Bisnis & Ekonomi

Rupiah Tembus Di Atas Rp18.100/US$, IHSG Turun 1%

×

Rupiah Tembus Di Atas Rp18.100/US$, IHSG Turun 1%

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah di atas Rp18.100/US$, IHSG Terpeleset 1% - Market

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus di atas Rp18.100/US$, diikuti tekanan yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada perdagangan Senin (26/10/2026).

Pada hari itu, IHSG turun 1% atau terkoreksi 54,28 poin menjadi 5.384 pada penutupan perdagangan Sesi I. Pergerakan tersebut membuat indeks komposit berada di posisi kedua terlemah di Asia.

Perubahan arah pasar terlihat dari dominasi aktivitas jual sepanjang sesi. Sentimen rupiah yang makin lemah menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan indeks, sejalan dengan pelemahan nilai tukar yang sudah menembus ambang Rp18.100/US$.

Aktivitas perdagangan Sesi I

Transaksi selama pagi hingga siang hari terpantau cukup ramai, dengan nilai mencapai Rp7,59 triliun. Di saat yang sama, volume perdagangan berada pada level 18,57 miliar saham.

Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,14 juta kali. Rentang pergerakan IHSG juga terlihat jelas, yakni berada pada level tertinggi 5.453 dan terendah 5.349.

Dalam komposisi pergerakan saham, pasar menunjukkan kecenderungan melemah yang lebih dominan dibandingkan penguatan. Tercatat 189 saham menguat, sementara 474 saham melemah dan 128 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Perbandingan dengan bursa Asia

Di kawasan Asia, KOSPI (Korea Selatan) menjadi indeks saham yang mengalami koreksi paling dalam pada siang hari dengan penurunan mencapai 1,31%. IHSG berada tepat di belakangnya, sehingga posisinya turut mencerminkan tekanan yang meluas di bursa-bursa regional.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan beriringan dengan sentimen pasar yang lebih risk-off di berbagai tempat. IHSG yang turun 1% pada sesi awal juga menegaskan bahwa aktivitas perdagangan masih berada di bawah tekanan.

Dengan penutupan Sesi I di angka 5.384, arah pergerakan indeks relatif konsisten dengan dominasi transaksi jual yang lebih menonjol. Angka tertinggi 5.453 dan titik terendah 5.349 menunjukkan volatilitas intrahari yang tetap diwarnai upaya distribusi, sebelum akhirnya pasar kembali melemah.

Implikasi ke struktur pergerakan saham

Dominasi jumlah saham yang melemah dibanding yang menguat menjadi salah satu indikator paling mudah dibaca dari kondisi pasar saat itu. Saat 474 saham terkoreksi berbanding 189 saham yang menguat, komposisi tersebut menggambarkan preferensi pelaku pasar yang cenderung menahan kenaikan dan memilih posisi jual.

Frekuensi transaksi yang mencapai 1,14 juta kali juga menandakan bahwa keputusan pelaku pasar berlangsung intens. Aktivitas yang ramai ini tidak hanya terjadi pada satu arah, tetapi tetap mengarah pada penutupan Sesi I yang lebih rendah.

Jika dilihat dari rentang pergerakan, koreksi IHSG dari posisi tinggi menuju level terendah memberi gambaran bahwa tekanan muncul lebih kuat setelah pasar mencoba bertahan pada area yang lebih tinggi. Pada akhirnya, angka 5.384 menjadi cerminan akumulasi tekanan tersebut hingga akhir sesi.

Rupiah dan arah pasar

Di tengah dinamika tersebut, rupiah yang menembus di atas Rp18.100/US$ menjadi penanda penting yang ikut memengaruhi sentimen. Pelemahan nilai tukar tersebut selaras dengan terkoreksinya IHSG pada penutupan Sesi I.

Dengan penurunan 54,28 poin, IHSG bergerak di bawah bayang-bayang tekanan yang datang dari pergerakan mata uang. Kondisi ini sekaligus menegaskan hubungan antara pelemahan rupiah dan respons pasar modal domestik pada sesi berjalan.

Secara keseluruhan, perdagangan Senin (26/10/2026) memperlihatkan pasar yang lebih condong melemah: IHSG turun 1% menjadi 5.384, transaksi mencapai Rp7,59 triliun dengan volume 18,57 miliar saham, dan mayoritas saham bergerak ke zona merah. Di level regional, KOSPI terkoreksi lebih dalam, sementara IHSG mencatat posisi kedua terlemah di Asia.