jurnalistik.co.id – CEO Apple, John Ternus, menanggapi fenomena yang berkembang di kalangan pengguna: sebagian orang mulai memperlakukan kecerdasan buatan (AI) seolah-olah sebagai teman untuk mencurahkan isi hati, bahkan hingga figur pasangan romantis.
Menurut Ternus, cara pandang tersebut berangkat dari harapan yang keliru terhadap teknologi. Ia menegaskan bahwa Apple merancang AI untuk membantu aktivitas pengguna, bukan menggantikan relasi antarmanusia.
Dalam wawancara yang dimuat Canal+ Clique pada Selasa (22/9/2026), Ternus menyampaikan bahwa tujuan Apple membangun perangkatnya adalah agar AI hadir sebagai alat bantu. Ia menolak gagasan bahwa sistem AI seharusnya diposisikan layaknya “teman” yang bisa menggantikan kedekatan sosial manusia.
Ternus mencontohkan fungsi Siri untuk menjelaskan sikap Apple. Ia menggambarkan Siri sebagai asisten yang dibentuk untuk mendukung pekerjaan, produktivitas, serta dorongan kreativitas pengguna, bukan untuk membentuk ikatan emosional.
“Kita membangun perangkat kita untuk tidak menjadi teman Anda. Siri AI tidak dirancang untuk menjadi teman Anda. Ini dirancang untuk menjadi pembantu,” kata Ternus dikutip dalam wawancara Canal+ Clique, Selasa (22/9/2026).
Lebih jauh, Ternus menekankan bahwa AI seharusnya membantu pengguna bergerak lebih efektif dalam keseharian. Baginya, kontribusi teknologi berada pada kemampuan memperluas ruang kerja dan ide, sehingga pengguna bisa lebih cepat menemukan cara baru dalam membuat, merencanakan, atau mengeksekusi sesuatu.
Dalam pandangan Apple, AI dapat menjadi pendamping fungsional yang mempermudah proses berpikir dan menciptakan. Ternus mengatakan teknologi AI seharusnya membantu pengguna menjadi lebih produktif, mengembangkan kreativitas, serta menemukan ide-ide baru.
Berita Terkait
Dengan penekanan itu, Ternus juga menggarisbawahi batas peran AI terhadap hubungan sosial. Ia menempatkan AI dalam kategori “asisten” alih-alih “relasi”, sekaligus menyampaikan kekhawatiran bahwa jika AI diperlakukan sebagai teman curhat, hasilnya berpotensi menggeser peran hubungan manusia.
Pernyataan Ternus muncul ketika banyak diskusi publik memperdebatkan cara penggunaan AI dalam konteks emosional. Sebagian orang memanfaatkan percakapan dengan sistem AI untuk mengisi kebutuhan psikologis sehari-hari, termasuk ketika mereka merasa terbuka atau mencari pengakuan, hingga pada tahap yang lebih jauh menjadikannya bagian dari relasi personal.
Di titik tersebut, Ternus mengulang pesan inti Apple: teknologi bukan pengganti kehangatan hubungan antarmanusia. Ia menegaskan bahwa strategi pengembangan AI difokuskan pada dukungan yang bersifat praktis—mendorong kreativitas dan produktivitas—sekaligus memastikan AI tidak dirancang untuk menjadi pengganti hubungan emosional.
Dengan demikian, respons John Ternus menempatkan pendekatan Apple pada posisi yang jelas. Siri dan AI, menurutnya, ditujukan sebagai pembantu yang meningkatkan kemampuan pengguna, bukan sebagai “teman” yang membangun kedekatan seperti yang lazim terjadi dalam interaksi manusia.
Lewat pernyataan tersebut, Apple secara tegas merespons cara pandang yang menganggap AI sebagai teman curhat hingga pasangan. Ternus menegaskan bahwa arah pengembangan AI tetap pada fungsi bantuan: membantu pengguna bekerja lebih produktif, memperkaya kreativitas, serta membuka kemungkinan ide-ide baru—tanpa menggantikan relasi manusia yang selama ini menjadi fondasi hubungan sosial.
Dalam penjelasannya, Ternus juga mempertegas bahwa harapan sebagian pengguna terhadap AI berangkat dari persepsi yang menyamakan fungsi teknologi dengan kebutuhan emosional. Apple, menurut pandangannya, memposisikan AI agar tetap berada pada ranah kerja dan penguatan kapasitas pengguna: membantu mengolah aktivitas sehari-hari, merapikan alur berpikir, serta menumbuhkan dorongan kreatif yang muncul dari inisiatif manusia itu sendiri. Dengan cara pandang itu, sistem AI tidak dimaksudkan untuk mengambil alih peran yang biasanya tumbuh dari relasi langsung.
Karena itu, pesan utama yang dibawa Ternus konsisten pada dua arah sekaligus: AI boleh hadir sebagai pendamping yang mempermudah proses produktivitas dan penciptaan, tetapi batasnya tidak boleh bergeser menjadi pengganti keterhubungan antarmanusia. Ketika percakapan dengan sistem AI dipakai untuk memenuhi kebutuhan pengakuan atau kedekatan, Ternus menilai praktik tersebut berpotensi mengaburkan pemahaman tentang fungsi awal teknologi. Apple kemudian merespons dengan menegaskan kembali bahwa fokus pengembangan diarahkan pada dukungan praktis—bukan pada konstruksi hubungan sosial yang seharusnya tetap berakar pada interaksi manusia.












