Bisnis & Ekonomi

Rupiah Kembali Melemah, Valas Asia Turut Terpuruk

×

Rupiah Kembali Melemah, Valas Asia Turut Terpuruk

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Kembali Tertekan, Mata Uang Asia Berguguran - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah melanjutkan pelemahan pada perdagangan siang hari, di tengah tekanan yang ikut menyeret sejumlah mata uang Asia.

Pada Senin (14/9/2026) pukul 13.30 WIB, rupiah terdepresiasi 0,25% menjadi Rp17.644/US$.

Pergerakan tersebut terjadi seiring menguatnya kembali harga minyak, yang kembali melewati level US$100 per barel dan memunculkan kekhawatiran baru terhadap risiko inflasi global.

Di Asia, baht Thailand melemah paling dalam, lalu disusul yen Jepang, dolar Taiwan, rupiah, serta peso Filipina.

Sementara itu, dolar Singapura dan ringgit Malaysia tercatat melemah namun dengan penurunan yang lebih terbatas dibanding mata uang lainnya.

Di antara mata uang yang bergerak, yuan menunjukkan sikap yang cenderung defensif, meski penguatannya tidak terlalu besar.

Lonjakan harga minyak memberi dampak berantai terhadap kebutuhan mata uang dolar di kawasan. Sebagai importir energi, negara-negara Asia menghadapi konsekuensi bahwa biaya impor meningkat dan kebutuhan pembiayaan dalam dolar ikut bertambah.

Kondisi ini pada akhirnya membuat pertahanan mata uang kawasan menjadi lebih rapuh, karena tekanan terhadap permintaan dolar bisa mengurangi ruang penyesuaian di pasar keuangan.

Harga minyak yang tetap tinggi juga memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama, sehingga kebijakan moneter dan fiskal berpotensi menghadapi tantangan yang lebih berat.

Bagi pembuat kebijakan di kawasan, situasi tersebut berangkat dari kebutuhan untuk menyiapkan bantalan bagi rumah tangga maupun dunia usaha. Target utamanya adalah membantu kelompok yang pendapatannya telah tergerus oleh dampak inflasi.

Namun, ketika biaya impor energi meningkat, ruang fiskal negara-negara dapat ikut tertekan. Tekanan ini membuat upaya memberi dukungan menjadi lebih sulit dilakukan tanpa menambah beban kebijakan.

Dalam konteks tersebut, pelemahan mata uang Asia tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan cara pasar merespons kombinasi kenaikan minyak dan kekhawatiran inflasi.

Minyak di atas US$100 per barel jadi pemicu utama

Pemicunya datang dari kenaikan harga minyak yang kembali berada di atas US$100 per barel. Perubahan level tersebut cukup untuk menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi global, yang kemudian memengaruhi ekspektasi pasar terhadap nilai tukar.

Ketika prospek inflasi ikut membayang, pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati. Aliran dana dan strategi lindung nilai dapat bergeser, sehingga tekanan pada mata uang yang lebih rentan terhadap biaya impor cenderung meningkat.

Pada saat yang sama, kebutuhan dolar untuk membiayai impor energi menjadi faktor yang membuat mata uang Asia lebih sulit bertahan pada level yang sama.

Karena itu, pelemahan seperti yang tercermin pada rupiah dan mata uang lain di kawasan dipahami sebagai respons terhadap kondisi eksternal yang sama, yaitu minyak yang mahal dan kekhawatiran inflasi.

Di tengah dinamika tersebut, perbedaan kedalaman pelemahan antar mata uang juga menunjukkan bahwa respons tiap negara tidak sepenuhnya identik, meski sumber tekanannya berasal dari arah yang relatif serupa.

Perdagangan hari ini pun memperlihatkan bahwa rupiah masih berada dalam jalur penyesuaian, sementara sejumlah mata uang Asia lainnya turut bergerak searah.

Data perdagangan mencerminkan bahwa pelemahan rupiah berlangsung di tengah konsolidasi kondisi makro kawasan, ketika pelaku pasar menilai ulang dampak biaya energi terhadap jalur inflasi.

Seiring minyak bertahan pada level tinggi, perhatian pasar bergeser ke kebutuhan devisa untuk pembayaran impor, sehingga permintaan mata uang dolar di beberapa negara Asia menjadi lebih sulit ditekan.

Tekanan itu turut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar mengenai ruang kebijakan, karena tantangan inflasi dapat membuat langkah moneter dan dukungan fiskal tidak lagi sefleksibel sebelumnya.

Perbedaan respons antar mata uang—mulai dari pelemahan terdalam pada baht hingga pergerakan yang lebih terkendali pada dolar Singapura dan ringgit Malaysia—menunjukkan bahwa sensitivitas tiap ekonomi terhadap kombinasi minyak mahal dan kekhawatiran inflasi tidak sepenuhnya sama.