jurnalistik.co.id – Musim dingin di Inggris dinilai akan membawa beban baru bagi rumah tangga karena harga gas berpotensi kembali naik, seiring Eropa berupaya mengisi cadangan gas alam sebelum cuaca memburuk. Pemerintah dan pelaku industri menilai stok yang ada saat ini lebih rendah dari kondisi normal, sehingga tekanan ke tagihan energi bisa bertambah.
Di pasar internasional, harga gas alam grosir disebut sudah berada di level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa baik konsumen maupun pelaku usaha akan menghadapi tagihan yang lebih tinggi pada bulan-bulan mendatang.
Alasan utama yang mengemuka adalah keterlambatan penimbunan stok musim panas oleh sejumlah negara Eropa. Mereka dinilai “berjudi” dengan asumsi konflik yang memicu biaya grosir tinggi akan mereda sebelum musim dingin, padahal persiapan penyimpanan justru tertahan.
Bahkan, tingkat penyimpanan gas disebut berada jauh di bawah standar untuk waktu yang sama. Negara-negara kini berada pada pilihan untuk bergegas membeli gas atau menerima kemungkinan harga yang lebih mahal ketika musim dingin datang.
Patokan harga gas alam di Eropa dilaporkan melampaui €75/MWh pada Rabu, menjadi yang tertinggi sejak akhir 2022. Untuk pasar Inggris, harga gas alam pada pekan ini juga sempat menembus 185p per therm, level tertinggi sejak akhir 2022.
Kenaikan harga tersebut terjadi ketika tensi kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah analis khawatir eskalasi yang berulang akan membuat Selat Hormuz tetap tertutup lebih lama, sehingga distribusi energi dan rantai pasokan bisa makin terganggu.
Selat Hormuz diketahui menjadi jalur yang sangat penting: sekitar “a fifth of the world’s oil and liquefied natural gas (LNG) is transported through the waterway”. Bila akses di jalur itu melambat, pasar energi cenderung bereaksi melalui kenaikan harga gas.
Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas senior di Capital Economics, menyampaikan bahwa ia tidak mengharapkan jalur tersebut mulai dibuka kembali sebelum awal 2027. Menurutnya, sekalipun jalur akhirnya dibuka, tetap ada jeda sebelum aliran energi berjalan lancar dan tekanan pada harga mulai mereda.
“The risks to gas prices are definitely tilted towards the upside,” ujar Hussain kepada BBC. Ia juga memperingatkan bahwa harga gas bisa menembus €80 pada akhir tahun ini.
Dalam penilaiannya, Hussain mengingat percakapan dengan operator penyimpanan gas pada awal pecahnya perang AS–Israel di Iran. Ia mengatakan pihak terkait bersedia menunggu tiga sampai empat bulan untuk melihat krisis mereda sebelum melakukan pengisian stok.
Namun, ia menekankan bahwa skenario itu tidak berjalan sesuai harapan: “We are about six months into the strait being effectively closed and that obviously has not happened,” tambahnya. Pernyataan tersebut menegaskan adanya penundaan yang lebih panjang dari perkiraan awal.
Harga gas grosir yang lebih tinggi kemudian “mengalir” ke tagihan rumah tangga melalui mekanisme penetapan price cap oleh regulator Ofgem. Dengan kata lain, kenaikan di level pasar dapat berujung pada kenaikan biaya energi yang harus dibayar konsumen.
Di Inggris, price cap energi naik pada Juli dan akan meningkat lagi sebesar 4% pada Oktober. Akibatnya, rumah tangga “typical household” diperkirakan membayar £1,723.
Meski demikian, proyeksi konsultan energi Cornwall Insight menyebutkan bahwa harga energi domestik bisa naik lagi hingga 9% pada tahun depan. Proyeksi itu membuat kekhawatiran muncul lebih kuat terutama karena bulan-bulan terdingin biasanya menjadi periode paling berat bagi kebutuhan energi rumah tangga.
Dr Craig Lowrey, konsultan utama di Cornwall Insight, menyampaikan kepada BBC bahwa kenaikan baru pada harga grosir akan “increase pressure on our January price cap forecast”. Ia juga mengingatkan bahwa masih ada ruang perbaikan karena penurunan di harga grosir berpotensi meringankan tekanan.
