Bisnis & Ekonomi

Proyeksi Rupiah Menjelang Akhir 2026 di Kisaran Rp17.600–Rp18.000 per US$

×

Proyeksi Rupiah Menjelang Akhir 2026 di Kisaran Rp17.600–Rp18.000 per US$

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Proyeksi Ekonom Soal Rupiah Akhir 2026: Rp17.600-Rp18.000/US$ - Market

jurnalistik.co.id – Menjelang akhir 2026, ekonom memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp18.000 per US$. Dalam pandangannya, batas Rp18.000 memang bisa menjadi titik yang diuji, tetapi tidak otomatis menjadi skenario utama.

Syafruddin Karimi, ekonom dari Universitas Andalas, menilai potensi rupiah menembus level tersebut tetap terbuka. Namun, menurutnya, gambaran yang paling mungkin lebih dekat dengan rentang Rp17.600–Rp18.000 per US$ disertai volatilitas yang relatif tinggi.

Ia menekankan bahwa arah pergerakan rupiah tidak berdiri sendiri. Kondisi eksternal—terutama dinamika suku bunga AS, imbal hasil obligasi, serta harga minyak—akan sangat menentukan apakah rupiah hanya “bertahan” di bawah batas, atau justru sesekali bergerak menembusnya.

Skenario dasar: Rp17.600–Rp18.000/US$

Dalam skenario dasar, Syafruddin memandang rupiah lebih “masuk akal” untuk berada pada rentang Rp17.600–Rp18.000 per US$. Rentang ini, di saat yang sama, masih menyisakan ruang naik-turun karena pasar cenderung responsif terhadap perubahan kondisi global.

Ia menilai membaca pergerakan mata uang menjelang akhir tahun perlu dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan antara tekanan dari luar dan perbaikan yang dapat datang dari indikator finansial global.

Meski peluang rupiah menguat hingga melewati Rp18.000 tetap ada, ia menegaskan bahwa hal tersebut belum menjadi baseline. Dengan kata lain, Rp18.000 lebih tepat diposisikan sebagai ambang yang berpeluang diuji ketika kondisi tertentu hadir secara bersamaan.

Risiko ke atas: dolar AS menguat dan minyak tetap tinggi

Syafruddin menjelaskan, risiko yang mendorong rupiah berada lebih lemah muncul bila dolar AS kembali menguat setelah kenaikan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve. Pada saat yang sama, yield US Treasury dinilai bertahan di kisaran sekitar 5%, yang dapat memberi sinyal kuat bagi daya tarik aset berbasis dolar.

Faktor lain yang ia sebut adalah harga minyak yang tetap berada di atas US$100 per barel. Kombinasi tiga elemen—penguatan dolar, yield AS yang bertahan, serta minyak yang mahal—akan memperbesar tekanan terhadap rupiah karena biaya dan kebutuhan valuta asing biasanya ikut terpengaruh.

Dalam situasi seperti itu, pasar dapat menggeser ekspektasi dan menuntut penyesuaian harga yang akhirnya membuat rupiah bergerak lebih rentan terhadap tekanan eksternal.

Ketika tekanan mereda: yield turun dan arus portofolio membaik

Namun, Syafruddin juga memaparkan kondisi yang berpotensi berbalik arah. Ia menyebut, rupiah punya peluang menguat bila faktor-faktor yang menekan melemah dan daya dukung finansial membaik.

“Sebaliknya, rupiah dapat kembali menguat jika tekanan minyak mereda, yield AS turun, dan arus portofolio masuk membaik,” ujar Syafruddin, Selasa (22/9/2026).

Kalimat tersebut menegaskan bahwa titik balik rupiah tidak cukup hanya dari satu variabel. Perubahan yang terjadi pada harga minyak, pergerakan yield AS, serta kualitas arus portofolio yang masuk akan saling terkait dan memengaruhi arah kurs.

Jika ketiganya membaik secara bersamaan, tekanan terhadap rupiah cenderung mereda sehingga mata uang berpeluang kembali menemukan ruang penguatan, selaras dengan penyesuaian ekspektasi pasar.

Rp18.000 sebagai “stress threshold”

Syafruddin lalu menyoroti cara membaca level Rp18.000. Menurut dia, level tersebut perlu dibaca sebagai stress threshold, yakni ambang yang akan lebih sering muncul dalam skenario tekanan ketimbang sebagai target yang stabil.

Ia menjelaskan, level Rp18.000 bisa ditembus sementara apabila tekanan eksternal muncul bersamaan dengan kebutuhan valas domestik yang besar. Artinya, kurs dapat bergerak melampaui batas tersebut ketika faktor global dan kebutuhan di dalam negeri bertemu dalam waktu yang relatif berdekatan.

Di sisi lain, bila kombinasi guncangan mereda, rupiah dinilai masih berpeluang bertahan di bawah batas itu. Dengan demikian, “ketahanan” rupiah bukan hanya soal apakah level Rp18.000 berhasil dilewati, tetapi juga seberapa cepat tekanan mereda sehingga kurs kembali berada dalam kisaran yang lebih wajar.

Melalui penjelasan tersebut, proyeksi rupiah menjelang akhir 2026 pada akhirnya menjadi studi tentang sensitivitas pasar terhadap kondisi global. Saat indikator seperti yield US Treasury berada di sekitar 5%, suku bunga Federal Reserve bergerak setelah keputusan kebijakan, dan harga minyak masih di atas US$100 per barel, tekanan kurs cenderung menguat.

Sebaliknya, ketika tekanan minyak mereda, yield AS turun, serta arus portofolio masuk membaik, proyeksi rentang Rp17.600–Rp18.000 per US$ tetap punya peluang dipertahankan. Di tengah dinamika itu, Rp18.000 tetap hadir sebagai penanda penting: bukan sekadar angka, melainkan batas yang memantulkan tingkat stres yang sedang terjadi di pasar.