jurnalistik.co.id – London Fashion Week 2026 terasa seperti panggung “kembali” sekaligus “pembaruan”. Dua rumah mode terbesar di Inggris menampilkan koleksi spring/summer 2027 mereka dengan semangat pemulihan akar dan perluasan visi bisnis kreatif.
Alexander McQueen menjadi pembuka yang paling simbolik. Brand itu kembali ke London setelah 25 tahun menunjukkan koleksi di Paris, dan CEO British Fashion Council Laura Weir menyebutnya sebagai “quite a big deal for us”.
Kreatif direktur Seán McGirr membawa brand kembali ke akar lewat pertunjukan yang memadukan elemen tajam dan romantik gelap: runway dengan motif tanduk iblis, korset berhiaskan renda, hingga gaun tengkorak berbahan chainmail.
Mulberry menyusul dengan kepulangan yang tak kalah sarat makna. Setelah absen sembilan tahun, Christopher Kane menghadirkan debut koleksi yang menempatkan fokus pada tas Baywater, sekaligus tampil dominan dengan pilihan bahan kulit untuk mantel, rok, dan loafers.
Weir juga menjelaskan arah besar musim ini lewat “big mission” timnya: “re-platform London Fashion Week as not only a home for British design, but an engine for creativity and commercial growth”. Dari rangkaian itulah terlihat lima tren utama yang akan dibawa ke musim semi.
Messy girl aesthetic
Salah satu arah paling kuat datang dari gaya messy girl. Elektra Kotsoni, deputy director untuk Vogue Business dan Vogue Runway, mengatakan, “The number one trend for this season is messy girl,” dan menegaskan musim panas mendatang akan dibayangi oleh “a messy girl summer”.
Menurut Kotsoni, tren ini merupakan reaksi terhadap “the clean girl and quite luxury aesthetics that took over our Instagram feeds” yang menguat tahun lalu. Ia juga menyebutnya sebagai bentuk “resilience” dan pemberontakan, karena dunia sendiri dinilai “quite messy”.
Untuk meniru nuansanya, Kotsoni menyarankan perpaduan warna pastel, florals yang terasa impian, serta material bertekstur agar tercipta “unexpected clashes” yang terlihat “really messy”. Pada runway London Fashion Week, gagasan “crazy styling” itu tampak lewat benturan yang sengaja dibuat pada Chopova Lowena, Sinead Gorey, dan Conner Ives.
Gardening-core
Tren berikutnya adalah gardening-core, yang menggeser kesan rapi dan tenang menuju kekacauan bergaya “allotment-ready”. Kotsoni menegaskan, “Gardening is officially cool in the fashion world,” dan menyebutnya sebagai versi baru dari cottage-core setelah pandemi.
Jika cottage-core biasanya identik dengan gingham, keranjang anyaman, hingga starter sourdough, Kotsoni menyatakan arah terbaru adalah penampilan yang seperti baru selesai menanam benih atau menyalakan mesin pemotong rumput. Di catwalk, nuansa ini muncul lewat siluet yang sesuai aktivitas berkebun.
Ia menyebut, “There are lots of gardening appropriate silhouettes on the runways,” termasuk apron, material tahan air, serta trench coats. Kotsoni juga mengaitkan momentum tren ini dengan Loewe yang meluncurkan tas berbentuk watering can beberapa bulan sebelumnya, lalu mengalir ke penampilan Erdem, Yuhan Wang, dan Bora Aksu.
Berita Terkait
Baginya, “fashion is always a reflection of what’s happening in the world”, dan ia menyukai caranya desainer mampu “take an interest like gardening and present it as something” yang terasa nyata dalam sebuah pertunjukan.
Modern goddess
Selanjutnya ada modern goddess, gabungan rasa mitologis dan rujukan sinematik. Kotsoni menyebutnya sebagai gaya yang mengambil inspirasi dari “Ancient Greece” dan juga mengangguk pada film populer Christopher Nolan, The Odyssey, yang tayang musim panas ini.
Untuk produk yang perlu diperhatikan, Kotsoni merangkum cirinya: “draped garments, breezy materials and lots of bohemian and flowy silhouettes”. Pauline Dujancourt memperagakan pendekatan ini lewat pertunjukan yang menonjolkan volume maksimal dan kain yang berembus.
Ia juga menyoroti perubahan selera di ruang fesyen. Modern goddess hadir sebagai kebalikan dari cara tamu berpakaian yang selama acara dinilai serba minimalistik dan “a specific quiet luxury way”. Kotsoni menyebut, “Everybody has been dressed really minimalist in a specific quiet luxury way and I think people are tired of that,” yang mengisyaratkan adanya pergeseran arah.
Orange
Warna berikutnya tampak makin menentukan: oranye. Apapun pilihan nuansanya—mulai dari melon, tangerine, ginger, hingga coral—Kotsoni menyebut oranye akan menjadi warna besar untuk tahun depan.
Kotsoni mengatakan ia masih memperhitungkan kemungkinan apakah salah satu corak oranye akan menjadi pilihan Pantone untuk warna tahun 2027. Ia menambahkan, oranye sudah “making its way into celebrity styling” dan mencontohkan tampilan serasi Kylie Jenner dan Timothée Chalamet dalam “matching neon outfits” di acara Marty Supreme premiere untuk Halloween.
Di runway London Fashion Week, kemunculan oranye terlihat lintas brand. Mulberry, Justin Cassin, Enny Atelier, dan Vin + Omi semuanya menampilkan oranye dalam pertunjukan dan presentasi mereka dalam beberapa hari terakhir.
Ballet
Arah terakhir adalah ballet, yang diprediksi menjadi tren kuat untuk 2027. Kotsoni menempatkan Chalamet di pusat perhatian tren ini, mengingat pernyataannya sebelumnya pada Mei tahun ini: “no one cares” tentang disiplin.
Kotsoni menilai justru menarik bahwa “it’s now being forged as a clear trend for next year”. Ia menunjuk Edeline Lee yang menghadirkan pertunjukan dengan model berjalan en pointe di sebuah aula olahraga sekolah yang diubah total menjadi panggung.
Dalam penilaian Kotsoni, “Ballet is very much in fashion,” dan ia mengaitkannya dengan konteks fesyen media, seperti Vogue Italia bulan ini yang menampilkan Roberto Bolle, principal dancer La Scala, di sampul. Kotsoni juga menyebut Francesca Hayward dari Royal Ballet baru-baru ini menjadi model untuk Armani dan Chanel.
Ia menutup arahan itu dengan petunjuk yang praktis: “Ballet flats are massive and still will be [next year] and small silhouettes for shoes are going to be prevalent next season,” seraya mendorong penggemar gaya ini mencari item serupa di toko amal dan koleksi vintage.












