jurnalistik.co.id – Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) belakangan ikut disorot setelah muncul kabar yang menyebut bos Jhonlin Group, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, tengah membidik akuisisi bank yang terkait keluarga Hartono. Dalam konteks itu, pelaku pasar kemudian menimbang ulang ukuran valuasi BBCA berdasarkan metrik yang umum dipakai investor.
Menurut tim riset yang dikutip dalam laporan Bloomberg Technoz, pada 1 Oktober 2026 BBCA diperdagangkan dengan Price to Book Value (PBV) sebesar 2,8x. Sementara itu, rasio Price to Earnings Ratio (PER) mencapai 12,5x, dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) tercatat Rp748,89 triliun.
Di pasar, harga saham BBCA pada periode rujukan disebut berada di level Rp6.075 per saham. Kombinasi PBV dan PER tersebut menjadi dasar untuk menilai bagaimana ekspektasi pasar terhadap kinerja dan prospek emiten dibandingkan kelompok sejenisnya.
BBCA dinilai berada di atas rata-rata sektor dari sisi PBV
Jika BBCA dibandingkan dengan sejumlah bank di sektor yang sama di Bursa Efek Indonesia (BEI) berdasarkan PBV, gambaran yang muncul adalah adanya perbedaan jarak valuasi. Bank Permata Tbk (BNLI) disebut memiliki PBV 1,5x, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga tercatat 1,5x.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berada pada PBV 1,3x. Sementara itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) masing-masing disebut berada pada PBV 0,8x.
Masih pada perbandingan PBV, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) tercatat 0,6x. PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk (BJBR), dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) masing-masing tercatat 0,5x.
Untuk kelompok berikutnya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) disebut memiliki PBV 0,4x, begitu juga PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) yang tercatat 0,4x. Dengan demikian, metrik PBV BBCA yang berada di 2,8x menempatkannya pada posisi yang lebih tinggi dibanding mayoritas bank pembanding di daftar tersebut.
Berita Terkait
Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa dari sisi PBV, valuasi BBCA tergolong premium bila dibandingkan emiten di sektornya. Penilaian premium ini berkaitan langsung dengan perbedaan angka PBV yang cukup lebar antara BBCA dan sebagian besar rekan industri.
Struktur kepemilikan dan posisi pengendali
Selain valuasi, laporan itu juga menyoroti komposisi kepemilikan BBCA pada 1 Oktober 2026. Pemegang saham mayoritas sekaligus pengendali BBCA adalah PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan holding investasi milik Keluarga Hartono.
Porsi kepemilikan Dwimuria Investama Andalan disebut mencapai 54,94% atau setara dengan 67.729.950.000 lembar saham. Angka porsi ini menjadi penanda penting dalam membaca dampak rumor aksi korporasi, karena menentukan siapa yang berada pada posisi strategis atas perubahan kepemilikan.
Di luar pengendali, sejumlah institusi juga tercatat memiliki kepemilikan di bawah 5%. Fidelity Management and Research Co disebut memiliki 2,88% atau sebanyak 3.544.665.931 lembar saham.
Vanguard Group Inc juga dicantumkan dengan porsi kepemilikan 2,81% atau 3.462.892.837 saham. Sementara itu, Blackrock Inc disebut memiliki kepemilikan 1,71% atau 2.104.006.947 saham.
Dengan konsentrasi kepemilikan di pengendali yang relatif besar, dinamika rumor akuisisi biasanya dibaca lewat kombinasi antara level valuasi (PBV dan PER) serta struktur kepemilikan. Dalam kerangka itulah, BBCA diposisikan sebagai emiten dengan valuasi premium dari sisi PBV, di tengah pertanyaan pasar seputar rencana yang disebut-sebut melibatkan Haji Isam.
Catatan valuasi seperti PBV 2,8x dan PER 12,5x, yang dipadukan dengan market cap Rp748,89 triliun pada harga Rp6.075 per saham, menjadi rujukan cepat bagi trader maupun investor untuk menilai seberapa “mahal” atau seberapa “lebih tinggi” BBCA dibanding bank-bank pembanding. Pada saat isu akuisi bergulir, metrik tersebut sering menjadi titik awal perhitungan risiko dan ekspektasi pasar.






