jurnalistik.co.id – Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang laju ekonomi di penghujung 2026. Salah satu fokus utamanya ialah penyaluran bantuan sosial senilai sekitar Rp30 triliun serta program diskon menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Langkah tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah Rapat Terbatas di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (2/11/2026) sore. Airlangga menegaskan kebijakan yang ditempuh ditujukan agar daya tahan ekonomi rumah tangga tetap terjaga di periode akhir tahun.
Respons Airlangga muncul sebagai jawaban atas data inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) pada Oktober 2026 yang tercatat sebesar 3,23%. Angka itu dinilai berada dekat dengan batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5%, sehingga pemerintah perlu menjaga momentum belanja masyarakat agar tetap stabil.
Diskon Nataru dan bansos sebagai penyangga
Dalam penjelasannya, Airlangga menyebut program Nataru yang disertai diskon sebagai salah satu instrumen untuk mendukung kemampuan konsumsi. Pemerintah juga melaksanakan program-program bantuan sosial dengan nilai sekitar Rp30 triliun.
Menurut Airlangga, kombinasi tersebut dipakai untuk menjaga daya beli agar tidak melemah menjelang momen belanja akhir tahun. Dengan adanya dorongan langsung maupun insentif harga, pemerintah berharap konsumsi dalam negeri tetap menjadi penopang aktivitas ekonomi.
“Tentu kita tetap mendorong sektor ekspor-impor. Kemudian daya beli dalam negeri dengan ada program Nataru, ada spesial diskon di sana, dan juga ada program-program bantuan sosial yang senilai dengan angka sekitar Rp30 triliun. Jadi kita gelontorkan bantuan agar daya tahan bisa terjaga,” kata Airlangga dikutip Selasa (3/11/2026).
Berita Terkait
Selain sisi daya beli, Airlangga juga menyinggung penguatan kinerja sektor ekspor dan impor. Pemerintah, katanya, terus mendorong sektor perdagangan lintas negara sebagai upaya menopang pertumbuhan ekonomi.
Penguatan ekspor-impor tersebut diarahkan untuk mendukung kondisi pada semester II-2026. Penekanan pada perdagangan luar negeri dimaksudkan agar kinerja ekonomi tetap terjaga dari sisi permintaan dan aktivitas industri, seiring dinamika yang terjadi sepanjang tahun.
Dengan latar data inflasi Oktober 2026 yang mendekati batas atas sasaran BI, pemerintah memandang perlunya respons kebijakan yang bersifat menjaga keseimbangan. Airlangga menempatkan daya beli sebagai variabel penting yang harus tetap ditopang, baik melalui insentif belanja maupun bantuan sosial.
Dalam konteks akhir 2026, program diskon Nataru dan penyaluran bansos senilai sekitar Rp30 triliun menjadi bagian dari pendekatan untuk mempertahankan daya tahan ekonomi rumah tangga. Langkah itu sekaligus diharapkan dapat membantu menjaga ritme pertumbuhan agar tidak berhenti saat memasuki periode pengetatan musiman.
Secara keseluruhan, Airlangga menegaskan strategi pemerintah berjalan pada dua arah: menjaga konsumsi dalam negeri lewat program Nataru dan bantuan sosial, serta mendorong sektor ekspor-impor untuk menopang pertumbuhan. Dengan langkah tersebut, pemerintah berupaya memastikan ekonomi tetap bergerak di penghujung 2026 meski indikator inflasi menunjukkan posisi yang dekat dengan batas atas target.
Airlangga menegaskan, pengambilan langkah kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga ketika aktivitas belanja memasuki fase musiman. Pemerintah, menurut pemaparan itu, ingin agar tekanan biaya hidup tidak mengganggu ritme pengeluaran masyarakat sehingga momentum konsumsi tetap terjaga hingga akhir tahun.
Di sisi lain, program Nataru yang disertai skema diskon diposisikan sebagai dorongan yang langsung memengaruhi kemampuan belanja konsumen, sementara penyaluran bantuan sosial menjadi penyangga melalui dukungan finansial. Dengan kombinasi insentif harga dan bantuan, pemerintah berharap konsumsi domestik bisa menjadi penopang utama yang membantu menjaga laju aktivitas ekonomi agar tidak melambat ketika mendekati periode peralihan tahun.
Selain instrumen untuk memperkuat daya beli, fokus pemerintah juga diarahkan pada penguatan perdagangan luar negeri. Pendorongan ekspor-impor dan aktivitas perdagangan lintas negara diharapkan memberi ruang permintaan serta mendukung kinerja industri pada semester II-2026, sehingga pertumbuhan tetap memiliki tumpuan tidak hanya dari sisi konsumsi, tetapi juga dari sisi aktivitas ekonomi yang terkait pasar internasional.












