jurnalistik.co.id – Di Indonesia, perbincangan soal total utang yang mencapai ribuan triliun kerap jadi perhatian publik. Namun gambaran itu belum tentu utuh, karena di sejumlah negara lain beban utang juga jauh lebih tinggi di tingkat rumah tangga.
Secara umum, utang dalam konteks ekonomi tidak otomatis berbahaya. Yang menentukan lebih dekat adalah bagaimana utang tersebut dibandingkan dengan kemampuan ekonomi, terutama melalui rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ukuran kesehatan utang biasanya dilihat dari perbandingan dengan PDB, bukan semata jumlah nominalnya. Di Indonesia, acuan batas aman rasio utang terhadap PDB ditetapkan maksimal 60% melalui Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003.
Sementara itu, banyak negara maju justru mencatat rasio utang terhadap PDB berada di atas 100%, bahkan dapat melampaui 200%. Meski demikian, beban utang di negara-negara tersebut cenderung relatif stabil karena mereka menggunakan skema anggaran defisit untuk membiayai pembangunan jangka panjang.
Meski rasio utang negara bisa tetap terkendali, beban utang di level rumah tangga di beberapa negara maju ternyata sangat besar. Nilainya bahkan dapat mencapai ratusan ribu dolar Amerika Serikat (AS) per orang.
Merujuk pada data Bank for International Settlements (BIS) terkait Credit to the Non-Financial Sector serta UN World Population Prospects, Visual Capitalist menempatkan Swiss sebagai negara dengan utang rumah tangga per kapita terbesar pada kuartal I-2026. Di periode tersebut, utang rumah tangga per orang Swiss tercatat sebesar US$153.138 atau sekitar Rp2,7 miliar dengan asumsi kurs Rp18.120/US$.
Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan Amerika Serikat (AS), yang mencatat utang rumah tangga per kapita sebesar US$60.103 atau setara Rp1,09 miliar. Perbedaan ini menunjukkan bahwa besaran utang rumah tangga dapat sangat dipengaruhi struktur pembiayaan dan karakter kepemilikan aset di tiap negara.
Namun, tingginya utang rumah tangga tidak selalu berarti kondisi keuangan masyarakat sedang bermasalah. Di banyak negara maju, utang yang besar sering berkaitan dengan harga rumah yang mahal, dominannya pinjaman hipotek jangka panjang, serta akses kredit yang luas.
Berita Terkait
Swiss menonjol jauh di atas negara lain dalam daftar tersebut. Bahkan jika dibandingkan dengan sesama negara kaya, beban utang rumah tangganya tergolong sangat tinggi. Salah satu faktor yang disebut berperan kuat adalah sistem hipotek di Swiss, termasuk insentif pajak dan praktik pemberian pinjaman yang mendorong pemilik rumah mempertahankan utang hipotek lebih lama, alih-alih melunasi lebih cepat.
Di bawah Swiss, terdapat Norwegia dengan utang rumah tangga per kapita sebesar US$88.108. Berikutnya Australia (US$83.473), Belanda (US$69.724), dan Denmark (US$65.957). Pola ini memperlihatkan bahwa konsentrasi utang rumah tangga yang tinggi tidak hanya terjadi pada satu negara, melainkan juga pada beberapa ekonomi maju dengan karakter pasar properti yang berbeda.
Menariknya, enam dari 10 negara dengan utang rumah tangga per kapita terbesar berada di Eropa. Negara-negara tersebut adalah Swiss, Norwegia, Belanda, Denmark, Swedia, dan Inggris. Di luar Eropa, beberapa negara dengan pasar properti yang cenderung panas juga masuk daftar, seperti AS dan Kanada.
Amerika Serikat mencatat utang rumah tangga per kapita sebesar US$60.103, sedangkan Kanada mencapai US$58.021. Meski demikian, AS memiliki profil yang berbeda dibanding Swiss dari sisi utang pemerintah. Di AS, utang pemerintah sekitar 44% dari total pendapatan per kapita sebesar US$224.000, sementara di Swiss hanya sekitar 9%.
Perbedaan komposisi ini menegaskan bahwa suatu negara bisa menampilkan pola pinjaman yang tidak sama antar-jenis utang. Dengan kata lain, besaran utang rumah tangga dan dominasi utang pemerintah tidak selalu bergerak dalam arah yang serupa.
Kenaikan harga rumah di berbagai negara membuat utang rumah tangga semakin menjadi bagian penting dalam ekonomi modern. Dari satu sisi, utang yang tinggi dapat mencerminkan kepemilikan aset, akses kredit yang luas, serta pasar properti yang kuat.
Namun di sisi lain, beban utang yang besar juga membuat rumah tangga lebih rentan terhadap perubahan kondisi makro. Ketika suku bunga naik, pertumbuhan melambat, atau harga properti mengalami penurunan, rumah tangga dengan utang besar biasanya lebih cepat merasakan tekanan.
Dengan demikian, utang rumah tangga yang tinggi tidak otomatis identik dengan krisis. Tetapi ketika nominal utang makin besar, sensitivitas terhadap gejolak ekonomi juga cenderung meningkat, sehingga ruang “buffer” rumah tangga menjadi lebih sempit.












