Bisnis & Ekonomi

Rupiah di Rp18.183 per US$ Jadi Rekor Terendah, BI Sebut Ini Penyebabnya

×

Rupiah di Rp18.183 per US$ Jadi Rekor Terendah, BI Sebut Ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Rp18.183/US$ Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Ini Kata BI - Market

jurnalistik.co.id – Pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), rupiah berada di level Rp18.183 per US$. Nilai tukar ini menjadi gambaran pelemahan yang menuai perhatian, sekaligus memantik penjelasan dari Bank Indonesia.

Bank Indonesia merespons pergerakan rupiah terhadap dolar AS tersebut dengan menyoroti sejumlah faktor yang bekerja bersamaan. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan dinamika mata uang di kawasan juga masih dipengaruhi oleh ketidakpastian terkait penyelesaian konflik Timur Tengah.

Menurut Erwin, kondisi itu ikut mendorong harga minyak tetap tinggi. Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Rabu (28/10/2026), ia menyebut, “Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat,” kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2026).

Erwin menambahkan, memburuknya sentimen risk-off turut memperkuat dolar AS. Pada saat yang sama, ia menilai kondisi tersebut juga berkaitan dengan terjadinya arus keluar dana dari pasar negara berkembang.

Penjelasan BI juga menautkan tekanan nilai tukar pada pergerakan imbal hasil obligasi. Ia menyatakan situasi ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil atau yield obligasi, yang secara umum berpengaruh pada preferensi investor serta aliran modal lintas negara.

Dari domestik, BI juga menyoroti tekanan yang datang dari sentimen pasar saham Indonesia. Erwin menyebut kekhawatiran terkait potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana.

Selain faktor sentimen tersebut, kebutuhan valas di dalam negeri disebut ikut memperbesar tekanan pada rupiah. Erwin menilai kebutuhan valuta asing yang meningkat menjelang akhir bulan menambah beban terhadap pasar.

Dengan demikian, BI memandang pelemahan rupiah bukan hanya bersumber dari satu penyebab tunggal. Pergerakan nilai tukar pada hari itu mencerminkan kombinasi faktor eksternal—ketidakpastian konflik Timur Tengah dan dampaknya pada harga minyak serta ekspektasi suku bunga AS—serta faktor internal terkait kondisi pasar domestik dan kebutuhan valas.

Dalam rangkaian penjelasan itu, fokus BI berada pada bagaimana perubahan ekspektasi dan arus modal dapat memengaruhi kurs. Dari sisi pasar, investor kemudian mengamati apakah tekanan yang bersumber dari risk-off, kenaikan yield, hingga kekhawatiran MSCI serta peningkatan kebutuhan valas akan mereda atau justru berlanjut pada periode berikutnya.

Dalam kerangka penjelasan BI, pelemahan rupiah pada perdagangan tersebut ditempatkan sebagai hasil dari saling terhubungnya sentimen global dan posisi pelaku pasar. Ketika ketidakpastian di Timur Tengah masih membayangi, reaksi pasar biasanya ikut mengarah pada pola risk-off yang kemudian terlihat melalui penguatan dolar AS serta kecenderungan melemahkan mata uang negara berkembang.

BI juga mengaitkan dinamika kurs dengan pergerakan instrumen pendapatan tetap. Saat imbal hasil obligasi meningkat, hal itu dapat memengaruhi preferensi investor dan cara mereka menilai daya tarik aset, yang pada akhirnya berimbas pada aliran modal lintas negara. Dengan kata lain, tekanan kurs tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan seiring perubahan ekspektasi pasar terhadap imbal hasil.

Di sisi domestik, BI menyoroti bahwa pasar saham ikut memberi tekanan pada rupiah melalui sentimen yang berkembang. Kekhawatiran akan potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI disebut menjadi pemicu turunnya minat terhadap aset, sehingga arus dana dapat menjadi lebih berhati-hati. Kondisi ini memperkuat gambaran bahwa persepsi risiko di dalam negeri turut membentuk arah pergerakan nilai tukar.

Selain sentimen pasar, kebutuhan valuta asing yang meningkat menjelang akhir bulan dipandang menambah tekanan terhadap rupiah. Kebutuhan tersebut membuat permintaan valas cenderung lebih kuat pada periode tertentu, sehingga kurs menjadi lebih rentan terhadap guncangan. BI kemudian menekankan bahwa kombinasi faktor eksternal dan internal tersebut akan terus dicermati pelaku pasar, terutama apakah tekanan yang berasal dari risk-off, kenaikan yield, kekhawatiran MSCI, dan kebutuhan valas dapat mereda atau berlanjut pada waktu berikutnya.