Bisnis & Ekonomi

Survei BI: Kenaikan Harga Rumah Tipis, Penjualan Belum Pulih

×

Survei BI: Kenaikan Harga Rumah Tipis, Penjualan Belum Pulih

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Survei BI: Harga Rumah Naik Tipis, Penjualan Belum Pulih

jurnalistik.co.id – Kenaikan harga rumah pada kuartal II 2026 masih berlanjut, namun tidak lagi menampilkan momentum yang terasa “booming”. Pada saat yang sama, perbaikan mulai terlihat dari sisi permintaan, tetapi penjualan rumah belum benar-benar keluar dari fase kontraksi.

Gambaran tersebut tercermin dalam Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) Triwulan II 2026. Dari hasil survei, pasar perumahan sedang bergerak memasuki fase yang lebih beragam: harga tetap naik, tetapi laju kenaikannya terbatas, sementara pemulihan penjualan berjalan tidak secepat ekspektasi.

Dalam laporan survei, dinamika kenaikan harga tidak hanya soal arah, melainkan juga kecepatan dan sebaran di berbagai segmen rumah. Artinya, tantangan sektor perumahan saat ini tidak berhenti pada harga yang terus bergerak naik, melainkan terkait dengan daya beli masyarakat, biaya pembangunan, hingga akses pembiayaan yang ikut membentuk perilaku konsumen dan pelaku pasar.

Harga naik tipis pada kuartal II 2026

Di kuartal II 2026, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tercatat sebesar 110,89. Indeks itu tumbuh 0,69 persen secara tahunan (year on year/yoy), atau sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2026 yang berada di level pertumbuhan 0,62 persen.

Kendati demikian, pola kenaikan tersebut tetap menunjukkan karakter yang terukur. Kenaikan harga yang terjadi lebih banyak memperlihatkan peningkatan bertahap, bukan akselerasi yang signifikan. Kondisi ini memperkuat kesan bahwa pasar harga tidak sedang berada dalam fase lonjakan yang kuat.

Jika dilihat dari pergerakan antar-kuartal (quarter to quarter/qtq), IHPR juga menunjukkan kenaikan sebesar 0,26 persen. Angka ini lebih tinggi daripada kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 0,04 persen, namun tetap mencerminkan laju kenaikan yang tidak sepenuhnya agresif.

Selain itu, survei memperlihatkan bahwa rumah besar menjadi penggerak utama kenaikan harga pada kuartal II 2026. Dengan demikian, dorongan kenaikan tidak merata di semua kategori, melainkan terkonsentrasi pada segmen tertentu.

Segmen rumah besar menopang kenaikan, rumah kecil melambat

Dari sisi jenis rumah, indeks harga rumah tipe besar tumbuh 0,68 persen (yoy) pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih berada di angka 0,50 persen.

Sementara itu, rumah tipe kecil justru menunjukkan perlambatan pertumbuhan harga. Pada kuartal II 2026, pertumbuhannya berada di level 0,49 persen, turun dari 0,61 persen pada kuartal sebelumnya. Sinyal ini menunjukkan bahwa tekanan kenaikan harga pada segmen yang lebih kecil tidak sekuat pada periode sebelumnya.

Untuk rumah tipe menengah, pergerakannya relatif stabil jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Perbedaan karakter antar-segmen ini mengindikasikan bahwa perbaikan pada pasar perumahan tidak berlangsung seragam; sebagian segmen masih memiliki ruang kenaikan harga, sedangkan segmen lain bergerak lebih terbatas.

Dalam hitungan qtq, IHPR ditopang oleh peningkatan harga rumah tipe menengah dan rumah tipe besar. Sebaliknya, harga rumah kecil mengalami kontraksi tipis sebesar 0,02 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Dengan demikian, pada dimensi antar-kuartal terlihat adanya pergeseran yang cukup jelas: kenaikan datang dari menengah dan besar, sementara kecil masih menghadapi tekanan.

Penjualan belum pulih penuh

Meski harga rumah terus meningkat, survei menegaskan bahwa kondisi tersebut belum diikuti pemulihan yang menyeluruh pada sisi permintaan. Perbaikan penjualan memang mulai tampak dibandingkan awal tahun, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah kondisi permintaan yang masih berada dalam zona kontraksi.

Temuan ini menegaskan bahwa pasar perumahan tidak hanya ditentukan oleh pergerakan harga. Ketika kenaikan harga tidak dibarengi daya beli yang memadai, proses pembelian cenderung tertahan dan membuat penjualan berjalan lebih lambat. Faktor seperti kemampuan konsumen menghadapi biaya kepemilikan, ketersediaan pembiayaan, serta biaya pembangunan turut berpengaruh terhadap keputusan pembeli.

Dengan pola tersebut, kuartal II 2026 dapat dibaca sebagai periode transisi: harga rumah naik, tetapi tidak menimbulkan kesan lonjakan yang kuat; sementara penjualan bergerak membaik, namun pemulihannya belum sepenuhnya nyata. Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika pasar perumahan saat ini lebih kompleks, karena pergerakan harga dan penjualan belum sepenuhnya sinkron.