Berita Terkait
“plenty of time to go,” katanya, seraya menegaskan bahwa jika harga grosir melemah, beban pada ramalan price cap Januari dapat berkurang.
Pemerintah melalui Departemen for Energy Security and Net Zero (DESNZ) menyatakan bahwa harga gas ditentukan oleh pasar internasional. Keterangan ini sekaligus menanggapi kritik yang menyoroti rendahnya stok gas milik Inggris.
Chris O’Shea, bos pemilik British Gas, Centrica, berulang kali meminta dukungan pemerintah agar kapasitas fasilitas Rough di Laut Utara dapat diperluas. Ia memperingatkan bahwa mengisi fasilitas itu tidak lagi layak secara ekonomi dan lokasi tersebut akan ditutup tahun depan tanpa kesepakatan.
Dalam pernyataannya di LinkedIn, O’Shea menegaskan, “We have almost no gas in storage in the UK for the coming winter and this is a huge concern as energy security is national security”. Pernyataan tersebut menempatkan isu cadangan energi sebagai bagian dari keamanan nasional.
Seorang juru bicara DESNZ menyatakan bahwa kementerian masih terbuka untuk membahas usulan pengelolaan cadangan gas di berbagai situs, asalkan skenarionya memberikan “value for money for taxpayers”.
Selain itu, departemen juga merujuk pada komitmen Perdana Menteri Andy Burnham untuk memangkas PPN (VAT) dari tagihan energi mulai Oktober. Pemerintah juga menyebut adanya langkah untuk mengurangi ketergantungan Inggris terhadap gas alam.
Ángel Talavera, ekonom Eropa utama di Oxford Economics, menggambarkan situasi ini dengan “a glass half full, and a glass half empty”. Menurutnya, di satu sisi harga gas grosir jauh lebih rendah dibanding masa krisis setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Namun di sisi lain, rumah tangga dan bisnis tetap kemungkinan menghadapi tagihan energi yang jauh lebih tinggi dari biasanya selama beberapa bulan ke depan. Ia menegaskan bahwa dampaknya serius, tetapi tidak sampai pada skenario terburuk tanpa perubahan kondisi.
Talavera mengatakan kepada BBC, “It’s serious, but not catastrophic,” lalu menambahkan, “something would have to dramatically change to lower prices”. Pernyataan ini menekankan bahwa penurunan harga akan memerlukan perubahan yang signifikan.
Ia juga mengaitkan pergeseran permintaan dengan kemajuan energi terbarukan. “reduction in demand for natural gas in general” disebut terjadi karena dorongan menuju sumber energi baru, tetapi gambaran akhirnya sangat ditentukan oleh cuaca musim dingin yang akan terjadi.
Talavera menyampaikan, “If you have a warmer winter than average, that will be great for demand”. Namun, ia memperingatkan bahwa musim dingin yang lebih dingin dari rata-rata akan menghasilkan efek kebalikan: “driving up demand for energy and pushing up prices”.
Ia juga menambahkan bahwa belum jelas bagaimana El Niño yang sedang berkembang di Samudra Pasifik akan memengaruhi musim dingin Inggris. Sebagai rujukan, “the Big Freeze of winter 2009-10” saat itu merupakan musim dingin terdingin dalam tiga dekade, dan kondisi tersebut kebetulan bertepatan dengan El Niño.
Namun Talavera juga mengingatkan bahwa musim El Niño lain pada 2006-07 justru berlangsung tidak semestinya hangat. Karena itu, hubungan El Niño dengan cuaca tidak bisa dipastikan secara langsung untuk setiap tahun.
Menurutnya, harga gas bisa turun jika cuaca membantu menekan permintaan dan Selat Hormuz dibuka lebih cepat dari perkiraan. Tetapi saat ini, “the weather machine remains our main hope”, ujarnya.
Di luar faktor energi, laporan juga menyebut lonjakan biaya pinjaman pemerintah Inggris sempat mereda. Setelah kenaikan tajam pada Selasa yang membawa imbal hasil obligasi 10-tahun (gilt) ke level tertinggi sejak 2008, imbal hasil turun sedikit pada Kamis.
Walau demikian, imbal hasil masih berada di sekitar 5,15%. Angka tersebut tetap merepresentasikan puncak setelah 2008, meskipun sempat terangkat lebih tinggi pada kenaikan di hari Selasa.












