Bisnis & Ekonomi

Pekerja izin sakit diminta telepon atasan: penasihat kembali bekerja Sir Charlie Mayfield

×

Pekerja izin sakit diminta telepon atasan: penasihat kembali bekerja Sir Charlie Mayfield

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Off sick? You need to phone your boss, back-to-work adviser says

jurnalistik.co.id – Pekerja yang sedang izin sakit diminta tetap menjalin kontak dengan atasan melalui telepon, bukan hanya bertukar email atau menyerahkan surat keterangan sakit. Hal ini disampaikan oleh Sir Charlie Mayfield, penasihat kembali bekerja yang juga memimpin tugas “Keep Britain Working”.

Menurut Mayfield, percakapan langsung—terutama lewat panggilan telepon—dapat membantu mendorong proses pemulihan sekaligus mempermudah jalan kembali ke pekerjaan. Ia menilai, hubungan komunikasi seperti ini perlu dibangun sejak awal masa ketidakhadiran, bukan menunggu sampai kondisi benar-benar stabil.

Dalam laporan terbarunya, Mayfield menyebut bahwa ketidakaktifan ekonomi yang terkait masalah kesehatan tengah menimbulkan beban besar bagi Inggris. Ia memperkirakan kerugiannya sekitar £212 juta per tahun, yang berasal dari pembayaran tunjangan serta hilangnya produksi kerja.

Mengomentari usulan agar pekerja tetap terhubung lewat telepon, Mayfield mengatakan bahwa “Talking on the phone was just ‘one piece of the jigsaw’”. Artinya, komunikasi melalui telepon hanya merupakan salah satu bagian dari rangkaian upaya yang lebih luas untuk memperbaiki penanganan pekerja saat sakit.

Ia menjelaskan laporan tersebut juga menyerukan penguatan dukungan di tempat kerja, termasuk dukungan dari pihak eksternal bagi individu dengan kondisi kesehatan serta disabilitas. Selain itu, laporan tersebut mendorong pembentukan “a Workplace Health System” yang berjalan berdampingan dengan NHS.

Bagi Mayfield, pembenahan komunikasi tidak semata-mata soal administratif. Ia menekankan pendekatan ini sebagai cara untuk “rehumanise” tempat kerja, sekaligus membantu mencegah pekerja perlahan menjauh dan akhirnya keluar dari dunia kerja.

Kontak telepon sebagai penguat, bukan beban

Mayfield menegaskan bahwa laporannya tidak menyarankan agar setiap orang yang jatuh sakit harus tetap “melalui telepon” dengan cara tertentu. Ia juga tidak berpendapat bahwa atasan perlu memberikan respons yang berlebihan seperti “down-the-line sickbed sympathy” kepada karyawan yang sedang sakit, seperti flu atau gangguan lain.

Ia menyatakan, “I’m not worried about a day here and a day there. It is more about longer term issues.” Pernyataannya menggarisbawahi bahwa fokus pembenahan ada pada isu jangka panjang: bagaimana memastikan pekerja yang sakit tidak kehilangan keterhubungan sehingga kesempatan kembali bekerja tetap terbuka.

Menurut Mayfield, Inggris saat ini “was doing a ‘poor job’ of handling sickness in the workplace”. Kondisi itu, menurutnya, dapat membuat pekerja makin terlepas dari pekerjaannya, lalu perlahan memilih keluar atau tidak kembali.

Ia mengatakan telah bertemu banyak orang yang menceritakan pengalaman serupa. Dalam kesaksiannya, seseorang pernah “signed off sick” dan berada di luar pekerjaan selama satu bulan, dua bulan, hingga tiga bulan, namun “I had almost no contact with my employer”.

Mayfield mengaitkan pola ini dengan risiko keterputusan yang makin besar saat ketidakhadiran berlangsung. Laporannya menyebut sekitar 300.000 orang meninggalkan pekerjaan setiap tahun karena memiliki kondisi kesehatan, dan ia menilai banyak di antaranya sebenarnya dapat dicegah.

Ketakutan dua arah membentuk jarak

Ia juga menyoroti bagaimana ketidakhadiran pekerja sering tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi medis, tetapi juga oleh rasa takut saat harus berkomunikasi. Mayfield mengatakan karyawan kadang khawatir membicarakan isu kesehatan jangka panjang kepada atasan.

“But the fear is also felt by employers as well,” tambahnya, karena atasan juga takut menyinggung, atau memicu keluhan serta proses keberatan. Ia memperingatkan bahwa ketakutan dari kedua pihak dapat menciptakan jarak, sekaligus mengurangi pemahaman satu sama lain.

Dalam situasi seperti itu, Mayfield menilai absensi yang makin panjang membuat peluang pekerja untuk benar-benar keluar dari angkatan kerja menjadi jauh lebih besar. Ia menempatkan komunikasi sebagai salah satu cara untuk memutus siklus jarak tersebut.

Mayfield juga menghubungkan rencana ini dengan dampak ekonomi. Ia mengatakan, “If you can keep more people in work, there’s a massive opportunity for us to add billions to the economy and, frankly, to people’s livelihoods”. Untuk mewujudkan itu, ia menegaskan kebutuhan agar “people talking to each other” dan penanganan masalah sakit serta kondisi kesehatan di tempat kerja dikelola dengan lebih aktif.

Ia menekankan bahwa peran tidak hanya ada di sisi pemberi kerja. “Employers need to do more, he said, and employees need to engage with it.” Dengan kata lain, keterlibatan kedua pihak diperlukan agar proses pemulihan tidak berubah menjadi pemutusan hubungan kerja yang berkepanjangan.

Mayfield turut menyebut bentuk dukungan yang bisa membantu karyawan, misalnya memastikan akses terhadap perawatan seperti physiotherapy dan talking therapies. Langkah-langkah ini, menurutnya, menjadi bagian dari sistem dukungan yang lebih menyeluruh agar pekerja yang sedang sakit bisa kembali secara lebih realistis dan terarah.