Bisnis & Ekonomi

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.132 per US$

×

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.132 per US$

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.132/US$ - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah menutup perdagangan dengan penguatan tipis sebesar 0,28% ke level Rp18.132 per US$. Di tengah perubahan sentimen global, pergerakan mata uang Asia berlangsung beragam namun cenderung mengarah ke penguatan pada sebagian besar pasangan.

Sore ini, pasar merespons meredanya sentimen eksternal setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) menahan suku bunga acuannya. Kondisi tersebut dinilai memberi ruang bagi mata uang kawasan untuk menguat, termasuk rupiah.

Penguatan rupiah terjadi seiring pergerakan beberapa mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, dolar Singapura, serta yuan offshore ikut bergerak menguat pada perdagangan hari Kamis, (29/10/2026).

Namun, tidak semua mata uang searah. Dolar Taiwan melemah cukup tajam, disusul rupee India yang melemah terbatas, bersama baht Thailand, dolar Hong Kong, dan yen Jepang yang juga bergerak turun.

Selain faktor dari luar, penguatan rupiah juga ditopang oleh dinamika di pasar surat utang domestik. Terjadi penurunan yield pada sebagian tenor yang biasanya mencerminkan adanya aksi beli di pasar obligasi.

Di segmen tenor pendek, yield 1 tahun turun 5,2 basis poin (bps) menjadi 6,91%. Pada tenor 1, yield dengan durasi lebih panjang sekitar 1 (yang disebut dalam data sebagai 1,4 bps) bergerak turun ke 7,01% seiring pembelian yang menguat.

Untuk tenor 5 tahun, yield turun 5,3 bps menjadi 7,5%. Sementara itu, pada tenor 8 dan 9 tahun penurunannya lebih terbatas, masing-masing turun 0,5 bps ke 7,64% dan 0,9 bps ke 7,64%.

Pergerakan juga terlihat pada surat utang RI berdenominasi dolar AS. Tenor 2 tahun turun 3,3 bps menjadi 5,09%, sedangkan tenor 10 tahun melemah lebih dalam dengan penurunan 1,5 bps ke 6,03%.

Meskipun yield bergerak turun, indikator risiko kredit justru tetap terjaga pada level yang sama. Credit Default Swap (CDS) masih bertahan di angka 104,2 pada akhir perdagangan.

Di sisi global, arah pasar obligasi domestik turut selaras dengan pergerakan surat utang internasional. Yield US Treasury bergerak turun hingga berada di bawah 5%, tepatnya 4,9%.

Perlambatan yield juga terlihat pada sejumlah pasar besar lainnya. Yield obligasi Jepang ikut turun ke 2,8%, sementara Australia mencatat penurunan sebesar 3,9 bps ke level 5,16%.

Selandia Baru mengalami penurunan yield sebesar 6 bps menjadi 4,85%. Korea Selatan juga bergerak lebih rendah dengan penurunan 5,1 bps ke 4,07%, sedangkan China turun 0,8 bps hingga berada di 1,6%.

Dengan latar perubahan yield baik di pasar domestik maupun global, pasar kemudian mengunci penutupan perdagangan pada penguatan rupiah. Korelasi pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa arus pasar yang berkembang tidak hanya datang dari ekspektasi terhadap kebijakan AS, tetapi juga tercermin melalui pergerakan instrumen pendapatan tetap.

Secara keseluruhan, penguatan rupiah ke Rp18.132 per US$ dibangun oleh kombinasi meredanya sentimen eksternal pasca penahanan suku bunga AS dan membaiknya kondisi di pasar obligasi yang ditandai penurunan yield pada beberapa tenor. Walau demikian, kestabilan CDS pada 104,2 mengindikasikan bahwa faktor risiko kredit tidak ikut bergeser secara berarti pada periode yang sama.

Di tengah respons tersebut, pelaku pasar juga menyoroti keterkaitan antara pergerakan valas dan instrumen pendapatan tetap. Ketika yield di berbagai tenor menunjukkan penurunan, minat yang menguat pada obligasi turut mendukung sentimen terhadap mata uang, termasuk rupiah, meski dinamika lintas negara tidak bergerak seragam.

Meski demikian, perbedaan arah tetap terlihat pada beberapa pasangan mata uang yang melemah, seperti dolar Taiwan serta sejumlah mata uang lain yang turun dalam sesi yang sama. Di saat yang berbarengan, pasar tetap menjaga fokus pada indikator risiko kredit, tercermin dari CDS yang bertahan di 104,2, sehingga penurunan yield lebih dipahami sebagai dorongan harga dari aksi beli obligasi ketimbang pergeseran persepsi risiko.