Pendidikan

Rindu Libur Musim Panas Usai? Cara Bangkit Saat Mulai Kerja Lagi

×

Rindu Libur Musim Panas Usai? Cara Bangkit Saat Mulai Kerja Lagi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Feeling nostalgic for summer? How to beat the back-to-work blues

jurnalistik.co.id – Momen bel alarm berbunyi dan libur musim panas terasa sudah lewat bisa membuat kepala langsung terasa berat—terutama saat harus berhadapan dengan tumpukan surel yang menumpuk. Biasanya, hari-hari terakhir liburan terasa jauh lebih longgar dibanding rutinitas setelah kembali bekerja, dan perubahan itu sering terasa makin jelas ketika September mulai memendekkan siang.

Transisi dari mode “menikmati waktu” ke mode “menyelesaikan pekerjaan” memang tidak selalu mudah. Bahkan jika Anda menyukai pekerjaan, ritme baru tetap perlu waktu agar hati dan pikiran tidak langsung kewalahan.

Mulai pelan, kejar kemenangan kecil

Untuk menghindari rasa menenggelamkan diri, Sarah Robinson—pelatih karier—menyarankan agar Anda “ease back in” dengan memulai dari tugas yang kecil dan mudah ditangani. Ia menekankan pentingnya membangun momentum, karena tumpukan pekerjaan yang terlihat terlalu besar bisa terasa overwhelming hanya dalam hitungan jam.

Senada dengan itu, Susan Carr (konselor) setuju bahwa strategi “quick wins” membantu menurunkan tekanan. Menurutnya, meski pendekatan ini tidak selalu bisa diterapkan di setiap industri, bila memungkinkan cobalah “be a bit kinder with your expectations of what you need to do on that first day back in the office.”

Bentuknya bisa sederhana: misalnya menggunakan hari pertama untuk menelusuri surel dan merapikan pesan, alih-alih terjun langsung ke rangkaian rapat tanpa jeda. Tara Humphrey, primary care leadership consultant, juga memilih cara yang mirip—ia menyarankan agar out-of-office tetap aktif di hari pertama kembali agar Anda punya ruang kepala lebih dulu.

Humphrey merumuskan idenya sebagai “hiding, if you can, just to give yourself that bit of headspace.” Ia menambahkan bahwa respons yang lebih tenang sering muncul bila out-of-office ditulis dengan jelas, termasuk dorongan agar orang menindaklanjuti ketika Anda sudah kembali benar-benar siap di kantor—agar stres karena “kelewatan sesuatu yang penting” tidak berkembang sendiri.

Alternatif lain: biarkan surel menunggu

Jika Anda butuh alternatif yang lebih tegas, Humphrey juga teringat pada seorang kolega yang memilih cara berbeda. Ia bercerita bahwa koleganya hanya menghapus semua surel yang masuk selama liburan.

“He said, ‘if people want me, they’ll come back to me’.” Kalimat itu menangkap gagasan sederhana: tidak semua pesan perlu dibaca sejak menit pertama, terutama saat Anda sedang melakukan penyesuaian ulang.

“Wisata” tanpa meninggalkan rumah

Beberapa orang mungkin merasa wajar jika liburan membuat Anda ingin menghidupkan ulang suasana lama. Susan Carr menyarankan agar Anda mengingat bagian-bagian yang membuat liburan terasa menyenangkan, lalu mencari cara untuk membawa elemen itu ke rutinitas sehari-hari.

Ia mengakui bahwa tidak realistis bila setiap hari harus memiliki siesta, tetapi kebiasaan kecil masih bisa dilakukan. Ia bahkan menyebut, “cooking some Spanish food” sebagai contoh pendekatan yang terasa menyenangkan tanpa harus menuntut perubahan besar.

Carr juga menyarankan agar Anda mempertahankan rasa ingin tahu seperti saat berada di tempat baru, dengan mencoba menjadi “tourist” di wilayah sendiri. Ia mencontohkan gagasan bahwa kalau kita pergi ke tempat lain, kita cenderung lebih memperhatikan arsitektur dan mendatangi bangunan—dan ia jujur menyebut dirinya bersalah karena di Manchester ia tidak selalu menghargai hal-hal yang ada tepat di depan mata.

