “jalur ekonomi” yang ikut tercekik

Risiko tersebut menjadi lebih penting karena sejumlah sungai yang sensitif terhadap El Niño juga merupakan jalur utama aktivitas ekonomi. Di bawah ini beberapa contoh yang disorot dari berbagai wilayah dunia.

1) Sungai Magdalena, Kolombia

Sungai Magdalena di Kolombia menjadi salah satu contoh yang paling nyata pada 2026. Otoritas lingkungan Kolombia mencatat pada Juli, ketinggian Sungai Magdalena di Yondó berada sekitar 25% di bawah rata-rata historis.

Dalam periode yang sama, curah hujan wilayah tersebut juga turun sekitar 30% dibandingkan pola dua dekade terakhir. Otoritas setempat secara eksplisit menyebut pengaruh El Niño sebagai penguat penurunan tersebut.

Pemerintah Barrancabermeja memasukkan penurunan muka Sungai Magdalena sebagai salah satu risiko El Niño yang dapat mengganggu transportasi sungai dan navigasi. Magdalena sendiri merupakan jalur transportasi utama Kolombia menuju kawasan Karibia.

Pengalaman El Niño sebelumnya menunjukkan bahwa gangguan serupa pernah berujung pada langkah teknis. Pada periode El Niño, pemerintah Kolombia pernah melakukan pengerukan untuk mempertahankan jalur navigasi ketika level Sungai Magdalena dan Cauca turun.

2) Sungai Mekong, Asia Tenggara

Risiko berikutnya berada lebih dekat dengan Indonesia melalui kawasan Mekong. Mekong River Commission (MRC) menemukan hubungan kuat antara episode El Niño dan terjadinya kekeringan di wilayah Mekong.

Contohnya, kekeringan 2015–2016 bertepatan dengan salah satu episode El Niño terkuat. Kajian MRC juga menyatakan tahun-tahun El Niño lainnya cenderung konsisten dengan periode kekeringan besar di Lower Mekong Basin.

Dampaknya tidak berhenti pada ketersediaan air bersih. Mekong menopang transportasi barang, pertanian, perikanan, hingga pembangkit listrik tenaga air di Asia Tenggara. MRC memperingatkan bahwa aliran rendah dapat membuat sebagian bagian sungai sulit atau bahkan tidak dapat dilalui.

Kekeringan juga bisa mengganggu pertanian, perikanan, dan produksi listrik. Dengan kata lain, kekeringan Mekong dapat bekerja melalui beberapa jalur sekaligus: produksi pangan turun, sementara distribusinya menjadi lebih sulit.

3) Sungai Amazon, Amerika Serikat

Amazon ikut mendapat perhatian. Secara historis, El Niño yang kuat dapat menekan curah hujan di sebagian kawasan Amazon. Untuk 2026–2027, peneliti layanan meteorologi Peru, Senamhi, bahkan memperingatkan bahwa El Niño sangat kuat berpotensi menyebabkan defisit curah hujan di Amazon Peru.

Dampak ekonomi akibat air rendah di wilayah ini juga sudah terlihat. World Bank mencatat jaringan sungai merupakan lifeline atau jalur transportasi utama bagi sebagian besar kawasan Amazon. Ketika air rendah, pelabuhan tidak dapat diakses, hasil panen dapat tertahan, dan masyarakat terputus dari pasar.

Efeknya merembet ke biaya. World Bank menyebut kekeringan telah membuat tarif angkutan sungai di Amazon melonjak lebih dari 150% pada 2024. Karena akses jalan darat di banyak wilayah terbatas, mengganti transportasi sungai bukanlah langkah yang mudah.

Air rendah menjadi gangguan logistik hingga ekonomi

Kekeringan sungai akibat El Niño berpotensi berubah dari persoalan cuaca menjadi masalah ekonomi ketika jalur air digunakan untuk mengangkut komoditas dan barang. Hill Dickinson menilai penurunan muka air bisa membatasi akses kapal dan kapasitas muatan, sehingga memaksa kapal mengurangi beban, menunggu lebih lama, atau mencari rute alternatif yang biayanya lebih tinggi.

Gangguan tersebut kemudian menjalar ke rantai pasok: keterlambatan pengiriman dapat menaikkan biaya logistik, memperpanjang waktu transit, memicu kemacetan pelabuhan, hingga meningkatkan risiko penalti kontrak. Pada sektor pangan dan energi, gangguan serupa juga dapat memperbesar volatilitas harga.

Pengalaman Kanal Panama pada El Niño 2023–2024 menggambarkan skalanya. Kondisi kering memangkas jumlah kapal yang dapat melintas setiap hari dari 36 menjadi sekitar 25, padahal jalur tersebut dilalui sekitar 5% perdagangan dunia.

Artinya, bila gangguan serupa terjadi di beberapa jalur penting secara bersamaan, tekanan terhadap perdagangan dan pertumbuhan global dapat membesar.

Dampaknya mulai terlihat pada 2026

Risiko tersebut bukan sekadar teori. Pada Agustus 2026, muka air Sungai Rhine di titik Kaub turun hingga di bawah 10 cm. Situasi ini membuat kapal tidak bisa beroperasi dengan muatan penuh.

Reuters melaporkan kondisi tersebut mengganggu industri Jerman, termasuk sektor kimia, utilitas, baja, serta perdagangan hasil pertanian. Sementara itu, S&P Global mencatat kapasitas tongkang di Kaub sempat hanya sekitar 25% dari normal, dan ongkos angkut hampir empat kali lipat dibanding level Juli.

CMA CGM juga menerapkan inland emergency fee sebagai respons terhadap rendahnya muka air Rhine dan sungai-sungai lain di Eropa.

Sepanjang pertengahan 2026, muka air Rhine di titik Kaub turun tajam hingga berada jauh di bawah kisaran normal 2021–2025. Rendahnya level air membatasi kapasitas kapal dan meningkatkan risiko gangguan transportasi barang di salah satu jalur logistik utama Eropa.

Besarnya dampak tidak terlepas dari peran Rhine. Ratusan juta ton komoditas melintasi sungai tersebut setiap tahun, termasuk produk minyak, bahan kimia, bahan bangunan, dan pangan. Dampaknya bahkan dapat merambah ke level ekonomi makro.

Institute for the World Economy Kiel memperkirakan jika muka air Kaub berada di bawah 78 cm selama 30 hari berturut-turut, produksi industri Jerman dapat turun sekitar 1%.

Meskipun kekeringan Rhine pada 2026 tidak secara langsung dikaitkan dengan El Niño, kasus ini menunjukkan bagaimana turunnya muka air sungai dapat cepat berubah dari persoalan cuaca menjadi gangguan logistik, produksi industri, hingga pertumbuhan ekonomi.