Bisnis & Ekonomi

Pemerintah RI Terbitkan Sukuk Global Rp54,32 Triliun, Permintaan Capai 2,9 Kali

×

Pemerintah RI Terbitkan Sukuk Global Rp54,32 Triliun, Permintaan Capai 2,9 Kali

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: RI Terbitkan Sukuk Global Rp54,32 T, Oversubscribed 2,9 Kali - Market

jurnalistik.co.id – Pemerintah Indonesia resmi menerbitkan sukuk global dengan nilai total US$3 miliar, yang jika dikonversi mencapai sekitar Rp54,32 triliun. Perhitungan tersebut memakai asumsi kurs Rp18.108 per US$.

Penerbitan ini juga tercatat melampaui permintaan pasar. Sukuk global yang diterbitkan disebut mengalami oversubscribed hingga 2,9 kali.

Informasi tersebut disampaikan melalui pengumuman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan. Pengumuman itu dirilis pada Jumat, 6 November 2026.

Rincian penerbitan per seri

Dalam pelaksanaannya, penerbitan sukuk global dipecah menjadi tiga seri dengan masing-masing tenor yang berbeda. Pembagian seri ini menunjukkan struktur pembiayaan yang mengarah pada beragam horizon waktu bagi investor.

Untuk seri dengan kode SNI1129, pemerintah menetapkan tenor tiga tahun. Nilai penerbitan seri ini mencapai US$0,5 miliar dengan kupon serta imbal hasil ditetapkan sebesar 5,45%.

Seri berikutnya adalah SNI1131 dengan tenor lima tahun. Pemerintah menetapkan nilai penerbitan sebesar US$1 miliar, sementara kupon dan imbal hasil dipatok pada level 5,85%.

Adapun seri terakhir, SNI1136, memiliki tenor 10 tahun. Nilai penerbitan untuk seri ini ditetapkan sebesar US$1,5 miliar, dengan kupon dan imbal hasil sebesar 6,25%.

Jika dilihat secara keseluruhan, ketiga seri tersebut menyusun total penerbitan US$3 miliar. Dengan memakai asumsi kurs Rp18.108 per US$, total nilai setara yang disebut dalam pengumuman berada di kisaran Rp54,32 triliun.

Komposisi nilai dan tingkat imbal hasil pada tiap seri juga memperlihatkan perbedaan karakter dari tenor yang lebih pendek hingga yang lebih panjang. Meski demikian, seluruh ketentuan kupon dan imbal hasil untuk masing-masing seri telah dipatok pada persentase yang spesifik sebagaimana tercantum dalam pengumuman DJPPR.

Lebih jauh, capaian oversubscribed sampai 2,9 kali menjadi penanda kuatnya respons pasar pada penawaran sukuk global tersebut. Dengan struktur tiga seri dan total nilai yang besar, penerbitan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam aktivitas pendanaan pemerintah di pasar.

Dalam pengumuman yang berasal dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pemerintah menjelaskan bahwa penerbitan sukuk global tersebut menjadi bagian dari agenda pembiayaan di pasar. Dokumen rilis itu dipublikasikan pada Jumat, 6 November 2026 dan memuat ringkasan nilai, struktur seri, serta parameter imbal hasil.

Besaran penerbitan disebut mencapai US$3 miliar. Angka tersebut kemudian diproyeksikan ke nilai rupiah dengan memakai asumsi kurs Rp18.108 per US$, sehingga total setara yang tercantum berada di kisaran Rp54,32 triliun. Dengan demikian, perhitungan yang digunakan dalam informasi resmi tersebut menempatkan skala transaksi dalam konteks nilai rupiah.

Selain nilai nominal, pengumuman juga menyoroti bahwa penawaran terlacak mengalami permintaan yang lebih tinggi dibanding ukuran yang diterbitkan. Disebutkan sukuk global tersebut oversubscribed hingga 2,9 kali, yang secara substansi menunjukkan adanya minat pasar yang melampaui kebutuhan penerbitan. Informasi ini relevan untuk membaca respons investor pada saat penawaran berjalan.

Penerbitan dijabarkan melalui tiga seri dengan perbedaan tenor. Seri pertama dengan kode SNI1129 memiliki tenor 3 tahun dan nilai penerbitan US$0,5 miliar, disertai kupon serta imbal hasil sebesar 5,45%. Seri berikutnya, SNI1131, ber tenor 5 tahun dengan nilai US$1 miliar serta kupon dan imbal hasil 5,85%. Adapun seri terakhir, SNI1136, ditetapkan pada tenor 10 tahun dengan nilai US$1,5 miliar dan kupon serta imbal hasil 6,25%.

Secara keseluruhan, ketiga seri itu membentuk total US$3 miliar. Pola tingkat kupon dan imbal hasil yang meningkat seiring bertambahnya tenor turut mencerminkan karakter instrumen dari horizon waktu yang lebih pendek hingga yang lebih panjang. Dengan adanya segmentasi tenor dalam satu penerbitan, struktur tersebut memberi gambaran bahwa ketentuan imbal hasil dipatok pada persentase yang spesifik untuk masing-masing seri sesuai rujukan pengumuman DJPPR.