jurnalistik.co.id – Arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali meningkat dan menembus lebih dari 10 juta barrel per hari. Kenaikan volume itu dinilai Amerika Serikat (AS) memperlihatkan bahwa kemampuan Iran untuk mengganggu lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut kian terbatas.
Penilaian itu muncul di tengah lonjakan pengangkutan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Menurut AS, tren ini berkaitan dengan perubahan dinamika keamanan di kawasan, termasuk setelah kesepakatan damai sementara antara Presiden AS Donald Trump dan Iran.
Dari laporan yang dikutip AS, peningkatan arus minyak sejalan dengan langkah-langkah yang mendorong perusahaan pelayaran kembali melintasi Selat Hormuz. Pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa dukungan militer Washington telah menaikkan kepercayaan pelayaran untuk beroperasi di wilayah itu.
Dalam periode konflik sebelumnya, Iran sempat memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tekanan. Praktiknya, penghambatan arus pelayaran membuat sejumlah pihak lebih berhati-hati ketika memilih rute perdagangan.
Namun, ketika konflik berjalan dan cadangan minyak mentah mulai menyusut, harga energi ikut melonjak. Situasi tersebut menjadi faktor yang ikut mendorong Trump menerima gencatan senjata serta membuka jalur negosiasi.
Meski begitu, sebelum gencatan senjata benar-benar tercapai, AS telah menyiapkan upaya untuk menekan pengaruh Iran di perairan tersebut. Komando Pusat AS, US Central Command (CENTCOM), disebut mengoordinasikan dukungan pertahanan berlapis.
Dukungan itu mencakup pengerahan kekuatan udara dan angkatan laut. Dengan pengaturan tersebut, kapal-kapal komersial dinilai merasa lebih aman ketika melintasi bagian selatan Selat Hormuz yang berada dekat wilayah Oman.
Pejabat AS menyebut perkembangan ini mengejutkan Teheran. Alasannya, kondisi yang terjadi menunjukkan keterbatasan Iran dalam menghentikan atau mengganggu arus pelayaran secara efektif.
Dalam beberapa waktu terakhir, perkembangan tersebut juga disebut memicu serangkaian serangan di sekitar selat. AS memandang upaya itu sebagai bagian dari upaya Iran untuk kembali menunjukkan pengaruhnya di jalur tersebut.
Selat Hormuz jadi isu utama perundingan AS–Iran
Kebebasan pelayaran di Selat Hormuz menjadi salah satu agenda utama dalam perundingan tidak langsung antara AS dan Iran yang berlangsung di Qatar. Dalam pembahasan tersebut, delegasi AS dipimpin oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Selain isu pelayaran, pembahasan juga mencakup masa depan program nuklir Iran. Dengan kata lain, perundingan tidak hanya menyentuh dimensi maritim, tetapi juga menyangkut isu keamanan yang lebih luas.
Menurut pejabat AS, Washington mendorong Iran untuk mematuhi ketentuan maritim yang termuat dalam nota kesepahaman yang telah disepakati. AS juga disebut menyiapkan rencana perjanjian jangka panjang untuk menjamin kebebasan pelayaran komersial.
Selama masa negosiasi 60 hari, kapal-kapal diberi izin untuk melintas tanpa dikenakan biaya. Setelah periode perundingan tersebut berakhir, status aturan tersebut masih menjadi bahan pembahasan, dan belum menjadi keputusan final.
Dalam konteks itulah AS menilai tren arus minyak yang kembali meningkat memiliki bobot politis dan operasional. Peningkatan hingga lebih dari 10 juta barrel per hari dipakai untuk menunjukkan bahwa jalur pelayaran tetap berjalan dengan volume tinggi.
Bagi AS, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa pengaruh Iran di Selat Hormuz tidak lagi berada pada posisi yang sama seperti pada fase konflik sebelumnya. Sementara itu, bagi Iran, tantangan baru yang muncul dari penguatan pertahanan AS turut menjelaskan mengapa upaya untuk menegaskan pengaruh masih terus dicoba melalui berbagai tindakan di sekitar selat.
Perkembangan arus minyak dan dinamika keamanan ini pun tetap terkait dengan proses negosiasi yang sedang berjalan. Selama kesepakatan yang mengatur kebebasan pelayaran belum sepenuhnya disepakati untuk tahap berikutnya, setiap perubahan di lapangan berpotensi memengaruhi keputusan para pelaku industri dan arah pembahasan di meja runding.
Dengan demikian, Selat Hormuz terus menjadi perhatian utama dalam hubungan AS dan Iran, baik dari sisi pergerakan perdagangan minyak maupun dari sisi kepastian aturan maritim. Dalam pandangan AS, peningkatan volume pengiriman mencerminkan adanya batas baru bagi kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran komersial di jalur itu.