Bawa satu hal yang menyegarkan

Psikoterapis Dr Joy Conlon—yang menjalankan layanan wellbeing coaching Alive 365—menguatkan pendekatan “dibawa pulang” daripada sekadar kembali bekerja tanpa bekal. Ia menekankan, “Bring one restorative part of the holiday home with you.”

Menurut Conlon, bagian itu bisa berupa hal sederhana seperti “an evening walk,” menikmati makan tanpa menatap layar, membaca sebelum tidur alih-alih berada terus di layar, atau meluangkan lebih banyak waktu di luar ruangan. Intinya, Anda tidak memaksakan diri untuk langsung kembali ke pola lama, tetapi memberi tubuh dan pikiran jeda yang sepadan.

Kenali akar masalah, bukan hanya gejalanya

Kalau yang Anda rasakan seperti “back-to-work blues” terus berulang, Dr Joy Conlon dan Susan Carr sama-sama mengajak Anda melihat akar penyebabnya. Carr sendiri pernah mengalami perubahan yang jelas: sebelum liburan ia menyadari ada yang tidak beres dan ia cukup stres.

Ia bercerita, “I was vaguely aware before I went on holiday that things weren’t right and I was quite stressed.” Lalu setelah kembali, emosinya tidak hanya menyesuaikan secara bertahap.

Ia melanjutkan, “I went away on holiday and then I came back and suddenly I was in floods of tears every day. It wasn’t just a case of needing time to adjust, it was a sign I needed a rethink.” Cerita ini menunjukkan perbedaan antara rasa kangen sementara dan tanda bahwa Anda perlu menata ulang arah.

Membedakan nostalgia sementara dan ketidakpuasan yang nyata

Carr menilai, ada petunjuk yang bisa membantu membedakan dua kondisi tersebut. Ia mengatakan, “It probably sounds really obvious,” dan salah satu sinyalnya adalah “how long it goes on for.”

Ia menambahkan bahwa durasi itu penting, tetapi intensitas perasaan juga ikut menentukan. Dengan kata lain, bukan hanya rasa berat sesaat setelah libur, melainkan seberapa lama dan seberapa kuat rasa itu bertahan.

Di tengah suasana berbaring di bawah sinar matahari, orang mudah terjebak dalam angan-angan besar. Carr mengingatkan agar tidak mengambil keputusan mendadak, terutama saat muncul dorongan seperti ingin berhenti total dan pindah jalur menjadi “a scuba diver instructor” atau “yoga teacher.” Ia memperingatkan terhadap “a knee-jerk reaction.”

Ia mendorong Anda memberi waktu untuk berpikir dan merefleksikan bagaimana perubahan bisa dilakukan secara lebih realistis. “It’s about taking time and reflecting on how you might go about making a change,” katanya.

Rencanakan liburan berikutnya—dan buat tetap aktif

Alasan liburan terasa begitu menenangkan bukan hanya karena momen liburnya sendiri. Dr Mark Williamson, chief executive officer Action for Happiness, menyebut bahwa antisipasi untuk pergi juga berperan besar dalam manfaat yang terasa.

Ia menilai jenis liburan dan durasinya juga memengaruhi dampak. Williamson mengacu pada penelitian yang ia sebut “genuinely surprising,” yang menyatakan liburan yang melibatkan aktivitas fisik bisa lebih baik untuk wellbeing dibanding sekadar berbaring di tepi kolam.

Williamson menjelaskan, “If you include some walking, cycling, swimming, exploring you’re more likely to get back feeling refreshed.” Ia juga menyoroti faktor panjang jeda: jeda yang lebih lama memberi dorongan lebih besar, tetapi efeknya tampak memudar lebih cepat karena Anda kembali menghadapi “bigger mountain.”

Namun ia juga menambahkan bukti bahwa liburan yang lebih pendek tetapi lebih sering bisa membawa manfaat wellbeing yang lebih konsisten. Ia memberi gambaran, “The refresh from five days away may feel not far off ten, but you can do it twice as often.”