jurnalistik.co.id – Rupiah pada Senin (26/10/2026) diperkirakan melanjutkan fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah dalam kisaran Rp18.000–18.090/US$. Di pasar spot, pergerakan dinilai masih mengikuti kombinasi sentimen eksternal dan dinamika domestik yang saling berpengaruh.
Memasuki perdagangan, rupiah juga terlihat bertahan dalam area defensif. Pada pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), mata uang disebut masih diperdagangkan di atas level Rp18.100/US$.
Pada pukul 07:20 WIB, rupiah offshore bergerak di sekitar Rp18.125/US$, atau mencatat penyesuaian melemah menjadi 0,07% dari pelemahan awal pekan yang sempat berada di kisaran 0,1%. Perubahan ini menunjukkan tekanan tidak sepenuhnya hilang, meski terdapat pengurangan laju pelemahan.
Minyak mentah tetap menjadi penopang tekanan
Arah rupiah pada hari ini banyak dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah. Brent dilaporkan sempat naik hingga US$116,79/barel pada penutupan Jumat (23/10/2026).
Walau pada sesi pagi harga mengalami penyesuaian, Brent masih diperdagangkan di sekitar US$115,81/barel. Dengan posisi tersebut, harga minyak dinilai tetap berada dekat level tertinggi pada April yang sempat menyentuh kisaran US$118/barel.
Ketidakpastian terkait resolusi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran juga disebut belum memperlihatkan tanda perbaikan. Dalam konteks ini, pasar tetap mencermati perkembangan yang dapat memengaruhi arah harga minyak.
Dolar AS dan yield US Treasury meredam sebagian tekanan
Berita Terkait
Di sisi lain, ada faktor yang memberi ruang stabilisasi bagi rupiah. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dilaporkan terkoreksi 0,1% menjadi 101,71.
Penurunan indeks dolar tersebut sejalan dengan pergerakan yield US Treasury yang kembali melandai. Yield disebut berada tepat di bawah level 5%, yaitu 4,99%.
Meski demikian, pergerakan tersebut tidak langsung menghapus tekanan yang berasal dari komoditas energi. Kombinasi antara minyak yang masih tinggi serta sentimen ketidakpastian di kawasan Timur Tengah membuat pelaku pasar tetap memilih sikap hati-hati.
Dengan minyak yang masih bertahan mendekati area puncak sebelumnya, penguatan sentimen terhadap dolar atau hasil imbal hasil tetap menjadi bahan pertimbangan utama. Pada saat yang sama, koreksi indeks dolar dan meredanya yield US Treasury menjadi penyeimbang yang menahan penurunan rupiah agar tidak bergerak lebih jauh.
Secara keseluruhan, pergerakan pagi ini memperlihatkan bahwa rupiah berada dalam mode konsolidasi: tekanan dari harga minyak dan faktor ketidakpastian masih terasa, sementara perbaikan pada indikator dolar serta yield AS memberi batas pelemahan. Hingga sekitar pukul 07:20 WIB, rupiah offshore yang bertengger di Rp18.125/US$ menandakan pelemahan masih terjadi, tetapi dengan kecepatan yang lebih terkendali dibanding pembukaan pekan.
Untuk perdagangan berikutnya, perhatian pasar berpotensi tetap tertuju pada dua poros tersebut: arah harga minyak yang mendekati level April, serta pergerakan indeks dolar dan yield US Treasury yang menggambarkan kondisi finansial global. Kombinasi keduanya akan menentukan seberapa jauh rupiah bertahan dalam rentang Rp18.000–18.090/US$ pada sesi spot.
Di saat yang sama, posisi bertahan rupiah tidak sepenuhnya lepas dari nuansa defensif yang sudah terbentuk sejak awal pekan. Harga spot diposisikan masih berada dalam lorong konsolidasi, sementara gambaran dari NDF yang tetap di atas Rp18.100/US$ mengindikasikan pelaku pasar masih menjaga antisipasi terhadap gelombang sentimen yang datang dari luar negeri.
Untuk lanjutan sesi berikutnya, perhatian pasar dapat tetap terarah pada dua indikator kunci yang saling beririsan: komoditas energi yang berada dekat puncak April dan kondisi keuangan global yang tercermin pada indeks dolar serta yield US Treasury. Ketika dolar terkoreksi dan yield melandai ke sekitar 4,99%, ruang penahan pelemahan rupiah cenderung menguat, sehingga pergerakan berpotensi tetap terkunci di rentang Rp18.000–18.090/US$.












