jurnalistik.co.id – Raja Charles menyoroti kedekatan hubungan Inggris–AS yang ia sebut berakar pada persahabatan, saat kedua negara memasuki perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.
Ia mengaitkan momen tersebut dengan dokumen Declaration of Independence yang ditandatangani pada 1776. Deklarasi itu menjadi dasar berdirinya AS sebagai negara merdeka, terlepas dari pemerintahan kolonial Great Britain, dan perayaannya jatuh pada 4 Juli.
Dalam sebuah pesan kepada Presiden Donald Trump dan warga Amerika, Raja Charles menulis bahwa “through centuries of shared challenge and achievement” kedua negara telah membangun “trust and a belief in liberty, the rule of law and the dignity of all people”. Ia juga menambahkan, “as we look ahead to the next 250 years, I have no doubt we will continue to defend our shared values”.
Charles menegaskan pula bahwa, “The connection between our people is one that I trust will only grow stronger with time.” Pernyataan itu menggarisbawahi pilihan bahasa yang menempatkan hubungan kedua belah pihak sebagai sesuatu yang terus berkembang lintas generasi, bukan sekadar sambutan seremonial sesaat.
Perayaan di Washington DC menjadi sorotan hari ini, terutama karena Trump dijadwalkan hadir dalam rangkaian agenda perayaan. Acara tersebut mencakup penerbangan formasi yang melibatkan “hundreds of aircraft” serta penampilan pertunjukan kembang api.
Pertunjukan kembang api Fourth of July di Washington DC merupakan tradisi tahunan. Trump juga telah berjanji bahwa edisi tahun ini—yang dijadwalkan mulai setelah sambutannya—akan menjadi “the largest fireworks show in history”.
Kegiatan perayaan juga berlangsung di sejumlah wilayah lain di AS. Di New York, Times Square Ball dijadwalkan turun sebanyak delapan kali untuk menandai tengah malam pada setiap zona waktu di AS.
Berita Terkait
Sementara itu, di Philadelphia—kota yang menjadi lokasi penandatanganan Declaration of Independence pada 250 tahun lalu—akan ada konser perayaan. Konser tersebut menampilkan sejumlah bintang, termasuk Christina Aguilera dan Meek Mill.
Pada bulan Mei, Raja dan Ratu Camilla melakukan kunjungan kenegaraan ke AS. Ini juga dicatat sebagai kunjungan kenegaraan Inggris pertama ke negara tersebut sejak kunjungan Ratu Elizabeth II pada 2007.
Rangkaian acara kunjungan itu berlangsung di tengah suasana politik yang tegang. Hal ini muncul setelah pemerintah Inggris memutuskan untuk tidak ikut terlibat dalam perang di Iran.
Dalam kesempatan terpisah, Raja Charles menyampaikan pidato di hadapan Kongres AS. Ia menyerukan agar para pembuat kebijakan AS “defend Ukraine” dan “support Nato”.
Seorang penasehat senior kerajaan menggambarkan hubungan Raja Charles dan Camilla dengan pihak AS selama kunjungan tersebut. Ia menyatakan, “They get on very well… It’s a pairing, sort of unlikely though it might be in many ways…”, lalu menambahkan, “I mean, given some of the issues that have presented themselves in the bilateral relationship, you’d think it might all be a bit tricky.”
Di sisi lain, penilaian Trump dinilai tegas. Trump mengatakan, “The greatest king in my book.” Pernyataan itu melengkapi narasi bahwa hubungan personal dan komunikasi tingkat tinggi ikut menjadi bagian dari cara kedua pihak merayakan tonggak 250 tahun kemerdekaan AS.
Selama lawatan ke Washington DC, Charles didampingi oleh Camilla dan keduanya bertemu Trump serta First Lady Melania. Pertemuan itu memberi konteks langsung terhadap pesan yang disampaikan Charles kepada Presiden dan warga Amerika, sekaligus menegaskan bahwa perayaan kali ini juga dibingkai sebagai kelanjutan hubungan yang telah berjalan lama.












