Bisnis & Ekonomi

RI Mengendalikan Harga Nikel Dunia, Bahlil Jelaskan Caranya

×

RI Mengendalikan Harga Nikel Dunia, Bahlil Jelaskan Caranya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Nikel Dunia Ada di Tangan RI, Ini Buktinya

jurnalistik.co.id – Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memegang kendali harga nikel dunia melalui pengaturan pasokan, terutama dengan menahan produksi serta peredaran mineral tersebut di pasar internasional.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dalam acara MINERBA CONVEX 2026 di Jakarta pada Senin, 2 November 2026.

Bahlil menilai, posisi Indonesia dapat menjadi penentu karena keseimbangan antara konsumsi global dan kontribusi produksi dari Tanah Air memungkinkan intervensi kebijakan. Dengan kata lain, arah harga tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga keputusan terhadap volume pasokan.

Ia menyebut, konsumsi nikel di dunia saat ini mencapai 3,5 juta ton. Di sisi lain, produksi nikel Indonesia berada pada kisaran 700-800 ribu ton, angka yang menurutnya cukup signifikan untuk membentuk dinamika pasar bila dikelola secara konsisten.

Lebih lanjut, Bahlil menekankan bahwa pengelolaan pasokan perlu dilakukan agar harga tidak bergerak ke arah yang merugikan. Menurutnya, jika kondisi itu terus dipertahankan, harga berpotensi turun kembali.

“Kalau ini terus kita pertahankan harganya bisa jatuh lagi,” terang Bahlil usai Minerba Convex 2026, di Jakarta, Senin 2 November 2026.

Untuk menggambarkan konteks harga saat ini, Bahlil juga mengacu pada data Trading Economics. Ia menyebut harga nikel pada periode berjalan masih berada pada level rendah, yakni sekitar Rp15.482 per ton.

Dalam situasi harga yang dinilai belum mendukung, Bahlil menyampaikan rencana langkah penyesuaian melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2027. Fokusnya, produksi akan ditekan agar pasar tidak dibanjiri pasokan saat harga sedang tidak menguntungkan.

Rencana tersebut, menurut Bahlil, tidak bersifat tunggal. Kebijakan produksi dapat dibuat lebih fleksibel, menyesuaikan kondisi harga di pasar agar perusahaan dan ekosistem hilirisasi tidak terdorong mempertahankan volume berlebih ketika nilai jual sedang melemah.

Ia menegaskan prinsip tersebut dengan menyatakan bahwa pilihan level produksi bergantung pada posisi harga: ketika harga bagus, produksi seharusnya dimaksimalkan, sementara saat harga rendah, produksi perlu dikendalikan. “Bisa lebih rendah (produksinya), bisa lebih tinggi. Selama kalau harganya bagus, kalau harga bagus boleh dong lebih tinggi. Tapi kalau harga rendah, masa kita mau produksi banyak,” tegas Bahlil.

Dengan pendekatan itu, pengaturan pasokan melalui RKAB 2027 diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara jumlah nikel yang beredar dan kebutuhan pasar global. Bahlil memosisikan pengendalian produksi sebagai cara praktis untuk memberi ruang pada perbaikan harga, sekaligus menghindari skenario harga yang bisa jatuh lagi.

Secara keseluruhan, pesan utama yang disampaikan Bahlil menempatkan Indonesia sebagai aktor yang dapat mempengaruhi arah harga nikel dunia, bukan sekadar mengikuti pergerakan pasar. Melalui penyesuaian volume produksi yang terukur, pemerintah berupaya memastikan strategi hilirisasi dan keberlanjutan industri berjalan selaras dengan kondisi harga komoditas.

Dengan melihat perbandingan antara konsumsi global yang disebut mencapai 3,5 juta ton dan produksi nikel Indonesia di kisaran 700–800 ribu ton, Bahlil menilai terdapat ruang untuk mengarahkan dinamika pasar melalui kebijakan pasokan. Penyesuaian volume dimaksudkan agar distribusi mineral tidak membuat pasar terasa kelebihan pasokan saat kondisi harga tidak menguntungkan.

Ia juga mengaitkan arah kebijakan dengan rujukan harga yang masih rendah, sebagaimana disebutnya bersumber dari data Trading Economics yang menempatkan harga nikel sekitar Rp15.482 per ton pada periode berjalan. Dalam kerangka itu, pengendalian dilakukan melalui RKAB 2027, dengan langkah menekan produksi ketika harga berada pada level lemah agar tren penurunan tidak kembali terjadi.

Menurut Bahlil, mekanismenya tidak hanya satu arah, melainkan dapat mengikuti sinyal pasar. Ketika harga dinilai membaik, produksi dapat diarahkan untuk lebih optimal, sementara pada saat harga rendah, perusahaan diarahkan untuk tidak mempertahankan volume berlebih sehingga keseimbangan pasokan tetap selaras dengan kebutuhan pasar global.